Lanskap kebutuhan tenaga kerja global pada 2026 mengalami pergeseran mendasar.
Penguasaan teknis spesifik tidak lagi menjadi penentu utama daya saing talenta, melainkan kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan daya tahan.
Menjawab tantangan tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Fauzan Adziman, meresmikan Laboratorium Riset Artificial Intelligence (AI) hasil kolaborasi AirNav Indonesia dan Center of Excellence Artificial Intelligence for Learning and Optimization (CoE AILO) Telkom University di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Peresmian laboratorium tersebut berlangsung dalam rangkaian Summit on Advancement in Technology, Research, Industry and Academia (SATRIA) 2026 di Grand Orchardz Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dalam paparan berjudul “Pergeseran Penentu Keberhasilan Talenta di Era AI”, Dirjen Risbang Kemdiktisaintek membeberkan hasil survei McKinsey per Januari 2026 terhadap 1.303 profesional SDM di 10 negara.
Riset tersebut mencatat penurunan kebutuhan keahlian teknis spesifik seperti pengembangan perangkat lunak, analisis data, hingga komputasi kuantum.
Sebaliknya, dunia kerja kini memburu talenta yang memiliki pemikiran kritis dan ketangguhan.
Merujuk pada fenomena tersebut, Dirjen Risbang Kemdiktisaintek mengungkapkan pentingnya perubahan pola pikir dalam pengembangan SDM.
“Kedalaman teknis menjadi syarat masuk, bukan lagi pembeda. Yang membedakan adalah penalaran, kreativitas, dan daya juang,” ujar Fauzan Adziman.
Menjawab kebutuhan masa depan, kolaborasi AirNav Indonesia dan CoE AILO Telkom University menyajikan bentuk konkret penyelarasan (link and match) antara industri dan perguruan tinggi.
Hubungan ini bermula saat keduanya mengembangkan NOTAM AI Generator pada 2024 untuk mendukung penyusunan Notice to Airmen (NOTAM) demi keselamatan operasional penerbangan.
Kini, AirNav Indonesia menempatkan 10 unit sistem komputasi AI berkemampuan tinggi di CoE AILO Jakarta Chapter, Telkom University Jakarta, sebagai sarana bagi peneliti, dosen, dan mahasiswa untuk menguji inovasi berbasis kebutuhan industri.
Selain menyediakan infrastruktur, AirNav Indonesia turut menentukan arah riset aviasi nasional.
Direktur Utama, Direktur Teknik, dan Direktur Operasi AirNav Indonesia menerima pengangkatan sebagai Advisory Honorary Board CoE AILO Telkom University.
Kehadiran jajaran direksi ini memastikan riset akademis tetap berpijak pada tuntutan riil operasional penerbangan.
Ekosistem riset ini melahirkan tiga produk Sovereign AI karya anak bangsa.
Produk pertama, EduNusa LLM, menghadirkan model bahasa besar berbasis pendekatan Socratic untuk siswa sekolah dasar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Alih-alih menyodorkan jawaban instan, EduNusa memancing siswa membangun pemahaman lewat pertanyaan penalaran bertahap.
Produk kedua, Medisiana AI Model, berfungsi sebagai pendamping belajar Socratic bagi mahasiswa Kedokteran Telkom University guna mengasah penalaran klinis.
Sementara itu, produk ketiga berupa SAFE-ME menghadirkan kerangka penilaian tingkat kematangan AI berbasis SAFE AI Telkom University untuk membantu organisasi menerapkan AI secara aman.
Direktur CoE AILO Telkom University, Prof. Agus Pratondo, menjelaskan bahwa seluruh inisiatif ini membentuk satu kesatuan ekosistem riset yang tak terpisahkan.
“Laboratorium ini adalah bukti bahwa link and match bukan sekadar slogan. Kebutuhan nyata yang dibawa AirNav Indonesia menjadi titik berangkat riset kami, dan arahan para direksi sebagai Advisory Honorary Board akan menjaga riset kami tetap relevan bagi dunia aviasi,” ujarnya.
“Sejalan dengan arahan Bapak Dirjen, EduNusa dan Medisiana kami rancang bukan untuk memberikan jawaban, melainkan untuk melatih siswa dan mahasiswa bernalar,” tutur Agus. (Rmt)

