Home Berita WAG Urang Banten Bukber dan Diskusi Publik

WAG Urang Banten Bukber dan Diskusi Publik

0

Bahas kemajuan Provinsi Banten pasca terpisah dari Provinsi Jawa Barat, paguyuban yang menamakan dirinya sebagai WAG UB (Urang Banten) menggelar Buka Bersama dan diskusi publik antar anggota.

Acara yang Berlangsung di kediaman ketua Kadin Paradigma Baru Banten, Iyus Yusuf Suptandar, Jalan Islamic Raya Nomor 7, Islamic Vilage, Karawaci, Kota Tangerang itu, dihadiri tokoh polotik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan para pengusaha seantero Banten.

Taufiequrachman Ruki, inisiator acara diskusi mengatakan, WAG UB berdiri sejak tahun 2015 yang isinya orang-orang Banten, dari seluruh kalangan asalkan berdarah keturunan Banten.

“Pada 2016, kita sudah mulai ada ipiniti, saya menyadari akibat adanya Pemilu dan adanya persaingan perorangan atau melalui Partai, menyebabkan kerengangan antar tokoh-tokoh itu, setelah proses Politik itu berakhir, maka saya sangat tidak suka akan hal itu,” terang Ki Impiq, Selasa (29/5/2018).

Dia melanjutkan, berpolitk boleh saja, asalkan suasana Kebantenan tidak ikut rusak dengan suasana dan kepentingan Politik itu sendiri, maka teman-teman yang tergabung dalam UAG UB bisa menyadari hal tersebut.

“Maka saya mengajak mereka untuk berdiskusi menceritakan berbagai hal yang menarik tentang, perlunya musium Banten dari pada guest house, lebih baik uang itu dipergunakan untuk kepentingan-kepentingan rakyat Banten dari pada membangun guest house, karena di Banten sudah banyak,” jelasnya.

Lebih dalam ia mengatakan, Banten dengan Jakarta itu sangat dekat, maka rakyat tidak memerlukan guest house, karena di Karawaci sudah ada hotel bintang empat, sedangkan di Banten sendiri ada dua hotel bintang empat.

“Kenapa kita harus bangun guest house, adapun pertimbangannya Jakarta dan Banten sangat dekat, jadi mereka berpikir mending pulang pergi ketimbang menginap, kenapa uang itu kita tidak bangun jembatan-jembatan rawayan dipedalaman, kenapa kita tidak bangun Puskesmas dan sekolah-sekolah, lalu bagaimana dengan musium? Musium itu fungsinya untuk memelihara situs-situs purbakala yang ada di Banten,” ungkapnya.

Sementara itu Iyus Yusuf Suptandar mengatakan, dilihat dari gambaran yang ada SDM yang ada di Banten belum bisa mencukupi hal itu, ditambah kemandirian dan kesempatannya pun belum ada, maka bagi yang bergabung WAG UB bisa mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari, agar bisa sejalan dengan yang diinginkan.

“Itu terlihat nyata di pabrik-pabrik, bahkan di kantor pemerintahan pun banyak yang dari luar, maka untuk mewujudkan pencapaian itu, kita perlu bekerja sama dengan Gubernur Banten, juga pejabat-pejabat daerah hingga kepusat,” terang pria yang akrab disapa Ki Iyus.

Dia melanjutkan, SDM di Provinsi Banten memang masih jauh tertinggal dengan Provinsi lain, hal itu dilihat dari Kepala Dinas yang baru sedikit mumpuni dibidangnya, sedangkan selebihnya tidak sesuai dengan bidangnya.

“Kalau bisa lebih spesifik dan lebih bisa mengabdi, jadi kepala Dinas jangan cuma rapat-rapat aja, giliran mau ketemu katanya lagi rapat di luar kota, kita menginginkan hal-hal seperti itu segera dikurangi,” ungkap Ki Iyus.

Lebih dalam ia mengatakan, pasca terpisah dari Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten tentunya banyak kemajuan dan sudah jauh berbeda sewaktu masih bergabung.

“Kalau kita masih jadi Provinsi Jawa Barat mungkin tidak seperti sekarang, jalan tidak ada yang bagus, pembangunan di Selatan juga tidak akan pernah ada pembangunan, maka WAG UB ini diharapkan bisa mengabdi, Insya Allah balasan akan datang dari manapun berada,” tandas Ki Iyus. (Ed)