Indonesia Targetkan Kursi Dewan ICAO, Genjot Dukungan Internasional

By
3 Min Read
(Kiri-->Kanan) Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia, Capt. Nurcahyo Utomo; Direktur Utama, Capt. Avirianto Suratno; dan Direktur Teknik, Zainal Arifin Harahap. Foto. tangerangonline.id

Indonesia semakin percaya diri melangkah menuju pencalonan sebagai anggota Council (dewan) International Civil Aviation Organization (ICAO).

Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap, menuturkan bahwa kunjungan Presiden ICAO ke Indonesia menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan dan capaian modernisasi sistem navigasi penerbangan nasional.

“Kita jelaskan bagaimana situasi Indonesia, kondisi traffic-nya setelah sebelum Covid sampai dengan setelah Covid. Kemudian tantangan apa saja, kemudian performance safety kita sampaikan, data-data tentang SDM, tentang peralatan, kemudian modernisasi apa saja yang sudah kita lakukan,” ujar Zainal di Tangerang, Jumat (11/8/2026).

Modernisasi Kilat, Apresiasi Dunia

Zainal menjelaskan bahwa Indonesia berhasil melakukan modernisasi Air Traffic Management System (ATMAS) dalam waktu kurang dari dua tahun, jauh lebih cepat dibandingkan negara lain yang biasanya membutuhkan waktu hingga satu dekade.

“Mereka cukup apresiasi, bahkan cukup impressed dengan capaian-capaian kita,” ungkapnya.

Presiden ICAO bahkan menyampaikan bahwa langkah Indonesia layak ditiru oleh negara lain.

Kontribusi Global dan Tagline “No Country Left Behind”

ICAO mengharapkan Indonesia mampu berkontribusi bagi negara-negara di Asia Pasifik maupun Afrika.

“Artinya siapa negara yang punya kemampuan lebih advance, dia wajib membantu negara-negara lain yang berada di belakangnya,” jelas Zainal.

Manfaat Kursi Dewan ICAO

Menurut Zainal, posisi di Dewan ICAO memberikan keuntungan strategis.

“Keuntungan kita menjadi anggota Dewan ICAO, pertama kita punya posisi dalam mengambil kebijakan-kebijakan di ICAO. Jadi ketika pengambilan keputusan, keputusan kita menentukan di dalam sidang,” katanya.

Selain itu, Indonesia akan lebih terlibat dalam isu-isu penting penerbangan global.

Upaya diplomasi terus digencarkan

“Kemarin kurang lebih di Afrika kita sudah dapat dukungan dari negara-negara, kurang lebih ada sekitar 40-an negara. Kemudian Asia Pasifik juga kita saling mendukung, ada sekitar 30-an negara. 70-80 negara sudah mendukung kita,” beber Zainal.

Targetnya, dukungan mayoritas dari 193 negara anggota ICAO bisa diraih pada pertemuan November mendatang.

Pesaing dan Tantangan

Meski optimis, Zainal menyebutkan adanya pesaing kuat dari kawasan Timur Tengah. Indonesia sendiri menyasar kategori 3 dalam struktur keanggotaan Dewan ICAO.

“Pesaing terbesarnya kemungkinan di kawasan Middle East,” ujarnya.

Dengan dukungan yang terus mengalir dan pengakuan atas capaian modernisasi, Indonesia menatap peluang besar untuk duduk di kursi Dewan ICAO sebagai representasi Indonesia di panggung penerbangan global. (Rmt)

Share This Article