Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Selatan yang tak pernah tidur, sebuah gerakan perubahan kecil namun fundamental sedang tumbuh di Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru. Masalah sampah dan kedisiplinan warga, yang seringkali dianggap sebagai isu klasik perkotaan, kini didekati dengan cara baru: melalui penguatan budaya tanggung jawab kolektif.
Jakarta sendiri menghadapi tantangan lingkungan yang sangat serius. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, ibu kota menghasilkan lebih dari 7.500 ton sampah setiap harinya, di mana sebagian besar masih berakhir di TPST Bantargebang yang kapasitasnya kian menipis. Masalah di tingkat lokal seperti yang terjadi di Kramat Pela adalah miniatur dari krisis sampah kota besar. Tanpa pengelolaan dari rumah tangga, beban lingkungan ini akan terus menjadi bom waktu bagi warga Jakarta.
Pada Sabtu pagi, 27 Desember 2025, suasana di lingkungan RT 08 RW 08 Kramat Pela tampak berbeda dari biasanya. Sinar matahari pagi menyinari deretan rumah warga, sementara di balai warga, suasana hangat mulai terasa. Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Manajemen S1 Universitas Pamulang (Unpam) tampak sibuk berbincang akrab dengan ibu-ibu PKK dan bapak-bapak yang mengenakan pakaian santai. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk kerja bakti seremonial, melainkan untuk membedah akar permasalahan kebersihan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
*Akar Masalah: Antara Fasilitas dan Mentalitas*
Kebersihan lingkungan merupakan fondasi utama bagi kualitas hidup yang sehat. Namun, kenyataan di lapangan seringkali berkata lain. Di tingkat RT/RW, pemandangan sampah yang tidak pada tempatnya atau rendahnya partisipasi dalam kerja bakti masih menjadi tantangan besar.
“Masalahnya seringkali bukan hanya soal ketersediaan tempat sampah, tapi soal mentalitas. Sebagian warga masih merasa bahwa kebersihan adalah tugas petugas kebersihan atau ketua RT saja,” ujar Rani Sudrajat, Ketua Kelompok PKM Unpam, di tengah diskusi yang penuh tawa namun tetap serius.
Fenomena ini dikenal sebagai pengikisan tanggung jawab kolektif. Padahal, tanpa adanya kedisiplinan individu yang menyatu dalam kesepakatan bersama, program kebersihan apa pun yang dibuat pemerintah maupun pihak swasta akan berakhir sia-sia. Inilah yang menjadi latar belakang kuat mengapa tim PKM Unpam memilih fokus pada “Pembentukan Budaya” daripada sekadar aksi bersih-bersih fisik sekali lewat.
*Literasi Sampah: Mengubah Pola Pikir dari Rumah Tangga*
Kegiatan yang diawali dengan sesi pemaparan materi ini menghadirkan Muhammad Aksal Saputra sebagai narasumber utama. Dalam sesinya yang bertajuk “Kampung Bersih Perkotaan: Program Literasi Sampah dan Disiplin Buang Sampah Berbasis RT/RW”, Aksal menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari dapur masing-masing warga.
“Literasi sampah bukan hanya tahu mana sampah organik dan anorganik. Ini tentang memahami dampak dari setiap plastik yang kita buang. Ketika warga disiplin memilah sampah dari sumbernya, mereka sedang meringankan beban lingkungan sekaligus mencegah bencana kesehatan seperti demam berdarah dan diare di lingkungan mereka sendiri,” jelas Aksal di hadapan warga yang antusias menyimak sambil sesekali mencatat di brosur yang dibagikan.
Materi tersebut tidak hanya berhenti pada teori. Warga diajak berdialog mengenai kendala nyata di lapangan, seperti jadwal penjemputan sampah yang tidak menentu hingga minimnya lahan untuk titik kumpul sampah sementara. Diskusi interaktif ini menciptakan ruang bagi warga untuk menyuarakan keresahan mereka, yang kemudian dicarikan solusi bersama melalui pendekatan manajemen partisipatif.
