Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) memperketat pengawasan kesehatan menyusul meningkatnya kasus Virus Nipah di sejumlah negara.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Soetta, Naning Nugrahini, mengatakan bahwa potensi penularan di Indonesia tetap ada karena hewan pembawa virus ditemukan di dalam negeri, salah satunya adalah kelelawar.
“Fatality rate (tingkat kematian) Virus Nipah mencapai 40 hingga 70 persen. Gejalanya tidak spesifik, mulai dari flu, pilek, nyeri otot, hingga kasus berat seperti kejang-kejang. Saat ini belum ada vaksin maupun obat khusus. Pengobatan hanya diberikan sesuai gejala yang timbul,” kata Naning kepada wartawan pada Selasa (27/1/2026).
Naning menjelaskan, langkah kewaspadaan BBKK di Bandara Soetta diantaranya adalah deklarasi kesehatan diberlakukan bagi seluruh pelaku perjalanan internasional.
“Melalui deklarasi kesehatan pada All Indonesia, pemantauan tanda dan gejala dengan thermal scanner, observasi visual pada pelaku perjalanan oleh petugas,” ujarnya.
Selain itu lanjutnya, tenaga medis juga disiagakan di kesehatan bandara untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Naning juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap hewan penular. Hewan yang sakit dengan gejala mirip flu harus dihindari. Buah-buahan mentah sebaiknya dicuci bersih dan dikupas sebelum dikonsumsi.
“Jika menemukan buah dengan bekas gigitan kelelawar, jangan dimakan,” tegasnya.
Menurut Naning, hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di pintu masuk Bandara Soetta. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan untuk mencegah kemungkinan penyebaran.
“Sampai saat ini, di pintu masuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta belum ada temuan (kasus),” pungkasnya. (Rmt)

