Pukul 10.30 WIB saya berangkat menuju kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan di Cilenggang. Siang itu saya memiliki janji bertemu dengan salah seorang pejabat eselon II Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Percakapan kami mengalir dari arah pembangunan Tangsel beberapa tahun ke depan, dinamika politik nasional, hingga berbagai persoalan lokal yang tengah menjadi perhatian masyarakat.
Tak terasa jarum jam mendekati waktu salat Jumat. Saya bersama seorang rekan kemudian memutuskan menunaikan ibadah di Masjid yang berada di lantai 6 Gedung DPMPTSP Kota Tangerang Selatan.
Masjid itu terasa bersih, tenang, dan nyaman. Perlahan para pegawai memenuhi setiap saf. Suasana yang semula riuh berubah menjadi hening ketika azan berkumandang.
Tak lama kemudian khatib menaiki mimbar. Usianya tampak masih relatif muda, mungkin sekitar kepala empat. Namun cara penyampaiannya tenang dan penuh penekanan sehingga membuat jamaah larut mendengarkan setiap kisah yang disampaikan.
Tema khutbah hari itu adalah tentang keadilan seorang pemimpin.
Sang khatib mengawali dengan sebuah kisah yang cukup dikenal dalam sejarah Islam, tentang Khalifah Umar bin Khattab dan seorang warga Yahudi di Mesir.
Ketika itu, Mesir dipimpin oleh Amr bin Ash, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dipercaya menjadi gubernur. Di masa pemerintahannya, ia ingin menata kawasan di sekitar pusat pemerintahan agar terlihat lebih rapi dan megah. Namun di dekat istana gubernur berdiri sebuah rumah tua milik seorang Yahudi miskin.
Rumah itu dianggap mengganggu keindahan tata kota.
Amr bin Ash kemudian menawarkan pembelian rumah tersebut dengan harga yang jauh di atas nilai sebenarnya. Tawaran itu disampaikan berulang kali. Namun sang pemilik tetap menolak. Baginya, rumah sederhana itu merupakan satu-satunya harta yang dimiliki.
Karena pembangunan tetap berjalan, rumah tersebut akhirnya dibongkar.
Merasa diperlakukan tidak adil, pria Yahudi itu memilih menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju Madinah untuk mengadukan nasibnya kepada Khalifah Umar bin Khattab.
Sesampainya di Madinah, ia justru menemukan Umar hidup sangat sederhana, jauh dari gambaran seorang penguasa besar yang menguasai wilayah luas. Setelah mendengar seluruh pengaduan, Umar tidak menulis surat panjang ataupun mengirim pasukan.
Beliau hanya mengambil sepotong tulang atau tulang belikat unta. Pada tulang itu Umar membuat satu garis lurus menyerupai huruf alif, lalu menyerahkannya kepada si Yahudi agar dibawa kembali kepada Amr bin Ash.
Setelah perjalanan panjang kembali ke Mesir, tulang itu diserahkan kepada sang gubernur.
Begitu melihat tanda tersebut, wajah Amr bin Ash berubah. Ia langsung memahami pesan Khalifah Umar.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, Umar mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus lurus seperti garis itu. Jika ia menyimpang dari keadilan, maka pedang keadilan akan meluruskannya. Riwayat lain menyebutkan bahwa Umar menggores tulang itu sebagai simbol peringatan agar kekuasaan tidak berubah menjadi kezaliman. Meski detail kisah ini memiliki beberapa versi dalam literatur sejarah Islam, pesan moralnya tetap sama: tidak ada seorang pemimpin yang kebal dari pertanggungjawaban atas tindakannya.
Tanpa banyak bicara, Amr bin Ash segera memerintahkan rumah warga Yahudi tersebut dibangun kembali. Ia juga memberikan ganti rugi yang layak.
Pria Yahudi itu dibuat heran. Bagaimana mungkin hanya dengan sepotong tulang yang memiliki sebuah goresan, seorang gubernur yang begitu berkuasa langsung mengubah keputusannya.
Jawabannya sederhana.
Yang ditakuti Amr bin Ash bukanlah tulang itu.
Yang ia hormati adalah keadilan Umar bin Khattab.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa dalam Islam, hukum tidak dibedakan berdasarkan agama, suku, kedudukan, maupun kekayaan. Bahkan seorang non-Muslim memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan dari penguasa ketika mengalami ketidakadilan.
Pesan itulah yang terasa sangat relevan hingga hari ini.
Di tengah pembangunan kota yang terus berlangsung, pemerintah memang dituntut menghadirkan infrastruktur yang lebih baik, kawasan yang tertata, dan investasi yang tumbuh. Namun pembangunan seharusnya tidak mengabaikan hak-hak masyarakat kecil.
Keberhasilan seorang pemimpin bukan semata diukur dari banyaknya gedung berdiri, jalan yang dibangun, atau angka investasi yang dicapai. Lebih dari itu, keberhasilan diukur dari keberaniannya melindungi mereka yang paling lemah ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar.
Keadilan juga bukan berarti selalu memenangkan rakyat atau pemerintah. Keadilan adalah keberanian menempatkan setiap orang pada haknya, meskipun keputusan itu tidak populer.
Mungkin itulah mengapa kisah Umar bin Khattab tetap hidup hingga lebih dari 14 abad kemudian. Bukan karena sepotong tulang yang diberikannya, melainkan karena pesan bahwa kekuasaan hanyalah titipan, sedangkan keadilan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Saya meninggalkan masjid siang itu dengan satu kalimat yang terus terngiang.
“Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan yang besar, tetapi kekuasaan hanya akan dihormati ketika berdiri di atas keadilan”

