Home Home Duo Golkar (Zaki-Ombi) “Kerdilkan” Pileg 2019

Duo Golkar (Zaki-Ombi) “Kerdilkan” Pileg 2019

0
Oleh: Subandi Musbah, Ketua Alumni Sekolah Demokrasi.
Setidaknya ada dua kerugian besar bagi partai pengusung jika petahana berpasangan dengan Haji Ombi. Kerugian tersebut akan dirasakan pada Pileg 2019.
Pertama, Karena pasangan calon Bupati dan Wakilnya berasal 1 partai yang sama, kelak ketika terpilih akan menguntungkan kader “beringin” pada perhelatan pileg 2019. Pasangan terpilih akan berupaya keras agar disetiap dapil ada figur atau kawan yang menduduki kursi parlemen.
Baik Zaki maupun Ombi memiliki kawan yang berbeda (beda barisan), dan mereka pasti di”paksa” untuk jadi. Setidaknya untuk mendapatkan 2 kursi pada setiap dapil akan lebih mudah. Hal ini menyebabkan beratnya partai pengusung untuk berkembang. PKB, PPP, Gerindra, Demokrat, dan Nasdem akan kesulitan membentuk fraksi “murni”.
Kedua, konsolidasi partai politik 5 tahun kedepan hanya mungkin dilakukan oleh partai Golkar saja. Bagi partai pengusung sulit dan berat. Tidak ada lumbung untuk dikuras sebagai modal untuk sekedar bagi-bagi sapi saat Idhul Adha. Sedangkan konsolidasi partai merupakan langkah menuju capaian target pemenangan.
Setidaknya masih ada waktu 1 bulan untuk berpikir ulang. Partai politik yang ada di Kabupaten Tangerang kiranya harus bisa menahan laju Golkar agar 2023 tidak juga leluasa berkuasa di Kota seribu industri ini.
Proses pengkerdilan Pileg 2019 terjadi dengan tidak terasa. Diprediksi ada beberapa partai yang gagal kembali membangun kekuatan fraksi. Dan itu diawali oleh kesalahan saat ini.
Kalau saja beberapa partai politik mau bicara tegas: “Mendukung petahana dengan syarat tidak mengambil wakil dari Partai Golkar. Zaki Iskandar harus juga memikirkan masa depan pengusung pada perhelatan pileg 2019”.
Setidaknya kalimat diatas bisa meminimalisir kekalahan pada 2019. Sedangkan pertarungan sesungguhnya bagi partai politik adalah ketika pemilihan legislatif bukan Pilkada.
Mencoba untuk melawan akan lebih terhormat dan berdampak positif. Tidak perlu berpikir menang atau kalah, cukup berupaya agar mesin partai terkonsolidasikan. Suara petahana tidak lebih dari 600 ribu pada pilkada 2013.
Suara yang tentunya tidak terlalu banyak jika dibanding hak pilih yang mencapai 2,3 juta jiwa. Masih banyak suara yang bisa dikapitalisasi penantang untuk sebuah kemenangan. Zaki belum tentu bisa dengan mudah melenggang. Ada banyak faktor, dan itu bisa dibuktikan ketika ada keseriusan pigur yang berani bertarung.
Bagaimana jika pasangan petahana tidak ada lawan? Niat awal pertai pengusung untuk “uji mesin” kiranya sulit terlaksana. Kalau akhirnya ternyata cuma ada 1 paslon, uang besar tidak akan keluar.  Mereka yang gemuk tentunya hanya “makelar” yang posisinya strategis. Bagi PAC dan Ranting siap-siap gigit jari.
Persoalan Pilkada Tangerang tidak akan banyak berdampak positif bagi konsolidasi partai dan apalagi jika untuk menghadirkan figur-figur kader partai. Ia hanya menjadi hajat petinggi. Bukan semua elemen.
Berat memang jika harus bertarung melawan duo golkar, kolaborasi putra mahkota sekaligus petahana dan tuan tanah. Tapi jika dilakukan, tentu akan berdampak positif bagi kemajuan partai, minimal 2 atau 4 tahun kemudian.
Harapan terakhir ada pada PDI Perjuangan dan Gerindra. Kita tunggu, keduanya akan mengikuti jejak partai lain atau tidak? Jika sama, maka penurunan kursi di DPRD namapaknya bukan isapan jempol. Atau kita lihat keberanian PAN dan PKS untuk sedikit memaksakan Iskandar Mirsad sebagai pendamping petahana.
Pilkada 2018 harusnya dijadikan arena konsolidasi bukan malah rela dikerdilkan. Apalagi ikut melebur dalam permainan Golkar yang sejak awal sudah kurang “etis”.
Atau barang kali ada figur alternatif-yang siap melawan petahana. Sebelum terlambat mari isi pesta demokrasi ini dengan baik. Tidak melulu mempertontokan  dagelan yang sejatinya akan merusak demokrasi itu sendiri. Sudahi tradisi “borong” partai. Berikan kesempatan bagi kader lain untuk maju. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here