Whitesky Aviation Group merumuskan ambisi besar di sektor Advanced Air Mobility dengan rencana ekspansi 200 unit electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) hingga 2036.
Strategi ini diproyeksikan menempatkan Whitesky Aviation Group sebagai operator eVTOL terbesar di Indonesia.
Pipeline pengembangan mencakup 120 unit dari China, 30 unit dari Jepang, dan 50 unit dari Indonesia.
Realisasi Bertahap
Seluruhnya akan direalisasikan secara bertahap sesuai kesiapan teknologi, regulasi, infrastruktur, serta pertumbuhan pasar mobilitas udara generasi baru.
CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menekankan bahwa ekspansi ini bukan sekadar penambahan armada.
“Target kami bukan hanya membangun fleet yang besar. Kami ingin membangun operating capability yang lengkap, mulai dari aircraft, infrastructure, maintenance, safety, human capital sampai market,” kata Denon di Cengkareng Heliport (CHP), Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (21/8/2026).
“Scale menjadi penting karena dari sana kita bisa membangun ekosistem yang sustainable,” tambahnya.
Armada tersebut lanjut Denon, diproyeksikan mendukung berbagai kebutuhan mobilitas, mulai dari airport connectivity, urban mobility, business aviation, kawasan industri, pariwisata, hingga konektivitas antarwilayah dan antarpulau.
Denon juga menyoroti karakter geografis Indonesia sebagai peluang besar bagi eVTOL.
“Indonesia mempunyai karakter market yang berbeda. Kita adalah negara kepulauan dengan pusat ekonomi yang tersebar. Karena itu, Advanced Air Mobility dapat menjadi bagian penting dari konektivitas nasional sekaligus membuka model layanan baru bagi industri penerbangan,” jelasnya.
Siapkan Komponen Pendukung
Selain armada, Whitesky Aviation menyiapkan komponen pendukung seperti vertiport, charging infrastructure, maintenance capability, training, safety system, serta pengembangan SDM penerbangan.
Strategi ini menempatkan Whitesky sebagai operator yang membangun ekosistem terintegrasi, bukan sekadar pengguna teknologi.
“Menjadi leading operator bukan hanya soal memiliki aircraft paling banyak. Yang menentukan adalah apakah kita memiliki capability untuk mengoperasikan, merawat, mengembangkan network dan memberikan service yang aman serta reliable kepada customer,” jelas Denon.
Ekspansi ini juga diperkuat oleh pengembangan Cengkareng Heliport sebagai pusat Urban Air Mobility melalui program HEXIA – Road to Zero Carbon Helicopters.
Program tersebut mempertemukan operator, produsen teknologi, regulator, investor, akademisi, dan calon pengguna untuk mempercepat kesiapan pasar sekaligus membuka ruang kolaborasi di Asia Tenggara.
Dengan skala 200 eVTOL, Whitesky menilai Indonesia dapat memperkuat posisi dalam industri AAM regional sekaligus membuka peluang jaringan layanan yang terhubung dengan kota, bandara, kawasan industri, dan destinasi strategis.
“Dalam 10 tahun ke depan, kami ingin Whitesky tidak hanya dikenal sebagai operator penerbangan, tetapi sebagai salah satu leading Advanced Air Mobility operator dari Indonesia yang mempunyai scale, capability dan ecosystem yang kompetitif di tingkat regional,” tutur Denon. (Rmt)

