Setiap memperingati hari Pendidikan Nasional ada evaluasi tentang perjalanan pendidikan yang masih tertatih-tatih. Kualitas pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara asia lainnya, banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dibenahi, misalnya sarana pendidikan yang tertinggal, pemerataan sebaran guru di perkotaan dan perdesaan, termasuk kualitas dan kesejahtetaan guru yang perlu ditingkatkan.Kemudian kurikulum yang suka gonta-ganti kebijakan pendidikan yang sering mengejutkan.
Hal ini disampaikan Ketua Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Kabupaten Tangerang Mad Yamin S.Ag. M.Pd.I.
“Indonesia termasuk gagal dalam mengelola guru sehingga pendidikan kita seperti jalan ditempat. Coba saja mereka hari ini menjadi guru, sebagian besar bukan berdasarkan panggilan jiwa, namun lebih kepada kebutuhan penyaluran kerja,” ungkap Mad Yamin, Sabtu (1/5/2021).
Ia menyebut, Lembaga pencetak guru belum berhasil memproduksi guru yang kompeten dan profesional. Baru sebatas memenuhi jumlah kebutuhan guru. Sehingga harapan mencetak siswa yang bermutu jauh dari harapan.
“Pemerintah harus segera mengevalusi sebaran guru di beberap sekolah dan madrasah, jangan terjadi satu sekolah kelebihan guru, sementara sekolah lainnya masih kekurangan,” ucapnya.
Mad Yamin mengungkapkan, buat lembaga pendidikan guru yang kredibel, bermutu dan berdaya saing. Jangan mencetak guru asal-asalan di lembaga yang asal-asalan pula. Bukan sekadar selembar ijazah S1 guru, namun meski diimbangi kemapuan pikir, karakter dan emosi yang matang.
“Saya berharap, pemerintah terus berbenah diri, agar pendidikan indonesia lebih maju dan berdaya saing. Potensi untuk maju sangat terbuka, banyak pakar pendidikan Indonesia yang teorinya diakui internasional, namun belum masih membumi di bangsanya sendiri. Selamat Hari Pendidikan Nasional, “Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar”.(Sam)