*Membangun Tanggung Jawab Kolektif*
Sesi kedua yang dipandu oleh Rani Sudrajat menyentuh sisi sosiologis masyarakat. Membangun budaya tanggung jawab kolektif memerlukan lebih dari sekadar instruksi; ia memerlukan empati dan rasa memiliki (sense of belonging).
Rani menekankan bahwa kebersihan adalah bagian dari kesadaran sosial. Dalam konteks RT/RW, disiplin warga tercermin dari hal-hal kecil: membuang sampah tepat waktu, menutup saluran air agar tidak tersumbat, dan hadir dalam kegiatan gotong royong.
“Kita ingin menciptakan suasana di mana warga merasa malu jika tidak menjaga kebersihan, bukan karena takut sanksi, tapi karena merasa bertanggung jawab terhadap kenyamanan tetangganya,” tambah Rani. Hal ini disambut baik oleh pengurus RT 08 yang mengakui bahwa selama ini pendekatan “perintah” kurang efektif dibandingkan pendekatan “kesadaran” yang dibawa oleh para mahasiswa melalui obrolan santai namun berisi ini.
*Pendekatan Tri Dharma dan Peran Perguruan Tinggi*
Kegiatan PKM ini merupakan perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Muhammad Gandung, S.E., M.M., selaku Dosen Pembimbing, menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat adalah kewajiban akademis untuk menerapkan ilmu manajemen yang dipelajari di kampus ke dalam kehidupan nyata. Tim pengabdi yang terdiri dari Rani Sudrajat, Adrian Al Rizki, dan Ahmad Sahdeli bekerja secara sinergis memastikan setiap tahapan berjalan sesuai target.
*Hasil Nyata: Bukan Sekadar Angka*
Setelah melalui berbagai tahapan mulai dari sosialisasi, edukasi, hingga pendampingan langsung dalam kerja bakti, hasil signifikan mulai terlihat. Berdasarkan observasi tim di lapangan, terdapat peningkatan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan fasilitas umum.
Salah satu capaian terpenting adalah lahirnya “Kesepakatan Bersama” terkait tata kelola sampah di tingkat RT 08. Kesepakatan ini mencakup aturan internal mengenai waktu pembuangan sampah dan pembagian tugas penjagaan kebersihan. Peningkatan disiplin ini juga didukung oleh keteladanan para tokoh masyarakat dan pengurus RT/RW 08 yang turut terjun langsung memungut sampah di selokan bersama warga.
Warga kini lebih memahami bahwa lingkungan yang bersih berkorelasi langsung dengan kesehatan fisik dan ketenangan sosial. Lingkungan yang tertata rapi menciptakan harmoni, mengurangi potensi konflik antar-tetangga, dan meningkatkan harga diri lingkungan tersebut.
*Tantangan Masa Depan dan Keberlanjutan*
Meski menunjukkan hasil yang menggembirakan, tim PKM Unpam menyadari bahwa mengubah budaya adalah lari maraton, bukan lari cepat. Perbedaan tingkat kesadaran antar-generasi dan kesibukan warga kota Jakarta menjadi tantangan dalam menjaga konsistensi.
Oleh karena itu, peran pengurus RT/RW sangat krusial sebagai penjaga gawang keberlanjutan program. Pendampingan yang dilakukan mahasiswa diharapkan menjadi pemicu bagi program-program mandiri warga di masa depan, seperti pembentukan bank sampah kecil-kecilan atau penghijauan gang.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama yang penuh keceriaan. Jejak yang ditinggalkan mahasiswa Unpam di Kramat Pela lebih dari sekadar dokumentasi foto; ada benih kesadaran yang telah tertanam di benak setiap warga. Universitas Pamulang melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali membuktikan bahwa kolaborasi akademisi dan masyarakat adalah kunci utama dalam menyelesaikan masalah urban, menjadikan Kramat Pela lingkungan yang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga disiplin secara budaya.

