Home Bandara Karantina Pertanian Bandara Soetta Terapkan Metode PCR Deteksi Dini Varian Virus H5N1

Karantina Pertanian Bandara Soetta Terapkan Metode PCR Deteksi Dini Varian Virus H5N1

0

Balai Karantina Pertanian Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menargetkan memperluas ruang lingkup laboratorium karantina hewan pada pengujian Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk deteksi Avian Influenza (AI) atau flu burung.

Hal ini dilakukan menyikapi perkembangan virus H5N1 yang semakin bertambah variannya. Sehingga deteksi cepat (real time) untuk penyakit flu burung pada unggas sangat dibutuhkan.

Kepala Balai Karantina Pertanian Bandara Soetta Imam Djajadi mengatakan, saat ini pihaknya telah memiliki 9 ruang lingkup pengujian yang telah mendapatkan akreditasi ISO 17025.

“Sebelumnya untuk deteksi penyakit AI, karantina Soetta sudah menggunakan metode PCR, namun belum masuk kedalam ruang lingkup akreditasi KAN, karenanya pada kegiataan pelatihan kali lebih mendalami tentang pengujian PCR,” kata Imam, Jumat (26/2/2021).

Dijelaskan Imam, untuk mempertahankan status akreditasi ISO 17025 yang menjadi standar persyaratan kompetensi untuk laboratorium, unit pelaksana teknis karantina pertanian harus disiplin dalam mengembangkan sistem manajemen mutu, baik secara administratif maupun kegiatan teknis.

Salah satunya dengan rutin melaksanakan pelatihan peningkatan kompetensi petugas karantina pertanian di lapangan dan di laboratorium, serta memperluas ruang lingkup pengujian.

“Dalam rangka persiapan akreditasi dan meningkatkan kompetensi, kami melaksanakan In House Training mengenai biologi molekuler, validasi metode, serta persiapan uji banding pengujian PCR) untuk deteksi Avian Influenza,” ajar Imam.

Lebih lanjut Iman menjelaskan, pengujian PCR untuk deteksi AI ini harus masuk dalam ruang lingkup KAN, meskipun selama ini telah dilakukan.

“Tujuannya adalah untuk menjamin data yang dihasilkan dapat diterima oleh dunia perdagangan dan pelaku industri di seluruh dunia tanpa ada keraguan,” tuturnya.

Penegas Akhir Pemeriksaan

Terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menjelaskan sebagai instansi yang berhubungan dengan pemeriksaan penyakit pada produk pertanian baik hewan maupun tumbuhan, seluruh unit pelaksana teknis karantina pertanian seluruhnya memiliki laboratorium pengujian.

“Karantina memiliki 52 unit kerja yang 51 diantaranya merupakan kantor teknis yang dilengkapi laboratorium. Dan semuanya telah memiliki akreditasi ISO 17025. Saya menekankan akreditasi laboratorium mutlak dimiliki, sebagai penjamin mutu pada sertifikat karantina pertanian yang akan dikeluarkan,” ajar Jamil.

Menurut Jamil, laboratorium menjadi penegas dari seluruh rangkaian tindakan karantina pertanian, karena melalui pemeriksaan laboratorium akan diketahui boleh tidaknya produk yang dilalulintaskan.

“Peran baru karantina pertanian yang termuat dalam undang-undang nomor 21 tahun 2019 sebagai pengawas/pengendali kemanan dan mutu pangan dan pakan mengharuskan laboratorium karantina pertanian harus memiliki ruang lingkup yang lebih luas lagi,” tandas Ali Jamil. (Rmt)