Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, ParagonCorp memperkuat komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang tak hanya memberikan manfaat bagi konsumen, tapi juga memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan hidup.
Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai pengembangan produk yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi, hingga desain kemasan.
Karena itu, berbagai inovasi terus dikembangkan untuk mendorong terciptanya
produk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan tanpa mengurangi kualitas dan performa yang diterima konsumen.
Misalnya Tavi – Gel to Oil Staining Lip Glide (Wastar™ Lavender), lip hybrid dengan inovasi Wastar Lavender, yaitu hasil upcycling dari lavender yang sudah digunakan untuk ekstraksi minyak esensial. Kandungan ini memiliki manfaat anti-inflamasi dan membantu menjaga kelembapan bibir. Kemasan menggunakan 30 persen PCR cap sebagai upaya pengurangan plastik baru.
Tavi – Cica Res-Q10 Water Break & Adaptint SPF 50 Sunscreen dengan kandungan dan formula yang aman bagi ekosistem koral di laut (reef safe). Lebih dari itu, kemasannya juga menggunakan 30 persen PCR tube, tidak menggunakan virgin plastic seratus persen sebagai bahan bakunya. Produk ini dirancang untuk memberikan perlindungan kulit sekaligus melindungi ekosistem laut dan mendukung pengurangan limbah plastik.
Earth Love Life – Body Wash mengusung konsep quick-rinse dan biodegradable formula untuk menjaga berkontribusi pada kelestarian sumber air di sekitar kita. Dengan formula yang fast-rinse, konsumen memerlukan air yang lebih sedikit untuk membilas sabun saat penggunaan. Sedangkan biodegradable formula
memastikan sabun akan terurai secara natural saat memasuki badan air (sungai dan laut), sehingga meminimaslisasi pencemaran air.
Rangkaian ini juga menggunakan bahan alami lokal seperti vanila dari NTT, belimbing, bambu dan frangipani dari Bali, serta beras dari Jawa .Seluruh produk bersifat vegan, cruelty-free, serta memiliki kemasan PET yang dapat didaur ulang. Produk Kahf – Gentle Exfoliating Scrub Facewash menggunakan upcycled coffee extract dari byproduct produksi minyak kopi, produk ini menghadirkan eksfoliasi alami yang efektif sekaligus mengurangi limbah industri.
Wardah – Micellar Water dirancang dengan kemasan PET serta tutup PP yang sepenuhnya dapat didaur ulang, produk ini mengedepankan prinsip design for recyclability tanpa mengurangi kualitas dan keamanan formula.
Emina – Sunbattle SPF 50 PA++++ Barrier Hydraburst Sunscreen diperkaya Wastar™ Lavender sebagai bahan aktif hasil upcycling, produk ini menghadirkan perlindungan sinar UV sekaligus manfaat antioksidan untuk kulit
Kahf – Bright Fresh Sunscreen SPF 35 & SPF 50 mengusung formula reef safe dengan kombinasi Vitamin C, Niacinamide, dan Tranexamic Acid, sunscreen ini dirancang untuk perlindungan kulit harian hingga aktivitas luar ruang tanpa mengganggu ekosistem laut. Earth Love Life – Forest Therapy EDP (Sulawesi Patchouli For Life Certified)
Menggunakan patchouli yang ditanam oleh lebih dari 700 petani di Sulawesi melalui program pertanian regeneratif, produk ini telah mengantongi sertifikasi For Life dari Ecocert, memperkuat aspek keberlanjutan dari sisi hulu rantai pasok, karena melalui program ini petani mendaparkan pelatihan pertanian, dukungan kesehatan dan keselamatan kerja, serta praktik budidaya yang dirancang untuk membantu menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang.
“Kami percaya bahwa inovasi produk yang baik tidak hanya menjawab kebutuhan konsumen saat ini, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan di masa depan,” terang Dokter Sari Chairunnisa, Deputy
CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp, Kamis (4/6/26) di Jakarta
“Karena itu, kami terus berupaya menghadirkan keberlanjutan lebih dekat dalam keseharian konsumen melalui berbagai pengembangan produk yang dilakukan secara bertahap, mulai dari pemilihan bahan
baku, pengembangan formula, hingga desain kemasan. Kami menyadari perjalanan ini masih terus berlangsung, namun setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak yang lebih baik bagi konsumen maupun lingkungan,” beber Dokter Sari Chairunnisa
*Paragon Bawa Cerita Petani Nilam ke London*
Tanaman patchouli (nilam), komoditas yang telah menempatkan Indonesia sebagai pemasok sekitar 80 persen kebutuhan dunia sejak abad ke-19. Di balik kontribusi tersebut, terdapat kisah para petani di Sulawesi yang selama ini jarang terdengar di panggung industri kecantikan global.
