Home Home Keberkahan Ramadhan dalam Bingkai Ekonomi Kreatif

Keberkahan Ramadhan dalam Bingkai Ekonomi Kreatif

0

Oleh: Indrajit Wicaksana, Mahasiswa Program Studi Magister Sains Agribisnis – Institut Pertanian Bogor.

Tingkat konsumsi masyarakat yang meningkat selama bulan Ramadhan menjadi suatu peluang bagi para pelaku ekonomi di masyarakat khususnya di Indonesia.

Peningkatan konsumsi ini bukan semata-mata didasarkan atas faktor kebutuhan (needs) tetapi lebih kepada meningkatnya faktor keinginan (wants) yang harus dipenuhi dalam rangka euforia menyambut Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Keinginan untuk berbuka dengan variasi menu makanan di setiap harinya, keinginan untuk membeli baju baru sekeluarga, hingga keinginan untuk memiliki gadget, motor, atau bahkan mobil baru. Kondisi ini  menyebabkan penjualan terhadap berbagai komoditas seperti makanan, pakaian, hingga gadget meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat, tidak terkecuali di sektor usaha ekonomi kreatif. Para pelaku usaha ekonomi kreatif memiliki cara tersendiri untuk ikut ambil bagian dalam keberkahan selama bulan Ramadhan.

Ekonomi kreatif saat ini mulai marak berkembang di Indonesia. Istilah ekonomi
kreatif biasa digunakan untuk sektor ekonomi yang mengandalkan ide dan kreatifitas.
Penggunaan istilah ekonomi kreatif itu sendiri mulai dikenal secara global sejak munculnya
buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” oleh John Howkins di
tahun 2001. Howkins (2001) menjelaskan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menghasilkan ide dan bukan semata-mata hanya untuk melakukan kegiatan yang rutin dan berulang-ulang. Bagi para pelaku ekonomi kreatif, ide dan kreatifitas merupakan faktor penentu untuk dapat maju dan berkembang.

Di Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) membagi ekonomi kreatif menjadi 16 sub sektor yang terdiri atas (i) desain komunikasi visual, (ii) desain produk, (iii) fashion, (iv) film, animasi dan video, (v) fotografi, (vi) kriya, (vii) kuliner, (viii) musik, (ix) penerbitan, (x) periklanan, (xi) seni pertunjukan, (xii) seni rupa, (xiii) televisi dan radio, (xiv) aplikasi dan pengembangan permainan, (xv) arsitektur, dan (xvi) desain interior.

Bekrafmencatat kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap ekonomi nasional (PDB) di tahun 2017 sebesar Rp 989,15 triliun atau 7,38% dengan laju pertumbuhan 5,05%. Sektor ini menduduki peringkat keempat terbesar penyerap tenaga kerja yaitu 17,69 juta tenaga kerja atau 14,61% tenaga kerja di tahun 2017. Ekspor ekonomi kreatif juga menyumbang 12,96% terhadap total ekspor Indonesia di tahun yang sama.

Pola perilaku konsumsi di bulan Ramadhan selalu berdampak pada naiknya angka inflasi. Konsumsi terhadap makanan, pakaian, atau hadiah meningkat dibandingkan konsumsi di bulan selain Ramadhan. Jumlah uang yang beredar di masyarakat pun bertambah akibat pemberi kerja secara serentak melakukan pembayaran tunjangan hari raya (THR). Hal ini menjadi daya beli masyarakat meningkat. Peningkatan uang beredar dan pola konsumsi masyarakat inilah yang mendorong naiknya harga-harga. Salah satu contoh yaitu kegiatan buka puasa bersama yang banyak dilakukan masyarakat merupakan bukti naiknya konsumsi makanan di bulan Ramadhan. Tradisi mudik juga menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap jasa transportasi meningkat.

Pada sebagian besar masyarakat pulang kembali ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya Idul Fitri (Lebaran), perputaran ekonomi akan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tradisi lebaran ini memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Penyebaran uang yang beredar ke daerah menjadi meningkat. Wisata budaya dan kuliner daerah menjadi salah satu contoh terbukanya peluang ekonomi yang besar di masa liburan hari raya. Ekonomi kreatif menjadi ladang bagi pengusaha daerah dalam meraup peluang di masa mudik lebaran.

Ekonomi kreatif yang mayoritas muncul dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis budaya dan kreativitas merupakan dampak nyata meningkatnya perekonomian daerah. Ekonomi kreatif menjadi lapangan kerja yang menarik karena memiliki kecenderungan hambatan masuk pasar yang rendah, berbasis budaya, modal awal yang kecil, komunitas yang beragam dan terbuka.

Momentum seperti bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri senantiasa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Belanja masyarakat yang tinggi mendorong konsumsi rumah tangga meningkat dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian daerah. Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri berdampak positif terhadap perekonomian makro daerah. Namun demikian, momentum Ramadhan ini adalah momen musiman yang tidak terjadi sepanjang tahun.

Pelaku ekreatif harus mampu menangkap bulan Ramadhan menjadi peluang untuk meraup keuntungan dan menambah modal usaha. Setelah masa Ramadhan berakhir, masih banyak tantangan dalam pengembangan ekonomi kreatif untuk bisa berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian.

Tantangan yang harus dihadapi seperti akses dan skema pembiayaan yang lebih terbuka,
penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi, dan penguatan sumber daya manusia dalam menguasai sistem digital.

Pada akhirnya secara keseluruhan bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri
memberikan suatu keberkahan dan peningkatan ekonomi di Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi kreatif. Hampir seluruh daerah di Indonesia ikut merasakan dampak positif dari terbukanya peluang ekonomi kreatif selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Hal penting yang kemudian harus diperhatikan adalah upaya dalam mempertahankan dan
meningkatkan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, tidak hanya saat bulan Ramadhan, namun dapat berlangsung secara kontinu di bulan-bulan selain Ramadhan, sehingga ekonomi nasional pun dapat meningkat. (*)