Indonesia Jadi Sorotan ICAO, AirNav Pamerkan Efisiensi Penerbangan di Langit Kepulauan

By
3 Min Read
Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro tampil sebagai panelis dalam sesi FUA & Free Route Airspace, dengan materi “Sequencing Free Route Operation (FRTO) Across Indonesia’s Archipelagic Airspace” di Markas ICAO di Montreal, Kanada.

Pengalaman Indonesia mengelola lalu lintas penerbangan bebas rute di wilayah kepulauan menarik perhatian komunitas aviasi global.

Dalam forum ICAO Air Navigation World-Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026 di Montreal, Kanada, AirNav Indonesia membagikan penerapan Free Route Operation (FRTO) yang berhasil mendorong efisiensi operasional maskapai sekaligus menekan emisi karbon.

Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, tampil sebagai panelis dalam sesi FUA & Free Route Airspace dengan materi “Sequencing Free Route Operation (FRTO) Across Indonesia’s Archipelagic Airspace”.

Dalam paparannya, Setio menjelaskan bahwa FRTO memberi fleksibilitas lebih besar kepada maskapai dalam menentukan jalur penerbangan sesuai kebutuhan operasional.

“FRTO memberi keleluasaan kepada maskapai untuk memilih lintasan penerbangan berdasarkan kondisi dan kebutuhan operasional. Tantangannya adalah memastikan kebebasan memilih lintasan tersebut tetap didukung sistem, prosedur, dan kompetensi personel yang memadai,” ujar Setio, dalam keterangan resmi, Sabtu (10/10/2026).

AirNav mulai mengembangkan konsep tersebut sejak 2020 saat pandemi COVID-19 menekan volume pergerakan penerbangan secara signifikan.

Menindaklanjuti permintaan International Air Transport Association (IATA), AirNav berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA) untuk menguji konsep User Preferred Route (UPR).

Setelah melewati serangkaian uji coba dan penilaian risiko keselamatan, AirNav menerapkan FRTO secara penuh di FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang sejak 5 Oktober 2023 untuk ruang udara pada ketinggian FL330 hingga FL600.

Penerapan konsep tersebut bukan tantangan ringan. AirNav mengelola ruang udara sekitar 7,79 juta kilometer persegi yang membentang di lebih dari 17.000 pulau serta membutuhkan koordinasi dengan 10 Flight Information Region (FIR) negara tetangga.

Guna mengantisipasi pola konflik lalu lintas udara yang semakin dinamis, perusahaan memperkuat sistem otomasi serta kompetensi pemandu lalu lintas udara, sambil mempertahankan standar separasi, koordinasi, dan keselamatan penerbangan.

AirNav juga memperluas implementasi FRTO lintas batas negara. Langkah tersebut mencakup operasi penuh dengan FIR Oakland pada Maret 2023, FIR Port Moresby pada Juni 2024, hingga operasi penuh FRTO Indonesia-Australia yang mulai berjalan pada Juli 2025.

Manfaat implementasi FRTO mulai terlihat dalam statistik operasional. Sepanjang 2020-2025, sebanyak 10.578 penerbangan memanfaatkan layanan tersebut di FIR Jakarta dan Ujung Pandang.

Pada 2025, jumlah penerbangan yang menggunakan FRTO melonjak 82 persen, dari 2.770 penerbangan pada tahun sebelumnya menjadi 5.030 penerbangan.

AirNav menghitung pemanfaatan FRTO sepanjang 2025 menghasilkan penghematan biaya bahan bakar maskapai mencapai USD 8,04 juta.

Pada saat yang sama, penerapan rute yang lebih efisien mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO₂) hingga 5.426 ton.

Efisiensi itu tercapai melalui pengurangan jarak tempuh, waktu terbang, dan konsumsi bahan bakar pesawat.

Setio menyebut FRTO menjadi salah satu fondasi penting dalam transformasi layanan navigasi penerbangan ke depan.

“Ke depan, FRTO menjadi salah satu fondasi pengembangan Trajectory-Based Operations (TBO). AirNav juga menyelaraskan pengembangan kompetensi pemandu lalu lintas udara dengan ICAO APAC Project 30/10 sebagai bagian dari modernisasi layanan navigasi penerbangan,” pungkas Setio. (Rmt)

Share This Article