AirNav Perketat Pemantauan Ruang Udara Kalimantan Akibat Kabut Asap

By
3 Min Read
Air Traffic Controllers (ATC) AirNav Indonesia. (dok. istimewa)

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan semakin pekat dan memengaruhi keselamatan penerbangan.

AirNav Indonesia memperketat pemantauan ruang udara, terutama terkait jarak pandang yang terus berubah.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang dinamis menuntut pemantauan berkelanjutan.

“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya,” kata Avirianto, Rabu (2/9/2026).

“Informasi tersebut kami koordinasikan dengan seluruh stakeholder terkait untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional,” ungkapnya.

Dampak Langsung ke Penerbangan

AirNav mencatat pada Rabu, 2 September 2026 hingga pukul 11.57 WIB, kondisi terdampak kabut asap paling signifikan terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan jarak pandang turun drastis hingga 600 meter.

Kondisi ini menyebabkan seluruh penerbangan mengalami keterlambatan (delay). Satu penerbangan tujuan Jakarta-Pontianak terpaksa melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara asalnya.

Sementara itu, penerbangan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah masih berjalan normal dengan jarak pandang aman di sekitar 3.500 meter.

Sehari sebelumnya, pada Selasa, 1 September 2026, dampak kabut asap juga sempat memasuki wilayah udara Kalimantan Utara.

Sebagai dampak, jarak pandang di Bandara Juwata, Tarakan, sempat merosot tajam ke rentang 1.000–5.000 meter.

Hal ini mengakibatkan satu penerbangan terpaksa dialihkan (divert) ke bandara terdekat, serta tiga penerbangan lainnya sempat tertunda (delay).

Pada hari yang sama, penurunan visibilitas ekstrem akibat akbut asap juga tercatat di beberapa bandara perintis Kalimantan.

Antara lain di Malinau, jarak pandang sempat menyentuh 2.000 meter yang menyebabkan satu penerbangan perintis dialihkan (divert).

Kemudian di Bandara Long Apung, jarak pandang saat itu hanya berkisar 150-300 meter. Demikian halnya di Bandara Tanjung Harapan, berada di kisaran 400-1.000 meter.

Hari ini, kondisi di Kalimantan Utara mulai membaik dengan jarak pandang meningkat ke kisaran 3.000–5.000 meter.

Pemantauan Lintas Wilayah

Selain kabut asap karhutla, AirNav juga memantau dampak erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Operasional penerbangan di Bandara Kualanamu sudah kembali normal tanpa gangguan abu vulkanik.

“Jadi, pemantauan dilakukan oleh Airnav Indonesia secara menyeluruh untuk memastikan bahwa seluruh ruang udara aman untuk dilintasi. Jika ada potensi gangguan apa pun, sesuai prosedur, kami akan secepatnya merilis informasi tersebut kepada pilot dan maskapai penerbangan,” jelas Avirianto.

“Langkah ini untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional. Hal ini karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami,” tuturnya. (Rmt)

Share This Article