Home Opini Bebaskan Kota Tangsel Dari E COLI 

Bebaskan Kota Tangsel Dari E COLI 

0
SHARE

Pergerakan pertumbuhan penduduk di wilayah Kota Tangerang Selatan dapat menunjukan angka yang cukup signifikan terhitung dari sejak berdirinya Kota Tangerang Selatan 2008 sampai dengan saat ini, hal ini juga menunjukan adanya pergerakan pembangunan inprastruktur disektor property yang ada saat ini dapat kita rasakan sangat luar biasa.Pada tahun 2007 jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan berjumlah 1.051.374 (Satu Juta Lima Puluh Satu Ribu Tiga Ratus Tujuh Puluh Empat) jiwa saat ini pertumbuhan penduduk untuk wilayah Kota Tangerang Selatan telah mencapai angka 1.492.999 (Satu Juta Empat Ratus Sembilan Puluh Dua Ribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan) jiwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)​ tahun 2014 hal ini dapat dibuktikan bahwa tumbuh dan berkembang melalui urbanisasi cukup tinggi, urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota dan urbanisasi dapat menimbulkan masalah yang cukup serius bagi kita semua mengingat persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota hal ini akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan yang ada diwilayah Kota Tangerang Selatan.
Jumlah peningkatan dan perkembangan penduduk kota Tangerang Selatan yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan daya dukung daya tampung (carryingcapacity) wilayah serta jumlah lapangan pekerjaan baru, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
​Berbeda dengan perspektif ilmu kependudukan, definisi urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan.perpindahan manusia dari desa ke kota hanya salah satu penyebab urbanisasi. perpindahan itu sendiri dikategorikan 2 macam, yakni migrasi penduduk dan mobilitas penduduk. Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk tinggal menetap di kota, sedangkan mobilitas penduduk berarti perpindahan penduduk yang hanya bersifat sementara saja atau tidak menetap.
Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa, seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan, informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain sebagainya.
Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong, memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik.Di bawah ini adalah beberapa atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.
a. Faktor Menarik. :
1. Kehidupan masyarakat perkotaan yang lebih moderrn
2. Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
4. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas
b. Faktor Pendorong
1. Lahan pertanian semakin sempit
2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5. Diusir dari desa asal
6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya dan lain sebagainya
c. Keuntungan Urbanisasi
1. Memoderenisasikan warga desa
2. Menambah pengetahuan warga desa
3. Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
4. Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa.
d. Akibat Urbanisasi
1. Terbentuknya suburb tempat-tempat pemukiman baru dipinggiran kota
2. Makin meningkatnya tuna karya (orang – orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap)
3. Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
4. Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial dan kriminal
Jika diukur dari besaran jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan saat ini sudah menunjukan angka diatas 1.492.999 (Satu Juta Empat Ratus Sembilan Puluh Dua Ribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu)juta jiwa hal ini sudah dapat dipastikan bahwa Kota Tangerang selatan dapat dikatagorikan sebagai kota metro politan
Daerah Kota Tangerang Selatan adalah merupakan daerah yang paling diuntungkan dari berbagai hal mengingat Kota Tangerang Selatan di dukung dua jalan bebas hambatan (Tol) Bintaro, Tol Kebon Jeruk, transportasi public Kereta Api Jakarta Serpong, Kereta Rangkas Jakarta dan sekaligus merupakan penyangga ibu Kota Jakarta.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas pesatnya pertumbuhan penduduk harus didukung dengan daya dukung dan daya tampung atau kebutuhan ruang sehingga Kota Tangerang Selatan tidak terkesan menjadi daerah atau kota yang kumuh (shanty town).
Daerah Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah yang menjadi incaran para pengembang (targetdevelopers) dimana Kota Tangerang Selatan adalah kota yang paling strategis untuk berbisnis property, seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan property tersebut masih banyak para pengembang yang membangun Septic tank dengan system kompesional sehingga lambat laun dapat mencemarkan air tanah bebas (polluteground waterfree).
Sumur dan septic tank dikomplek perumahaan pada umumnya jaraknya sangat berdekatan bahkan ada yang kurang dari 9 (Sembilan meter) serta air tanah bebas atau air tanah dangkal masih merupakan idola bagi kebutuhan hidup sehari – hari masyarakat mengingat sampai dengan saat ini Pemerintah Kota Taangerang Selatan belum sepenuhnya menyediakan air minum sesuai dengan standar Departemen Kesehatan Republik Indoensia.