Cerita inilah yang dibawa ParagonCorp ke Partnership for Forests Conference (P4F) yang berlangsung di Barbican Conservatory, London, pada 29 Mei 2026 lalu. Dalam forum yang
mempertemukan pelaku bisnis, investor, dan organisasi keberlanjutan dari berbagai negara tersebut, ParagonCorp hadir sebagai satu-satunya perusahaan kecantikan Indonesia yang berpartisipasi tahun ini.
Melalui kehadirannya di forum tersebut, ParagonCorp mengangkat kisah rantai pasok patchouli dari Sulawesi yang melibatkan lebih dari 700 petani aktif dalam jaringan tersertifikasi For Life oleh Ecocert. Program tersebut mencakup pelatihan pertanian, dukungan kesehatan dan keselamatan kerja, serta praktik budidaya yang dirancang untuk membantu menjaga kualitas lahan dalam
jangka panjang.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam rantai pasok patchouli dunia. Namun yang sering terlupakan adalah para petani yang berada di balik komoditas tersebut. Melalui forum ini, kami ingin membawa cerita mereka ke percakapan yang lebih luas,” kata Sari Chairunnisa.
Patchouli merupakan salah satu komoditas alami yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena digunakan secara luas dalam industri parfum global. Namun keberlanjutan rantai pasoknya sangat bergantung pada kesehatan tanah, kesejahteraan petani, dan praktik budidaya yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, sistem budidaya yang diterapkan dalam rantai pasok patchouli yang didukung ParagonCorp menggunakan pendekatan regeneratif. Setelah empat kali panen dalam periode sekitar 15 bulan, lahan diistirahatkan melalui rotasi tanaman untuk membantu memulihkan kesuburan tanah. Limbah hasil penyulingan juga dikomposkan dan dikembalikan ke lahan pertanian sebagai bagian dari siklus alami tanah.
“Dibutuhkan sekitar 250 kilogram daun patchouli segar untuk menghasilkan satu kilogram minyak. Angka tersebut menunjukkan betapa besar kerja keras para petani dalam menghasilkan bahan yang kemudian digunakan dalam berbagai produk parfum di pasar global,” tutur Sari
Kehadiran ParagonCorp di P4F Conference merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk terus membangun rantai pasok yang lebih transparan dan bertanggung jawab.
Bagi ParagonCorp, keberlanjutan bukanlah tujuan akhir yang sudah dicapai, melainkan perjalanan yang terus diupayakan melalui berbagai langkah nyata bersama para mitra dan komunitas yang terlibat di dalamnya
Sebagai purposeful beauty tech company, ParagonCorp berupaya mengembangkan inovasi yang tidak hanya berfokus pada kualitas produk, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan
lingkungan di sepanjang proses pengembangannya.
“Kami menyadari perjalanan ini masih panjang. Namun kami percaya bahwa perubahan dimulai dari langkah-langkah yang dilakukan secara konsisten. Bagi kami, kemajuan lebih penting daripada kesempurnaan,” katanya.
*ParagonCorp Angkat Potensi Bioekonomi di Forum Global*
ParagonCorp dalam Partnership for Forests Conference (P4F) di London, forum internasional yang didukung Pemerintah Inggris untuk mendorong model bisnis yang membuktikan bahwa hutan dapat tetap lestari sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
ParagonCorp mengangkat potensi bioekonomi Indonesia melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu yang dikembangkan secara bertanggung jawab.
Salah satu yang ditampilkan adalah prototype produk berbasis Illipe Butter, bahan alami yang berasal dari buah pohon tengkawang (Shorea stenoptera) yang tumbuh di Kalimantan Barat. Bahan ini dipanen oleh komunitas Dayak mengikuti siklus alami pohon tanpa pembukaan lahan maupun
deforestasi.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Melalui forum ini kami ingin menunjukkan bahwa hutan yang tetap berdiri juga dapat menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara bertanggung jawab,” ujar Dokter Sari Chairunnisa.
Illipe Butter merupakan salah satu contoh hasil hutan non-kayu yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai industri, termasuk industri kecantikan. Berbeda dengan komoditas yang memerlukan pembukaan lahan baru, pemanfaatan hasil hutan non-kayu memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dengan tetap menjaga ekosistem tempat sumber daya
tersebut berasal.
