Home Berita Tak Hanya Manusia Silver, Ondel-Ondel dan Pengamen Juga Menjadi Sorotan DKTS Tangsel

Tak Hanya Manusia Silver, Ondel-Ondel dan Pengamen Juga Menjadi Sorotan DKTS Tangsel

0

Setelah menanggapi kegiatan manusia silver dari perspektif seni, Samodro, Subdiv Jurnal Akademik Dewan Kesenian Tangsel juga menyoroti icon betawi ondel-ondel yang di jadikan objek komersil dengan mengelilingi permukiman warga.

Di pandang murah oleh segelintir masyarakat, icon budaya Betawi tersebut juga bertumbuh pesat memasuki permukiman warga Tangsel. Kreatifitas yang hanya berbekal musik karya musisi besar Almarhum Benyamin Sueb, gerobak dorong, sound system, hingga ondel-ondel menari di jadikan kegiatan untuk mengamen.

Ia memberikan pandangannya agar icon budaya Betawi tersebut tidak menjadi murahan. Menurutnya, penyajian yang di lakukan oleh beberapa orang dengan cara mengamen keliling kampung di anggap dapat menurunkan nilai.

“Sebenarnya Ondel-ondel adalah seni tradisi yang memiliki nilai dalam budaya Tangsel. Namun dalam penyajian seni pertunjukkan melalui cara mengamen itu akan menurunkan nilai seni tradisi itu sendiri. Coba bayangkan, makanan “gethuk” dari singkong apabila disajikan pada restoran ternama itu nilainya akan lebih tinggi, bila dibandingkan dengan disajikan kaki lima,” terang Samodro melalui sambungan WhatsAppnya (27/8/2021)

Lagi-lagi, pria jebolan fakultas seni rupa Institut Teknologi Bandung yang melanjutkan ke Strata dua (2) di Universitas Gajah Mada bidang ilmu Humaniora fakultas ilmu Budaya tersebut kembali mendorong pemerintah daerah agar kebudayaan Tangsel dapat tumbuh pesat.

“Coba lihat pakaian adat Baduy, nilainya lebih tinggi setelah dikenakan bapak Presiden Joko Widodo. Pemerintah harus mengambil peran dengan membranding ondel-ondel Tangsel dalam kemasan yang lebih baik. Oleh karenanya, disinilah perlu manajemen dan pengelolaan tata kelola melalui DKTS. Dan di lanjutkan oleh pemerintah kota harus membuat perencanaan yang strategis.”ungkap Samodro

Di katakannya, seni pertunjukkan sebenarnya dapat menjadi komoditas ekonomi yang dapat memberikan dampak yang baik pada kemakmuran masyarakat.

“Seharusnya, dalam mensikapi fenomena ondel-ondel, manusia silver dan pengamen, idealnya perlu mencontoh beberapa daerah atau negara yang berhasil mengelola seni pertunjukkan untuk kegiatan ekonomi mereka, sehingga dapat memberi dampak kemakmuran bagi masyarakatnya. Sebagai contoh, seni pertunjukkan di Hawaii ada tarian hula, menangkap ikan dengan tombak dan lainnya menjadi komoditas untuk dipertunjukkan dihadapan wisatawan, ini menjadi bahan penelitian seorang Profesor dari Jogjakarta ,”bebernya

Jika kesenian dan kebudayaan Tangerang Selatan dapat terkelola dengan baik, niscaya hal tersebut dapat menjadi bagian dari seni pertunjukkan yang dikelola pemerintah sehingga mampu menjadi daya tarik wisatawan asing.

“Di Hawai, para pelaku seni pertunjukkan siap saji tersebut adalah para mahasiswa yang mendapat beasiswa dari pemerintah. Sehingga, memang ada ilmu khusus bagi pelaku kesenian,” tambahnya

Selanjutnya, Samodro juga membahas soal permasalahan mengenai kegiatan manusia silver, ondel-ondel dan juga pengamen jalanan. Apakah mereka bisa menjadi daya tarik wisata seperti halnya di Hawaiii atau Bali?

“Ondel-ondel adalah seni tradisi yang unik, untuk menjadi penciri kota Tangsel maka ondel-ondel harus memiliki pembeda dari yang lain. Manusia silver itu mungkin hanya peniru saja, mungkin meniru dari manusia silver dari Kota Tua atau entah dari mana. Saya mengatakan ini profesi yang minim kreatifitas karena lebih banyak meniru. Seni harus memiliki unsur kreatifitas,”ucapnya

Lebih lanjut ia memberi perbandingan terhadap tingkatan pengamen. Menurutnya, pengamen merupakan profesi yang memiliki banyak tingkatannya. Tingkatan tersebut dapat dimulai dari pengamen asal-asalan yang sama sekali tidak ada kreatifitas hingga pengamen yang memiliki kualitas sekaliber Didi Kempot, atau yang lainnya.

“Kuncinya ada di pemerintah daerah. Apabila ketiga hal tersebut tidak dikelola dengan baik maka hanya akan menimbulkan persoalan sosial secara terus menerus. Menangkap mereka untuk dibawa ke panti sosial hanyalah sedikit meredakan persoalan, namun selanjutnya akan muncul kembali,” saran Samodro

Kebutuhan tuntutan perut akan membuat pelaku yang mengatasnamakan seniman tadi cenderung melakukan pertunjukkan yang asal-asalan dan terkesan murahan (kitsch) sehingga menjadi kurang menarik.

Ia menyarankan, seharusnya hal tersebut dikelola pemerintah dalam sebuah wadah pertunjukkan kota yang memiliki kualitas yang baik. Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) dapat menjadi mentor dalam ekspresi pertunjukkan, sehingga dapat tampil tidak murahan dan menjadi semakin berkualitas.

“Manusia silver dan ondel-ondel dapat menjadi pasukan Karnaval seperti halnya di kota Jember. Bukankah kota Tangsel menjadi kota urban dengan segudang banyak event kegiatan memerlukan pasukan karnaval budaya?,” tanya Samodro.

Kemudian, para pengamen jalanan dengan kurasi melalui seniman DKTS dapat tampil dalam Gedung-gedung kesenian yang berbayar. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi solusi, dan pemerintah harus bekerjasama lebih erat dengan lembaga plat merah Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS). (Adt)