AirNav Indonesia menandatangani kerja sama strategis dengan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) untuk memperkuat sistem keselamatan berbasis Fatigue Risk Management System (FRMS).
Melalui kerja sama ini, AirNav Indonesia menugaskan tenaga ahli sebagai Regional Officer, Performance-Based Navigation (P-4) di Kantor ICAO Sub Regional Asia Pasifik, Beijing, China.
Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno mengatakan, kerja sama yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan bertujuan meningkatkan kualitas layanan navigasi penerbangan nasional.
“Keterlibatan aktif AirNav Indonesia dalam ICAO menjadi bentuk komitmen kami untuk menguatkan peran strategis di tingkat global,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Penandatanganan dilakukan saat ICAO Global Implementation Support Symposium (GISS) 2026 di Maroko, 14–16 April 2026.
Sekretaris Jenderal ICAO Juan Carlos Salazar bersama Direktur SDM dan Umum AirNav Indonesia Didiet KS Radityo menandatangani cooperation agreement tentang Provision of Technical Expertise to Support AirNav Indonesia in Establishing a Sustainable FRMS Framework, disaksikan Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Achmad Setiyo Prabowo.
Kerjasama 3 Tahun
Didiet KS Radityo menjelaskan, kerja sama strategis ini berlangsung selama tiga tahun dengan fokus membangun kerangka kerja FRMS.
“Kerangka kerja ini mencakup rekomendasi pembaruan kebijakan manajemen kelelahan agar selaras dengan standar ICAO, serta peningkatan kompetensi kelembagaan dan SDM,” katanya.
AirNav Indonesia menargetkan pengembangan peta jalan implementasi nasional dengan capaian terukur, sehingga penerapan manajemen kelelahan berbasis data dapat berjalan efektif di seluruh layanan lalu lintas udara.
Selain memperkuat hubungan kelembagaan dengan ICAO dan pemerintah, kerja sama ini menegaskan komitmen AirNav Indonesia sebagai Air Navigation Service Provider (ANSP) yang aktif mendukung keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan sistem penerbangan global.
“Langkah ini menjadi bagian dari implementasi ICAO Strategic Plan 2026–2050, khususnya aspek keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan penerbangan,” ujar Capt. Avirianto.
FRMS sendiri merupakan pendekatan sistematis berbasis data dan ilmu pengetahuan untuk mengidentifikasi, memantau, serta mengurangi risiko kelelahan fisik maupun mental pada awak pesawat dan personel operasional.
Sistem ini memastikan keselamatan operasional dengan mencegah gangguan kinerja akibat kelelahan.
Ke depan, AirNav Indonesia berharap kerja sama ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di forum internasional, tetapi juga meningkatkan kapasitas SDM nasional melalui transfer pengetahuan dan pengalaman global. (Rmt)