Akibat dari tercemarnya air tanah tersebut dapat diperkirakan akan menimbulkan kesehatan masyarakat menjadi terganggu akibat dari bakteri E. COLI (ECHERICHIA COLI).
Gejala yang ditimbulkan dari bakteriE. COLI(ECHERICHIA COLI)menurut para akhli kesehatan gejala penyakit ini berupa sakit perut seperti kram dan diare pada sebagian kasus bahkan dapat mengeluarkan diare berdarah (haemorrhagic colitis) juga dapat timbul demam dan muntah -mutah dan selanjutnya penderita agar segera kosultasikan kepada akhlinya dokter yang membidangnya dan dibawa ke poliklinik atau rumah sakit terdekat.

Menurut data Kementrian Kesehatan, wabah penyakit ini sebenarnya mulai terjadi di Jerman pada pertengahan Mei 2011. Sampai 2 Juni 2011, Jerman menemukan 520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) dengan 11 kematian. Terdapat 1.213 kasus enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC), 6 diantaranya meninggal.Artinya, di Jerman terdapat 1.733 kasus dan 17 kematian.
Dalam rangka upaya untuk mengantisipasi dan menyebarnya wabah bakteri E. COLI (ECHERICHIA COLI) tersebutsetiap bangunan perumahan dan yang lainnya harusmembangunseptic tank berteknologi baik Bio Teknologis (Biofikal) dimasukan kedalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangerang Selatandan Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Dan Retribusi Izin Mendirikan Bangunan sehingga outletnya air kotornya sudah netral (clean) baru dapat dibuang kesaluran beban penerima
Dari hasil pemantauan kami pada tahun 2011 -2012 banyak mobil truk lumpur tinja yang berkeliaran diwilayah hukum Kota Tangerang Selatan lebih kurang sebanyak 24 unit mobil milik daerah tetangga dan swasta serta yang sangat menghawatirkan truk tanki lumpur tinja tersebut ada yang membuang lumurnya dibadan kali pesanggrahan dan kali angke.
Pada kesempatan yang baik ini dalam rangka upaya mengantisipasi terjadinya penyebaran bakateriE. COLI(ECHERICHIA COLI)tersebut sudah sepatutnya Pemerintah Kota Tangerang Selatan memilki Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) mengingat Kota Tangerang Selatan merupakan kota pemukiman.

Sehubungan dengan hal itu ada beberapa pendapat para akhli dibidang kesehatan dan sanitasi mengatakan setiap hari manusia mengeluarkan kotoran diperkirakan mencapai 250 gram, selanjutnya jika volume lumpur tinja di Kota Tangerang Selatan dihitung secara benar dapat menghasilkan lumpur tinja sebagai berikut. :

250 gram/org x 30 hari x 12 bulan x 1. 4929.000 jiwa
___________________________________________ = 134.370 Ton pertahun
1000
Hal ini baru sebatas lumpur tinja yang ada dilingkungan pemukiman atau perumahan, sedangkan untuk kawasan Central Business District (CBD), perhotelan, apartemen, pusat perbelanjaan/mall dan lain sebagainya.Perlu dilakukan penghitungan sesuai dengan intensitasnya.
Berkenaan dengan hal itu lumpur tinja yang telah dilakukan proses dengan menggunakan Sistem kombinasi pengolahan secara aerobik dan anaerobic, Teknologinya terbarukan
Yangcanggih terdiri dari digester, sludge stabilization, buffle reactor dan anaerobic filter dan lumpur tinja dapat diberikan subsidi bagi para petani disekitar wilayah Kota Tangerang selatan.
​Pupuk yang dihasilkan dari lumpur tinja dapat menghasilkan pupuk yang lebih baik dan raamah lingkungan ketimbang para petani menggunakan pupuk terbuat dari bahan kimia
​​Terkait dengan apa yang telah diuraikan diatas sudah barang tentu hal ini akan menimbulkan warna baru dalam menggali potensi pendapat asli Daerah Kota Tangerang Selatan dari sector Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), oleh karena itu kami sangat berharap Pemerintah Daerah Kota Tangerang Selatan di tahun yang akan dating dapat membangun Instalasi Pengolahaan Lumur Tinja (IPLT) dan uni-unit mobil truk tinja tersebut tidak lagi membuanglumupur tinja dengan cara sebarangan dan masyarakat Kota Tangerang Selatan diharapkan tidak lagi tercemar bakteri E. COLI (ECHERICHIA COLI). Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here