Beranda Agenda Diskusi Publik Keperempuanan di Ciputat Bahas Hukuman Kebiri

Diskusi Publik Keperempuanan di Ciputat Bahas Hukuman Kebiri

0

Wacana pemberlakuan hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual menjadi pembahasan dalam diskusi publik di Housen’s Culinary Jalan Ir H Juanda Ciputat Tangerang Selatan (Tangsel). Acara tersebut digagas oleh kerjasama beberapa organisasi, diantaranya Freedom Institut, Liberty Studies, dan Kohati HMI Cabana Ciputat, Kamis (16/6/2016).

Ketua Umum Kohati HMI Cabang Ciputat, Syarifaeni Fahdiah mengungkapkan landasan pembahasan hukuman kebiri. “Menkumham (Menteri Hukum dan Ham) Yassona Laoly pernah melontarkan wacaha hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan saat rapat di Istana Negara bulan Mei lalu. Kami selaku aktivis perempuan merasa terpanggil untuk menanggapi wacana tersebut,” tandasnya kepada tangerangonline.id.

 

Syarifaeni Fahdiah, Ketua Umum Kohati HMI Cabang Ciputat (kanan) mengingatkan agar aktivis perempuan tanggap dengan wacana hukuman kebiri.
Syarifaeni Fahdiah, Ketua Umum Kohati HMI Cabang Ciputat (kanan) mengingatkan agar aktivis perempuan tanggap dengan wacana hukuman kebiri.

Dalam kesempatan tersebut salah satu narasumber yang aktif menyuarakan kebebasan, Ulil Absar Abdallah mengutarakan pendapatnya. “Pada dasarnya hukuman yang menimbulkan rasa sakit sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern, termasuk hukuman kebiri. Saya sepakat bahwa pelaku kekerasan seksual harus dihukum seberat-beratnya, tapi bukan berarti dengan cara kebiri. Toh masih banyak hukuman lainnya yang sifatnya edukatif,” ujarnya

Menurutnya, kebiri adalah pemutusan potensi reproduksi manusia. Semetara itu, reproduksi merupakan hak dasar manusia yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. “Oleh karena itu, kebiri baik dalam secara fisik (pemotongan alat vital) atau pun kimiwi tidak bisa dibenarkan,” sambungnya.

Di lain pihak, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga menyatakan hal senada. “Rasulullah sendiri pernah melarang seorang sahabat yang ingin mengebiri dirinya sendiri setelah merasa bersalah. Rasulullah menyadari betul bahwa reproduksi adalah fitrah manusia yang tidak boleh dibatasi oleh manusia lainnya,” pungkasnya. (Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini