Home Berita Tangsel, Kota Wisata Halal. Mungkinkah?

Tangsel, Kota Wisata Halal. Mungkinkah?

0

Oleh: Arif Wahyudi, Ketua FORBEST (Forum Bersama Tangsel)

November ini Tangsel genap sepuluh tahun. Perubahan yang terjadi cukup banyak. Maklum, dana pembangunan yang tersedia melompat dari kisaran Rp 200 M ke kisaran Rp 3,5 T.

Fisik kota semakin permai. Jalanan, bangunan, hingga taman-teman tersedia yang dilengkapi pusat jajan di berbagai sudutnya. Mall, hotel, restoran hingga gedung pertemuan muncul mengisi ruang kota yang sebelumnya kosong.

Di periode keduanya, Bu Walikota mengarahkan Tangsel menjadi Kota MICE (meeting, incentive, converence, and exhibition). Sebuah kota tempat berlangsungnya aneka pertemuan mulai dari pemerintahan, bisnis, sosial, politik dalam berbagai tingkatannya. Pertemuan level internasional pun beberapa kali digelar di Tangsel. Tak pelak, pilihannya menjadi kota MICE membuat Tangsel menjadi Kota Wisata.

Di sisi lain, Tangsel semakin memantabkan diri menjadi Kota Cemor (cerdas, modern, relijius). Di hampir semua swa-foto warga Tangsel, simbol ibu jari dan telunjuk yg membentuk huruf C seolah sudah menjadi menu wajib. Simbol yg mengexpresikan cita-cita para pendiri kota untuk menjadikan warganya cerdas, kotanya modern, dalam bingkai relijiusitas.

Bagaimana mendamaikan tamu-tamu yang mendatangi Kota Tangsel dalam agenda MICE dengan komitmen CEMOR (khususnya komitmen untuk bersama menjaga relijiusitas). Sebagaimana dipahami, sebagian tamu mungkin mempunyai kebiasaan dan permintaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai relijiusitas.

Ide Tangsel Kota Wisata Halal tentu akan direspons berbagai pendapat. Namun komitmen untuk menjaga dan membangun relijiusitas kota ini penting untuk terus diperkuat. (*)