Home Berita Buku Bekas Tetap Eksis di Tengah Era Digital

Buku Bekas Tetap Eksis di Tengah Era Digital

0

Meski era digital sudah banyak menggantikan peranan barang-barang konvensional, tidak menyurutkan niat Fajarudin Hutagalung (66) atau lebih akrab disapa Bang Galung untuk tetap eksis menjual buku bekas yang digelutinya dari tahun 1990 hingga sekarang.

Lapak yang berada di jalan Ciujung, kecamatan Karawaci, Kota Tangerang tersebut menyajikan buku-buku pelajaran dari tingkat SD sampai perkuliahan , majalah dan koran, serta beberapa novel dan komik yang semuanya barang lawas.

Tidak pernah sekalipun ia berfikir untuk beralih ke dagangan lain meski jaman semakin maju dan akan berdampak bagi penjualannya.

“Selama saya masih sehat, saya akan terus berjulan buku-buku bekas ini,” ungkap Fajarudin, Rabu (5/12/2018)

Baginya ini jalan dari Allah SWT untuknya, sehingga masalah pelanggan dan kendala-kendala lainnya ia serahkan kembali kepada Allah SWT.

“Saya tidak ambil pusing masalah ramainya pelanggan, yang penting ada rejeki untuk kehidupan saya, itu sudah cukup,” ujarnya.

Ia menceritakan, lapaknya pernah digusur pada tahun 2006 oleh pihak kecamatan, karena lapaknya berada di atas tanah fasos/fasum.

“Waktu itu sempet digusur sama pak camat karena pak SBY mau kesini, Soalnya kan ini sebenernya tanah milik pemerintah,” ungkapnya.

Tapi perjuangnya tidak berhenti sampai disitu. Setelah sebulan digusur, ia memberanikan diri untuk meminta ijin ke kecamatan untuk kembali mendirikan lapaknya tersebut.

“Saya coba lagi datang ke kecamatan buat minta ijin langsung ke pak camat. Akhirnya pak camat ngasih ijin ke saya, pak camat juga bilang untuk dibangun yang bagus, yang rapih,” lanjutnya.

Ia mengatakan, ijin yang didapatnya ini berkat bantuan juga dari masyarakat sekitar yang merasakan manfaat dari keberadaan lapaknya tersebut.

“Mungkin pak camat kasih ijin ke saya karena bantuan dari masyarakat, LSM atau wartawan juga, soalnya ini kan ada kaitannya sama pendidikan juga,” terangnya.

Menurutnya, ia senang menjalankan profesi ini. Karena untuk membeli buku baru harganya cukup mahal, jadi buku-buku bekas ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin membeli buku.

“Pernah ada salah satu pelanggan saya yang kembali datang kesini dan berterimakasih, sebab dari buku yang dia beli disini bisa membantu dia mengerjakan skripsi dan lulus sarjana,” tuturnya.

Buku yang dijualnya pun terbilang murah yaitu kisaran seribu sampai tiga puluh ribu rupiah, dan lapaknya buka dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, setiap harinya.

Tumpukan buku-buku tua dilapaknya itu menjadi saksi bisu perjalanan hidup Fajarudin untuk berkontribusi bagi masyarakat lewat buku-buku bekas yang dijualnya. (Amd)