Beranda Berita Membiasakan 3M Mampu Ciptakan Tembok Untuk Hentikan Langkah Covid-19

Membiasakan 3M Mampu Ciptakan Tembok Untuk Hentikan Langkah Covid-19

0

Pandemi Covid-19 belum berakhir dan hingga kini belum ada obatnya. Banyak masyarakat yang belum mengetahui secara pasti apa gejala yang timbul bila terpapar Covid-19. Gejala yang umum muncul saat terkena Covid-19 pada minggu pertama biasanya ada demam diatas 380 derata celcius, kelelahan atau lemas, batuk tidak berdahak, pegal-pegal, tidak nafsu makan dan hilangnya indera pengecap rasa atau mencium. Tentu masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap Covid-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit.

Seperti yang diceritakan seorang wanita bernama DIF dalam akun media sosialnya, medio Oktober lalu dan dinyatakan sembuh pada Nopember ini. Ia menceritakan, rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari setelah terinfeksi.

Ia yang dirawat di RSD Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, merasakan perkembangan yang menggembirakan, sesak nafas dan batuk yang selama ini dirasakan sudah mulai berkurang.

“Saya bisa menerima telepon dan berbicara lebih dari setengah jam. Topiknya masih ringan-ringan dan lucu-lucu. Sesekali tersengal, tapi saya mengatur diri menjadi pendengar sembari mengatur nafas,” urainya dalam akun media sosialnya akhir Oktober lalu.

Dalam kesehariannya ia mengisinya dengan menonton perkembangan politik akhir-akhir ini. Mulai dari kampanye Pilpres Amerika, Locdown di Inggris sampai protes umat Islam atas ucapan Presiden Prancis Macron, semua dia lahap, meski sakit kepalanya masih terasa. Soal kepala pening, seorang Dokter langganannya menyarankan agar kontrol ke Dokter spesialis.

“Sejak keluar dari rumah sakit, kepala pusing/berat dan tensi yang tinggi masih belum reda. Bahkan hari ini badan sumeng, meskipun suhu badan masih normal berkisar di bawah 37 derajat Celcius,” urainya.

Meski begitu, ia masih sempat mengatur logika saat menulis sehingga bisa menuangkan dalam jurnal hariannya di akun facebooknya. Ia berupaya menulis apa yang ada di kepala sembari melihat apakah kognisinya mengalami gangguan.

Namun dalam soal komunikasi verbal dan memahai audio-visual ia struggle. “Otak kok lemot ya. Rasanya lama sekali saya bisa merespon dengan cepat. Sel-sel di otak sepertinya kerja keras,” tuturnya.

“Sahabat saya yang hampir setiap hari menelpon juga baru saja menceriterakan kalau saya sering ngelantur diajak bicara ketika saya di rumah-sakit. Error dan gak nyambung, tapi ia membiarkan karena tahu ‘state of mind’ saya tidak dalam kondisi sempurna. Fokus internal (dialogue with myself) dan external (awareness of things outside my head/world) tidak dalam satu kesatuan. Mungkin level 4, nalar/critical thinking (analysing my thoughts) saya sepertinya kedodoran,” tulis wanita yang berusia diatas 40an ini.

Namun, itu kemarin-kemarin. Saat ini, ia menilai logika bertuturnya mulai runtun, tidak meloncat-loncat lagi. Keluarganyapun menilai begitu. Entah itu untuk membesarkan hati, namun ia berpandangan mudah-mudahan hal itu benar.

“Bila demikian, dahsyat sekali dampak Covid ini. Bayangkan bila virus ini berhasil menembus batang otak, paru dan organ tubuh saya lainnya, jan ambyar  tenan. Bisa jadi pula Tuhan menganggap tugas saya di bumi telah selesai sehingga harus kembali menemui-Nya,” terangnya.

“Saya jadi sering bergidik melihat orang-orang yang teledor memasang masker di mulut.  Ada yang menggunakan masker, diturunkan, sehingga hidung tidak tertutup. Lega sekali ya bernafasnya. Ada pula yang diturunkan ke dagu. Jadi poinnya apa, pasang masker kalau hidung dan mulut tidak ditutup? Virus akan berpesta-pora seakan berada di jalan tol, bebas hambatan masuk ke tubuh kita,” cerita dia.

Menurutnya, banyak yang tidak menyadari, kita mengalami stress saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Work From Home  (WFH) dan hal itu berpengaruh dalam kesehatan mental. Kelelahan kolektif yang menumpuk ini barangkali membuat orang teledor memasang masker dan jaga jarak. Maklum saja, sudah hampir 10 bulan Pandemi Covid-19 melanda negeri ini.

