Bagi penumpang yang sering menghabiskan waktu transit, pilihan kuliner di bandara bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan bagian penting dari kenyamanan.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kini masuk jajaran 10 besar dunia dengan jumlah restoran dan kafe terbanyak.
Soetta menempati posisi keenam versi studi Best Airports for Layover Food yang dirilis Airport Parking & Hotels (APH).
Dengan 133 restoran dan kafe yang tersebar di berbagai terminal, Bandara Soetta bersaing dengan bandara besar dunia seperti Changi Singapura (247), O’Hare Chicago (210), dan Tokyo Haneda (173).
Angka ini menempatkan bandara Indonesia tersebut di atas Ninoy Aquino Manila (131), JFK New York (129), hingga Istanbul (118).
“Pencapaian ini tentunya menjadi kebanggaan bagi kami. Kehadiran 133 restoran dan kafe di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menunjukkan bahwa bandara terus berkembang, tidak hanya sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan pesawat, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan penumpang yang memberikan pilihan dan kenyamanan selama berada di bandara,” ujar General Manager Bandara Soekarno-Hatta, Heru Karyadi, Senin (31/8/2026).
Dampak bagi Penumpang
Bagi masyarakat, capaian ini bukan sekadar angka. Keberagaman kuliner memberi solusi nyata bagi penumpang yang harus menunggu penerbangan lanjutan.
Mulai dari pilihan cepat saji hingga restoran dengan menu lengkap, penumpang kini memiliki lebih banyak opsi untuk mengisi waktu transit dengan nyaman.
“Pertumbuhan bisnis non-aeronautika berjalan beriringan dengan upaya kami meningkatkan kualitas pengalaman penumpang,” kata Heru.
“Beautifikasi, pengembangan area komersial, dan bertambahnya konektivitas internasional akan terus kami dorong sehingga Soekarno-Hatta memiliki ekosistem bandara yang semakin lengkap,” jelasnya.
Transformasi Bandara
Pengembangan kuliner menjadi bagian dari strategi besar transformasi Soekarno-Hatta.
Selain mempercantik area publik, bandara juga memperluas ruang komersial dan membuka rute internasional baru. Langkah ini memperkuat posisi Soekarno-Hatta sebagai hub penerbangan utama Asia Tenggara.
“Kami tidak ingin berhenti pada capaian ini. Yang terpenting adalah bagaimana setiap pengembangan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi penumpang,” terang Heru.
“Kami akan terus melakukan pembenahan, baik dari sisi fasilitas, area komersial maupun pelayanan, agar pengalaman perjalanan di Soekarno-Hatta semakin nyaman dan berkesann,” tambahnya.
Catatan Studi APH
Studi APH membandingkan 50 bandara tersibuk dunia dengan 12 indikator kenyamanan transit, termasuk rating restoran, kisaran harga, ketersediaan shower, sleeping pods, Wi-Fi, lounge, hingga ulasan Google.
Bandara Soetta berhasil menonjol lewat jumlah restoran dan kafe, menjadikannya destinasi transit yang lebih ramah bagi penumpang internasional. (Rmt)

