Ekspor Florikultura RI Capai Rp3,51 Triliun, Barantin Dorong Ekonomi Hijau

By
2 Min Read
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Tangerang, Kamis (17/9/2026).

Kekayaan biodiversitas Indonesia kini bergerak lebih jauh dari sekadar keindahan.

Produk florikultura nasional telah menembus 96 negara dengan nilai ekspor mencapai Rp3,51 triliun sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026.

Angka ini menunjukkan bahwa tanaman hias Indonesia bukan hanya koleksi estetika, melainkan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menyampaikan, potensi florikultura harus dilihat sebagai bagian dari ekonomi hijau dan industri kreatif.

“Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia. Florikultura bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional,” ujar Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di Tangerang, Kamis (17/9/2026).

Pasar Global dan Tantangan Fitosanitari

Data sistem layanan karantina Best Trust mencatat komoditas seperti bunga krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, hingga tanaman akuarium telah masuk ke pasar internasional.

Namun, Karding menekankan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya bergantung pada jumlah komoditas.

“Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya, namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia,” katanya.

Pemenuhan persyaratan fitosanitari menjadi kunci agar produk florikultura diterima di negara tujuan.

Barantin menempatkan peran ganda: menjaga keamanan hayati sekaligus memfasilitasi perdagangan.

Kolaborasi dan Transformasi Sistem

FLOII Expo 2026 bertema United by Nature mempertemukan petani, breeder, nursery, pelaku usaha, pemerintah, hingga komunitas.

Momentum ini juga bertepatan dengan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Barantin.

Barantin mendorong transformasi sistem karantina menuju layanan berbasis risiko dengan dukungan teknologi digital.

Pendekatan ini diharapkan memperkuat perlindungan biodiversitas sekaligus mempermudah komoditas Indonesia memenuhi standar perdagangan internasional.

Biodiversitas sebagai Aset Ekonomi

Dengan jangkauan ekspor ke 96 negara, tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah produk sekaligus menjaga biodiversitas.

Karding menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar kekayaan tanaman Indonesia tidak berhenti sebagai hobi, tetapi berkembang menjadi mesin ekonomi hijau yang berdaya saing global. (Rmt)

Share This Article