Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan pelajar. Bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), gawai dan media sosial sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, baik untuk belajar maupun berinteraksi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai persoalan yang tidak bisa diabaikan, seperti rendahnya literasi digital, maraknya bullying, dan menurunnya kepedulian terhadap lingkungan sekolah.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika dan tanggung jawab dalam bermedia. Masih banyak siswa yang belum menyadari dampak dari komentar negatif, penyebaran informasi yang belum tentu benar, serta perilaku tidak sopan di media sosial. Kondisi ini kerap memicu konflik hingga cyberbullying yang berdampak pada kesehatan mental siswa.
Bullying sendiri masih menjadi masalah serius di lingkungan sekolah. Tidak hanya terjadi secara fisik, bullying juga muncul dalam bentuk ejekan, penghinaan, dan pengucilan, baik secara langsung maupun melalui media digital. Perilaku ini sering dianggap bercanda, padahal dapat meninggalkan luka psikologis bagi korban. Kurangnya empati dan kesadaran sosial menjadi faktor utama terjadinya bullying di kalangan remaja.
Selain persoalan sosial, kepedulian terhadap lingkungan sekolah juga perlu mendapat perhatian. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, kurang menjaga kebersihan kelas, dan tidak merawat fasilitas sekolah mencerminkan rendahnya kesadaran lingkungan. Padahal, lingkungan yang bersih dan nyaman sangat mendukung proses belajar dan membentuk karakter disiplin siswa.
Sebagai upaya menjawab permasalahan tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan tema “Cerdas Digital, Bebas Bullying, dan Peduli Lingkungan” dilaksanakan di SMK Darussalam. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai penggunaan teknologi secara bijak, pencegahan bullying, serta pentingnya menjaga lingkungan sekolah.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui penyuluhan interaktif, diskusi, simulasi kasus, dan sesi tanya jawab. Pendekatan ini membuat siswa lebih aktif dan mudah memahami materi karena dikaitkan langsung dengan pengalaman mereka sehari-hari. Siswa diajak untuk mengenali dampak positif dan negatif teknologi digital, memahami bentuk-bentuk bullying, serta menumbuhkan sikap empati dan saling menghargai.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan sikap pada siswa. Mereka mulai lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, memahami pentingnya bersikap sopan dan bertanggung jawab secara digital, serta menyadari bahwa bullying bukanlah hal yang wajar. Selain itu, siswa juga menunjukkan kepedulian yang lebih tinggi terhadap kebersihan dan lingkungan sekolah.
Kegiatan PKM ini membuktikan bahwa edukasi karakter sangat penting di era digital. Literasi digital, sikap anti-bullying, dan kepedulian lingkungan merupakan bekal utama bagi siswa untuk menghadapi tantangan zaman. Dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan siswa SMK dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter positif, empati sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

