Home Berita Alumni ITB Gelar Seminar Bencana Hidrometeorologi

Alumni ITB Gelar Seminar Bencana Hidrometeorologi

0

Apa itu bencana hidrometeorologi? Mungkin istilah ini masih asing di telinga masyarakat umum. Bencana hidrometeolorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi seperti banjir, kekeringan, badai, dan longsor. Di Indonesia, frekuensi kejadian bencana hidrometeorologi termasuk tinggi dan menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pemerintah dan masyarakat.

Pada tahun 2017, terjadi 2.341 kali bencana hidrometeorologi, 92 % dari jumlah bencana yang terjadi di Indonesia. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menyusul fenomena perubahan iklim dan peningkatan kejadian cuaca ekstrem.

Kerugian akibat bencana sepanjang 2017 ditaksir mencapai Rp 30 Triliun. Selain itu, sedikitnya 377 orang dilaporkan meninggal dan hilang, 1.005 orang luka-luka dan 3.494.319 orang mengungsi dan menderita.

Bencana hidrometeorologi tersebut memiliki dampak yang besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk mendukung hal tersebut, perlu dilakukan pengembangan teknologi monitoring dan prediksi kebencanaan hidrometeorologi, penyusunan tata ruang yang sesuai tingkat kerentanan bencana, dan kampanye untuk peningkatan pemahaman dampak dan pengurangan risiko bencana.

Saat ini pemerintah dan lembaga penelitian telah mengembangkan berbagai kajian maupun produk yang diterapkan di berbagai daerah rentan bencana hidrometeorologi. Namun, apakah masyarakat ikut dilibatkan dalam peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi?

Menyadari pentingnya wawasan dan informasi terkait dengan upaya peningkatan kesiapsiagaan akan bencana hidrometeorologi di Indonesia, alumni Geofisika dan Meteorologi ITB angkatan 1988 yang tergabung dalam Solidaritas ITB ‘88 menyelenggarakan acara seminar bertajuk “Waspada Bencana Hidrometeorologi : Kita Bisa Siaga!” pada Rabu, 25 April 2018 di Gedung II BPPT, Jakarta.

Acara ini merupakan acara Alumni ITB dari rangkaian kegiatan “Road to 30 Years ITB 88” sekaligus memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang jatuh pada 26 April 2018.Seminar dibuka dengan sambutan Ketua Solidaritas ITB ’88 dan Ketua Ikatan Alumni ITB. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh pembicara utama, Dr Armi Susandi. Ia memulai pemaparannya dengan data dan proyeksi peningkatan temperatur dunia hingga 2.100 sebagai gambaran bahwa frekuensi bencana hidrometeorologi akan terus meningkat di masa mendatang.

“Kondisi ini perlu segera diantisipasi melalui dukungan teknologi prediksi potensi kebencanaan yang presisi dan akurat,” kata Dr Armi.

Riset yang dilakukan Dr Armi, telah berhasil mengemas teknologi prediksi potensi kebencanaan ke dalam sistem informasi yang dapat diakses semua kalangan dan dilengkapi dengan aksi dan adaptasi dini yang tepat. Sejumlah sistem yang telah dihasilkan oleh Armi seperti MHEWS, FEWEAS Bengawan Solo dan Citarum, hingga SICA kini telah diuji di lapangan dan mendapatkan respon positif dari pemerintah dan masyarakat.

Armi menuturkan, inovasi teknologi di bidang prediksi kebencanaan akan semakin dibutuhkan seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dan dampak perubahan iklim. Hal inilah yang akan menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus mengembangkan teknologi-teknologi tepat guna yang dapat memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi.

“Kita perlu memanfaatkan peluang-peluang yang semakin terbuka, seperti perkembangan prasarana teknologi komputasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dukungan data yang semakin lengkap dan presisi,” ujar Armi.

Pemaparan yang disampaikan oleh Dr Armi tersebut, kemudian ditanggapi oleh sejumlah narasumber. Empat narasumber yang hadir adalah Nelly Florida Riama (Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG), Christian H Siboro (Presiden Direktur PT Netika Indonesia), Permana Sari (Anggota DPR RI/MPR RI), dan Dr Albert Sulaiman (Ahli Model Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam BPPT).

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Nelly Florida Riama, menyampaikan bahwa BMKG sebagai badan pemerintah yang memiliki kewajiban untuk menyediakan layanan informasi mengenai cuaca, iklim, dan kegempaan, terus berupaya membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana terkait Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG).

Secara khusus, kata Nelly, bencana hidrometeorologis, dengan memberikan edukasi kepada masyarakat diantaranya untuk penggiat dan relawan bencana, petani serta nelayan, melalui berbagai program kolaborasi dan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah menjadi penting dalam menghadapi bencana.

“Di satu sisi, masyarakat harus memiliki kesadaran dan dipersiapkan agar mampu menghadapi bencana dengan siaga. Di sisi lain, para ahli dan petugas dengan kualifikasi yang baik dan jumlah yang cukup perlu disebar secara proporsional di daerah rawan bencana,” ucap Nelly.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Netika Indonesia Christian H Siboro, menyoroti perlunya akselerator antara pemerintah dan masyarakat, misalnya media. Belajar dari pengalaman negara-negara yang sudah mapan dalam kesiapsiagaan bencana seperti Amerika Serikat dan Jepang, media perlu secara intensif menyampaikan prakiraan cuaca dan prediksi bencana kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan pun seharusnya tidak hanya terpaku pada informasi suhu dan kemungkinan hujan, melainkan juga prediksi bencana yang bermanfaat bagi sektor transportasi, pertanian, dan industri.

“Lebih baik lagi kalau bisa dibuat dalam bentuk aplikasi sesuai kebutuhan industri, pertanian, transportasi, dan bidang-bidang lainnya,” tutur Christian.

Dalam diskusi tersebut, Dr. Albert Sulaiman dari BPPT juga turut menyampaikan inovasi yang sedang dikembangkan BRG dan BPPT. Menurutnya, BRG-BPPT saat ini telah membuat sistem monitoring tinggi muka air lahan gambut secara real time. Sistem ini akan menjadi Early Warning System untuk kebakaran lahan gambut, sekaligus mendukung tata kelola sumberdaya air gambut, dan monitoring kegiatan restorasi yang meliputi rewetting dan revegetasi.

“Sistem tersebut dilengkapi dengan alat yang dapat dioperasikan dalam sistem android. Alat ini bermanfaat untuk tata kelola air di lahan gambut termasuk monitoring potensi kebakaran lahan gambut terutama di musim kering,” tutup Dr Albert Sulaiman. (MRZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here