ParagonCorp menekankan bahwa eksplorasi terhadap Illipe Butter masih berada pada tahap awal riset dan pengembangan. Kehadirannya di P4F bukan untuk mengumumkan produk baru, melainkan untuk membuka percakapan mengenai peluang pengembangan bioekonomi Indonesia.
Selain menyoroti potensi hasil hutan non-kayu, ParagonCorp juga membagikan pandangannya mengenai pentingnya melihat hutan lebih dari sekadar kumpulan pohon. Hutan berperan penting dalam menjaga sistem air, iklim, keanekaragaman hayati, serta menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat yang bergantung padanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, ParagonCorp bersama Indika Nature dan CFES juga telah turut mendukung perlindungan sekitar 4.000 hektare hutan di Jambi dan sekitar 1.000 hektare hutan di Kalimantan. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa seperti Macan Dahan Borneo, Pangolin, Rangkong Gading, Bekantan, Beruang Madu, Owa Kelawat, dan Binturong.
Bagi ParagonCorp, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah produk dibuat, tetapi juga bagaimana sumber daya alam yang menjadi bagian dari rantai pasok dapat terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang
*Langkah ParagonCorp Dalam Keberlanjutan*
Dalam momentum World Environment Day, ParagonCorp menegaskan kembali komitmennya melalui pesan “Goodness that Grows”, sebuah gagasan bahwa setiap langkah kecil dalam keberlanjutan dapat tumbuh menjadi dampak yang lebih luas ketika dilakukan secara konsisten.
Pesan ini merupakan benang merah dari berbagai inisiatif yang telah dijalankan ParagonCorp di berbagai aspek operasionalnya mulai dari konservasi hutan, pengelolaan air, inovasi kemasan, hingga pengembangan produk yang mempertimbangkan dampak lingkungan.
Di sektor kehutanan, ParagonCorp bersama Indika Nature dan CFES turut mendukung perlindungan sekitar 4.000 hektare hutan di Jambi dan sekitar 1.000 hektare di Kalimantan.
Kawasan ini berperan penting dalam menjaga ekosistem, keanekaragaman hayati, serta
keseimbangan sistem air dan iklim di sekitarnya.
Pada aspek sumber daya alam dan rantai pasok, ParagonCorp terus mengembangkan pendekatan yang lebih bertanggung jawab melalui pemanfaatan bahan baku yang dapat ditelusuri asal-usulnya serta mendukung kesejahteraan komunitas yang terlibat di dalamnya.
Pendekatan ini juga mencakup eksplorasi terhadap potensi hasil hutan non-kayu Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun rantai pasok bioekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Di sisi operasional, perusahaan juga menjalankan berbagai inisiatif pengurangan dampak lingkungan, termasuk pengelolaan air, efisiensi energi, serta pengembangan sistem pengumpulan kembali kemasan.
Beberapa fasilitas produksi telah menerapkan sistem pengolahan air dan pemanfaatan kembali air dalam kebutuhan operasional non-produksi untuk bisa mengurangi dampak penggunaan air tanah.
Sementara itu, pada tingkat produk, ParagonCorp terus mengembangkan inovasi yang mempertimbangkan dampak lingkungan, termasuk penggunaan bahan baku upcycled, kemasan dengan material daur ulang, serta formulasi yang dirancang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan sumber daya.
Seluruh upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan jangka panjang ParagonCorp sebagai purposeful beauty tech company yang tidak hanya berfokus pada inovasi produk, tetapi juga pada dampak yang dihasilkan terhadap lingkungan dan masyarakat di sepanjang rantai nilainya.
“Kami memahami bahwa perjalanan menuju keberlanjutan tidak memiliki titik akhir yang pasti. Namun kami percaya bahwa setiap langkah yang dilakukan dengan kesadaran dan konsistensi akan membawa perubahan yang berarti,” jelas dr. Sari Chairunnisa.
“Bagi kami, yang terpenting bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian
untuk terus melangkah dan belajar memperbaiki diri di setiap prosesnya.” ucapnya.
“Melalui momentum World Environment Day, ParagonCorp mengajak seluruh pemangku
kepentingan untuk melihat keberlanjutan sebagai perjalanan kolektif yang membutuhkan
kolaborasi, konsistensi, dan kesadaran bersama,” demikian dikatakan Dokter Sari Chairunnisa.(rls/MRZ)

