Home Berita Le Eminence Puncak Hotel di Luar Ekspetasiku

Le Eminence Puncak Hotel di Luar Ekspetasiku

0

Sepekan berlalu waktu itu (17/1), aku bersama keluarga mulai mengemas sehelai demi sehelai pakaian ke dalam koper box berukuran 60 x 40 cm berwarna pink. Kendaraan mulai kami nyalakan, koper pun telah diletakan dan siap melaju ke dataran tinggi nan sejuk di kota yang sering disebut kota hujan (Bogor).

Sejenak pasti terlintas tujuan itu adalah Puncak. Yups, benar sekali! Tujuan kami ke sana tepatnya ingin mewujudkan ekspetasi yang telah kami bayangkan sepekan sebelum perjalanan itu pada Senin (17/1/2022) dimulai.

Kemanakah itu? Le Eminence Puncak Hotel.

Hotel yang viral di media sosial yang katanya memiliki fasilitas berstandar hotel bintang 5 dengan harga terjangkau, tentu menjadi incaran para keluarga yang ingin merasakan kenyaman berlibur, bersantai ria ataupun menghilangkan penat. Seperti aku dan keluarga.

Perjalanan menuju puncak memang sudah tidak bisa diprediksi kelancarannya dalam berkendara. Tak hanya weekend, kami yang melaju dan menanjak ke arah jalur puncak pada hari kerja (Senin, 17/1/2022) pun tetap merasakan alur panjang kemacetan. Akibatnya, perut pun mulai terasa lapar, akhirnya kami sesekali melipir di sebuah toko ritel bergambar ‘lebah’ untuk menunda rasa lapar yang berlebih.

Kenapa? karena kami ingin sisakan rasa lapar itu untuk menikmati santapan di hotel yang katanya berbintang 5. Memang sedikit sikap yang berlebihan (lebay) tapi inilah keinginan mewujudkan ekspetasi. Oiya, terkecuali anak kami yang pasti kebutuhannya terjamin selama perjalanan.

Tepat di sore menjelang waktu Azan Ashar, kendaraan kami mulai memasuki area Le Eminence Puncak Hotel. Tanpa plang parkir yang menghalangi namun ada lelaki berseragam bak polisi menghampiri jendela kendaraan.

“Sore pak! silakan ini kartu parkirnya,” sapa Security hotel menyambut kami dengan senyum tipis seperti menahan dinginnya hempasan udara luar.

Aku pun mulai menyandarkan kendaraanku tepat di lobby hotel, beruntung masih bisa mendroping (menurunkan) barang-barang dari kendaraan. Padahal tampak sejauh penglihatan di depan kendaraan kami berjejer penuh mobil dari yang standar kelas menengah hingga atas. Meskipun kendaraan yang kami kendarai masih berlevel menengah ke bawah.

Tampak pelayan hotel dengan mendorong troli seperti sangkar burung menghampiri tepat di mana kami menurunkan barang-barang. Dia pun menyapa dan menawarkan pelayanannya.

“Bapak sudah reservasi? bila sudah, biarkan barang-barang ini kami yang antarkan ke kamar,” kata pelayan itu lalu membawa barang-barangku.

Wah…!!! kami pun mulai memasuki pelataran lobby hotel tentunya setelah melalui protokol kesehatan. Ruang tunggu dengan fasilitas ala modern membuat takjub kesan pertama kami. Anakku pun mulai berlari-lari menghampiri pajangan-pajangan musik tradisional, foto both untuk pernikahan hingga kolam air berisi ikan koi pembawa keberuntungan (katanya). Sedangkan suamiku saat itu sedang bertransaksi untuk mendapatkan nomor kamar.

Akhirnya, liburan istimewa di hari kerja dimulai. Kami mendapatkan kamar dengan lantai ke-7 dari ke-18 lantai yang mana cukup jauh dari pelataran lobby. Tapi kami masih beruntung, kamar yang kami nina bobokan berhadapan langsung dengan view pegunungan dan kolam renang.

Amazing! kamar yang aku tempati memang harus diakui memiliki interior yang dapat memanjakan mata. Sedangkan kasur, meja kerja, hingga bathroom (kamar mandi) terasa ingin menginap selamanya. Cobain deh! bukan promosi ya, memang nyaman begitu adanya tanpa direkayasa.

Malam berlalu, tidur pun pulas pun tak terganggu, pagi menunggu saatnya mencoba sarapan pagi di Le Eminence Puncak Hotel yang bermenu-menu.

Pukul 09.00 WIB tepatnya Puncak Bogor, kami bergegas menuju resto karena rasa lapar telah menggangu. Ehmm.. Tapi rasa lapar kami pun harus tertahan sementara waktu karena anakku melirik dan berteriak ‘Plosotannn’. Akhirnya, kami bermain diarena permainan anak yang cukup aman dan nyaman. Tampak malaikat kecilku sangat bahagia menaiki beberapa permainan, hingga aku pun lupa kalau sedang lapar.

Sarapan pun dimulai, seperti biasa aku selalu meneguk segelas air minum sebelum mencicipi aneka menu makanan yang disajikan. Tanpa kata-kata yang lebih dari 3 kata yaitu nikmat, enak dan sedap itu penilaianku. Sambil menikmati sarapan sesekali aku dan keluarga berswafoto menghadap pemandangan pegunungan.

Perut kenyang kami pun berencana ingin berendam di kolam yang tampak kebiruan. Oh tapi sayang, gerimis hujan menggiring kami untuk berendam di bathtub kamar. Lagi-lagi tak kalah serunya, hangat, berbusa dan penuh kecerian terlihat menonjol pada orang-orang kesayangan.

Jendela mulai aku bentangkan ke sisi dinding. Bersyukur terlihat gerimis pun berhenti, kami kembali bergegas keluar untuk menyusuri garden (kebun) tepat di bawah hotel untuk mengabadikan moment bersama. Menariknya, riuh bunyi deburan air sungai yang tampak jernih menerobos batu-batu penghalang, serasa di alam desa yang belum terkontaminasi oleh jahatnya moderenisasi kota. Konsep hotel perpaduan kota dan desa, itu mungkin yang bisa aku sebut.

Waktu mulai menujukan batas berlibur kami. Berat memang melangkah dari rasa kenyamanan. Namun, aku sadar nyaman ini harus berbayar bila aku lanjutkan kecuali pihak Le Eminence yang mengijinkan. Tapi sudahlah, kami akhirnya bebenah merapihkan barang dan menutup pintu kamar.

Ekspetasi di luar batas, apa yang aku pikiran, kenyataan melebihinya. Selamat tinggal Le Eminence, next time aku akan datang lagi.

Oleh : Ikhwal N. Solihah (Mahasiwa S2 UNJANI)