Presiden ICAO Tinjau Modernisasi Navigasi Penerbangan Indonesia

By
3 Min Read
Presiden International Civil Aviation Organization (ICAO) Toshiyuki Onuma melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat AirNav Indonesia di Tangerang, Jumat, 11 September 2026.

Presiden International Civil Aviation Organization (ICAO) Toshiyuki Onuma mengunjungi Kantor Pusat AirNav Indonesia di Tangerang, pada Jumat (11/9/2026).

Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperlihatkan langsung transformasi sistem navigasi penerbangan nasional melalui fasilitas New Jakarta Air Traffic Services Center (New JATSC) dan New Air Traffic Management Automation System (New ATMAS).

Onuma hadir bersama Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa. Dari AirNav Indonesia, turut mendampingi Direktur Utama Capt. Avirianto Suratno, Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi Capt. Nurcahyo Utomo, serta Direktur Teknik Zainal Arifin Harahap.

Modernisasi ATM untuk Ruang Udara Kompleks

Dalam pemaparannya, Capt. Avirianto Suratno menekankan bahwa modernisasi Air Traffic Management (ATM) bukan sekadar pergantian teknologi, melainkan pembangunan kapabilitas integrasi sistem.

“Bagi AirNav Indonesia, modernisasi ATM bukan sekadar mengganti atau menambah teknologi. Yang kami bangun adalah kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai sistem dan informasi agar pengelolaan trafik udara dapat dilakukan secara lebih utuh, cepat, dan tepat,” kata Avirianto.

“Dengan New ATMAS, kami ingin memastikan kapabilitas ATM terus berkembang mengikuti kebutuhan trafik, teknologi, dan tuntutan keselamatan,” tambahnya.

AirNav Indonesia mengelola ruang udara seluas 7,79 juta kilometer persegi, mencakup lebih dari 17.000 pulau, dengan rata-rata 5.000 penerbangan per hari.

Kompleksitas ini menuntut sistem navigasi yang mampu beroperasi lintas batas dan berkoordinasi dengan 10 Flight Information Region (FIR) negara lain.

Teknologi Terintegrasi untuk Keselamatan

New ATMAS menggabungkan radar, ADS-B, CPDLC, dan ADS-C, serta dilengkapi fungsi keselamatan seperti Short Term Conflict Alert (STCA), Area Proximity Warning (APW), dan Approach Path Monitoring (APM).

Sistem ini juga terhubung dengan Aeronautical Message Handling System (AMHS) yang mendukung pertukaran flight plan, NOTAM, dan data meteorologi dengan Singapura dan Australia.

“Indonesia mengelola ruang udara yang sangat luas dan kompleks, dengan wilayah pelayanan yang membentang dari barat ke timur dan berbatasan dengan sejumlah FIR negara lain,” jelas Virianto.

Kondisi ini lanjutnya, membutuhkan sistem ATM yang tidak hanya andal di dalam negeri, tetapi juga mampu berinteroperabilitas dengan lingkungan penerbangan regional.

“Karena itu, modernisasi ATM menjadi bagian penting dari upaya kami memperkuat kapasitas dan konektivitas navigasi penerbangan Indonesia di kawasan Asia Pasifik,” ujar Avirianto.

Momentum Strategis bagi Indonesia

Penguatan ATM dilakukan bertahap, dimulai dari New JATSC, lalu menyusul pengembangan di Cengkareng, Medan, Pontianak, Balikpapan, Sabang, Denpasar, dan Yogyakarta.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pencalonan sebagai anggota Dewan ICAO.

Kunjungan Presiden ICAO menjadi bukti pengakuan internasional atas komitmen Indonesia membangun sistem navigasi penerbangan yang modern, efisien, dan aman. (Rmt)

Share This Article