Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen),
Abdul Mu’ti, membagikan tiga buku yang menurutnya relevan bagi guru dan
dosen untuk terus bertumbuh. Ketiganya membahas pola pikir, tekad untuk berkembang, dan kekuatan kebiasaan kecil, yang menurut Mu’ti menjadi fondasi perubahan pendidikan dari ruang kelas.
Rekomendasi itu disampaikan Mu’ti di hadapan sekitar 1.000 guru dan dosen
dalam Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT)
dan Inspiring Lecturer Program (ILP) yang digelar ParagonCorp di Jakarta
Concert Hall, Jakarta Sabtu (26/9/2026).
“Mengubah keadaan bangsa itu dimulai dari mengubah pola pikir. Dan pola pikir
bisa kita bangun salah satunya dengan terus membaca dan belajar,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dalam keterangan dari Paragon, Senin (28/9/26) di Jakarta.
Buku pertama adalah “Mindset – Carol S Dweck”.
Buku ini adalah karya psikolog Stanford, Carol S Dweck, yang memperkenalkan konsep growth mindset: keyakinan bahwa kemampuan
dapat berkembang melalui usaha dan proses belajar.
Menurut Mu’ti, mindset menjadi kunci untuk terus maju dan bertumbuh.
Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses, keberanian
belajar dari kesalahan, serta keyakinan untuk menjadi lebih baik di masa
depan. Pendidikan, menurutnya, menjadi jalan penting dalam proses
tersebut.
Buku kedua adalah “It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want to Be”.Dari buku karya Paul Arden, Mu’ti mengutip judulnya sebagai pesan untuk para pendidik
“It is not how good you are, it is how good you want to be. Kalau Anda ingin
jadi orang yang hebat, itu bukan soal Anda sekarang sehebat apa, tapi Anda
ingin bercita-cita, bermimpi yang sehebat apa,” bebernya.
Buku ketiga adalah “Atomic Habits”. Buku ketiga yang dirujuk Mu’ti adalah Atomic Habits karya James Clear. Buku ini menjadi rujukan untuk menekankan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus.
“Mulailah dengan kebiasaan sederhana yang terus-menerus. Perubahan yang besar bisa dimulai dari perubahan yang sangat kecil,” terang Mu’ti.
Ia menyebut, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari proses untuk terus bertumbuh dan membawa perubahan yang lebih besar dalam
kehidupan guru yang terus belajar.
Mu’ti menilai guru perlu memposisikan diri sebagai pembelajar, bukan hanya di
hadapan buku, tetapi juga di hadapan murid-muridnya. Sikap itu, katanya,
menjadi bagian dari pembelajaran mendalam yang memuliakan murid, guru,
dan ilmu.
Semangat terus belajar itu juga yang ditekankan Komisaris ParagonCorp
Salman Subakat kepada para lulusan WIT dan ILP. Menurutnya, kelulusan bukan akhir dari proses belajar.
“Bukan waktu yang singkat, dan mungkin tidak mudah. Tapi semoga semua niat
baik dan semangat Bapak Ibu untuk terus belajar dapat menjadikan Bapak/Ibu
semua pendidik yang lebih baik, yang bisa menginspirasi murid-murid dan
guru-guru di sekitarnya,” ujar Salman.
Tahun ini, WIT meluluskan 5.000 guru dan ILP meluluskan 1.000 dosen setelah menjalani program selama enam bulan. Sejak dimulai pada 2017, kedua program telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik di 38 provinsi.(rls/MRZ)

