Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang Deden Umardani meminta Bupati Tangerang segera mengambil langkah strategis menyusul insiden keracunan yang menimpa puluhan anak didik. Ia menegaskan, kepala daerah harus hadir langsung dalam pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
Menurut Deden, keterlibatan aktif Bupati menjadi krusial, terutama dalam memantau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memiliki risiko tinggi jika tidak diawasi secara ketat.
“Bupati Tangerang harus tahu, harus memantau dan terlibat dalam pelaksanaan MBG. Ini risikonya terhadap nyawa anak di Kabupaten Tangerang,” ujar Deden kepada Tangerangonline.id, Kamis (30/4/2026).
Ia menilai terdapat persoalan serius dalam alur komunikasi internal pemerintah daerah. Deden menduga adanya penyekatan informasi yang membuat kepala daerah tidak memperoleh laporan utuh terkait insiden keracunan tersebut.
“Ini ada masalah penyekatan komunikasi di internal pemerintah kita. Masa sekolah tidak tahu, masa sekolah tidak menginformasikan ke dinas, dan dinas tidak memberikan informasi kepada bupati. Ini ada apa pada sistem pemerintahan kita,” katanya.
Lebih jauh, Deden juga menyoroti peran Badan Gizi Nasional (BGN) yang diduga tidak transparan dalam menyampaikan informasi kepada pemerintah daerah. Ia bahkan menduga adanya upaya menutupi kejadian agar terkesan tidak terjadi masalah.
“Nah saya menduga ini ada kerja sama untuk menutupi kejadian. Sehingga ini dianggap baik-baik saja agar kepala daerah tidak terinformasi secara utuh kejadian yang ada,” paparnya.
Deden menilai kinerja BGN di tingkat Kabupaten Tangerang belum optimal. Ia mendesak Bupati segera memanggil pihak BGN untuk meminta klarifikasi sekaligus mengevaluasi tata kelola program MBG.
“Kalau BGN tidak menginformasikan jika ada kasus keracunan, ini artinya BGN yang bermasalah. Bagaimana tata kelola MBG ini? Kalau bupati tidak mendapat informasi, berarti BGN tidak menghargai kepala daerah,” tegasnya.
Sebelumnya, sebanyak 33 anak didik di Kecamatan Kronjo dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan berupa makaroni telur, tahu, bakso, wortel, dan buah melon. Para korban mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, hingga diare.
Program MBG tersebut diketahui didistribusikan kepada 2.820 penerima manfaat yang tersebar di sejumlah sekolah dan PAUD di wilayah tersebut. (Rez)

