Home Berita Gatot: Tak Perlu Takut Nobar Film G 30 S/PKI, Bila Tak Diingatkan,...

Gatot: Tak Perlu Takut Nobar Film G 30 S/PKI, Bila Tak Diingatkan, Sejarah Bisa Berulang

0

Meski Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tidak mengatakan secara tegas apakah satuan TNI akan menggelar acara nonton bersama film Penumpasan Pengkhianatan Gerakan 30 September atau G 30 S / PKI, namun di beberapa tempat di wilayah Indonesia dan stasiun televisi tetap melakukan pemuataran film tersebut.

Berbeda dengan tahun 2017 lalu, disaat Panglima TNI dijabat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Ia mengintruksikan kepada seluruh prajurit TNI untuk nonton bareng (nobar) film kekejaman komunis itu.Bahkan Presiden Joko Widodo juga ikut menonton Film G 30 S/PKI itu di Markas Korem Suryakencana, Bogor, Jawa-Barat.

Menurut Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, menonton film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/ PKI adalah hak seluruh warga negara sampai kapan pun.

“Silakan semuanya bisa nonton dan itu bagian dari sejarah bangsa,” kata Hadi di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu 26 September 2018.

Menurutnya, ideologi komunis adalah musuh bersama segenap bangsa Indonesia. Kata dia, ideologi tersebut telah membawa sejarah kelam yang tidak akan pernah dilupakan bangsa Indonesia.

Pemutaran kembali film G 30 S/ PKI ini mencuat setelah mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, menantang Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono untuk memerintahkan jajarannya menggelar acara nobar film tersebut, melalui cuitan di akun Twitter-nya. Gatot juga menyebut KSAD sebagai penakut jika tak berani mengintruksikan pemutaran kembali film itu.

“Kok KSAD-nya penakut, ya sudah pantas lepas pangkat,” kata Gatot melalui akun Twitternya, @Nurmantyo_Gatot pada Kamis, 20 September 2018. Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Gatot mempersilakan cuitannya itu untuk dikutip.

Dalam sebuah wawancara khusus di TV One, Minggu (30/9/18) dengan presenter Putri Viola, mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, mengatakan, tidak perlu ada ketakutan dalam menonton bersama Film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Sebab, kalau kita masih berpikiran seperti itu, suatu saat bila bangsa Indonesia mengalami hal yang sama, barulah semua pihak menyadari kekejaman komunis itu.

“Tidak ada yang perlu ditakuti.Karena yang dilakukan (nonton bareng) adalah suatu kebenaran, mengingatkan anak bangsa ini, bahwa (PKI) pernah melakukan sesuatu yang kelam untuk mengganti ideologi Pancasila. Bila (bahaya komunis) tidak diingatkan lagi, sejarah bisa berulang,” jelas Gatot.

Soal peringatan dari negara Amerika Serikat di tahun 2017, soal pembunuhan massal dari G 30 S/PKI, dikatakan Gatot, sebaikanya kita tidak terbawa arus dari pendapat-pendapat negara lain. Sehingga seolah-olah kalau negara lain meminta, harus dilakukan oleh Indonesia.

Menurut Gatot, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah sebuah negara yang berdaulat dan diakui kemerdekaannya oleh negara lain dan mandiri.

“(komentar) Negara-negara lain gak usah dipikirin, kita punya jalan sendiri, kita negara berdaulat, masak negara –negara lain mau seenaknya, jangan, kita putuskan sendiri,” terang Gatot.

Soal rekonsiliasi dari pelaku G 30 S/PKI dengan pemerintah, dikatakannya, rekonsiliasi tidak masalah, namun harus berdasarkan konstitusi yang ada di negara kita. Ia mengatakan, dalam Ketetapan MPRS Nomor :XXV/MPRS/1966 Tahun 1966, tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme, secara jelas menyatakan bahwa ajaran komunis bertentangan dengan Pancasila.

“Kalau soal memaafkan, ya kita maafkan. Tapi apa yang sudah dilakukan (PKI), tidak boleh kita lupakan, sebagai pelajaran sejarah, itu suatu keniscayaan,” ujarnya.

Gatot mengutip buku dari ilmuwan Cekoslowakia, Victor Miroslav Fic, dalam bukunya yang berjudul “ Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi Tentang Konspirasi,” mengatakan, bahwa ada komunikasi dari DN Aidit, pada tanggal 5 Agustus 1965, datang ke Beijing bertemu dengan Mao Tse Tung.

Ketika Aidit bertemu dengan Mao Tse-tung, di sebuah kawasan Zhongnanhai, Peking, keduanya pun mendiskusikan kondisi kesehatan Presiden Soekarno. Disitulah Aidit meminta nasihat mengenai apa yang harus dilakukan bila Presiden Soekarno meninggal. Dijawab oleh Mao, ”Habisi para jenderal dan perwira senior itu dalam sekali pukul!”.

Selang dua hari kemudian, pada 7 Agustus 1965, Aidit beserta rombongannya dengan pesawat yang disediakan Cina pun pulang ke Tanah Air. Setelah mendarat di Kemayoran ia langsung ke Istana menemui Soekarno.

“Selanjutnya Angkatan Darat akan menjadi Naga tanpa kepala dan semua akan mengikuti kamu,” ujar Gatot menirukan apa yang ditulis buku tersebut.

Sehingga, kata Gatot, bila komunis sudah merajalela menguasai negara, maka akan menghadirkan pemimpin-pemimpin yang lucu.(MRZ)