Lantas apa yang bisa kita lakukan dalam masa Pandemi Covid-19 ini? Tidak tahu sampai kapan, Covid-19 ini berakhir dan belum ada obat tokcer untuk membunuh virus Corona? Semua hal menjadi tidak pasti dan unknown. Tidak ada yang bisa diputuskan dengan segera dan  hal ini  tentu akan menambah stress.

Tapi, kata dia, bukankah hidup yang kita jalani juga penuh ketidak-pastian? Banyak blank spot ‘unknown’ dan ‘uncertain’. Tidak ada jawaban yang pasti. Namun setidaknya kita mampu mengatasi.

Ketika Covid-19 datang, tiba-tiba semuanya berubah. Rencana (baik personal maupun profesional) yang telah dirancang dan direncanakan jauh-jauh hari harus diparkir, things that we enjoy and gives life meaning and purpose. “Apa gak stress?,” tanyanya.

Psikolog  dari Universitas California, Dr. Kaye Hermanson PhD yang banyak melakukan penelitian kondisi mental pada masyarakat yang terkena bencana menjumpai bahwa pada awal bencana biasanya masyarakat akan saling membantu dan mendukung satu sama lain. Namun hal ini tidak bertahan lama. Orang menjadi kecewa ketika mereka menemui banyak kesulitan kemudian muncullah stress.
Hermanson, lebih jauh menjelaskan paling lama orang bisa bertahan dalam fase kekecewaan satu tahun. Orang lalu akan kehilangan optimisme, mulai berpikir negatif dan uring-uringan.

“Jadi guys wajar banyak orang yang uring-uringan. Maklumi saja kalau pasangan atau anak kita jadi uring-uringan,” ucapnya.

Lantas sampai kapan ini berakhir dan apa yang dilakukan untuk mengatasinya? Menurut Hermanson bila pertanyaan ini muncul, itu  adalah pertanda masyarakat sudah lelah dan mengabaikan protocol Covid. Ini yang kita alami sekarang.

Contoh yang paling konkret adalah saat long week end atau libur panjang Maulid Nabi akhir Oktober lalu. Orang berbondong-bondong datang ke tempat wisata. Di televisi tampak orang berdesak-desakan. Seperti tidak  peduli soal jaga jarak dan ironisnya menggunakan masker asal nempel, masker dipasang, namun banyak diturunkan hingga hidung terlihat dan bahkan melorot ke dagu.

“Padahal hukum Corono cukup jelas. Dimana ada kerumunan, disitulah virus menyebar,” tuturnya.

Satgas Penanganan Covid-19  sudah melihat potensi kenaikan kasus angka Covid-19, karena mobilitas masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lain. Oleh sebab itu disarankan untuk tidak melakukan mobilitas selama liburan. Namun kenyataannya semua tumpah ruah ditempat-tempat wisata dan kuliner.

Sementara, hotel-hotel dan maskapai mengobral discount besar-besaran dalam menyambut liburan itu, ditambah semua orang sudah lelah dan terlalu lama berdiam di rumah (stay at home). Memang akan sulit mencegah mobilitas masyarakat manakala stress sudah berada di ubun-ubun. Jelas ini tantangan besar bagi kesehatan mental masyarakat.

Tapi bukan berarti kita tidak mampu mengatasinya. Sukses melawan Covid dan dampaknya sangat tergantung peran masyarakat yang kini sudah mulai lelah. Bila berhasil menyakinkan akan menjadi awalan menurunkan kasus Covid.

“Paling tidak kita mulai dari kita sendiri. Apalagi bila kita mampu menjadi tauladan protokol kesehatan Covid-19. Bukan saja mengedukasi yang lain, tapi akan menjawab keraguan sebagian masyarakat yang menyangsikan keberadaan dan daya hancur Corona terhadap manusia, hingga mereka teledor. Ingat kawan atau saudara-saudara kita yang telah lebih dulu pergi karena Covid. Ini sebuah pelajaran yang sangat berharga. Kita tak punya banyak waktu, sebab virus tak pernah berhenti melaju,” katanya.

“Waktu menjadi segalanya. Lima menit menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker akan menciptakan tembok, untuk menghentikan langkah Covid-19. Mari kita menjadi tauladan protokol Covid dan menebar optimisme. Jangan kasih kendor,” tegasnya.(MRZ)