Home Berita Cerita Ibu Siswa yang Namanya tak Terdaftar di SMAN 6 Tangsel

Cerita Ibu Siswa yang Namanya tak Terdaftar di SMAN 6 Tangsel

0

MFH saat ini hanya bisa berdiam diri di rumahnya, sebab hingga saat ini status pelajarnya di SMA N 6 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masih belum jelas kendati sebelumnya ia telah dinyatakan diterima di sekolah tersebut.

Dirinya sempat mengikuti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), dan orang tuanya telah membeli seragam dari sekolah.

Ditemui  di rumahnya, Jalan Waru I Rt 001/Rw 03 Kelurahan Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel, Leonita Sugiarti, ibu dari MFH menceritakan ihwal anaknya dianulir sebagai peserta didik baru di SMA N 6 Kota Tangsel.

“Di hari terakhir pengembalian berkas Jumat 13 Juli lalu, sampai di sekolah katanya sudah tutup dan saya diminta untuk datang lagi pada hari Senin. Lalu di hari itu selesai upacara saya baru diantar masuk ke salah satu ruangan, ternyata pak Adi Tama selaku ketua panitia tidak ada, menurut keterangan pihak sekolah, yang bersangkutan sedang berada di Solo. Kemudian saya menemui pak H. Nurdin selaku penggati Pak Aditama tapi yang bersangkutan hanya menjawab itu tidak ada urusan dengan saya,” ujar Leonita, Minggu (29/7/2018).

Kemudian, dikarenakan proses pengembalian berkas yang tak kunjung selesai, sementara saat itu di sekolah tersebut sudah memulai kegiatan MOS atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), akhirnya Leonita memberanikan diri menyuruh anaknya mengikuti kegiatan lantaran nama anaknya memang telah ada didaftar peserta didik baru yang diterima di SMA 6 Tangsel.

Terhitung selama MOS, Leonita terus bolak balik ke SMA 6 Tangsel untuk memproses pengembalian berkas. Namun hasilnya tetap nihil.

“Saya ke kantin dan melewati Koperasi, terus saya bertanya soal nebus seragam. Setelah salah satu pegawai mengecek berkas anak saya, pegawai itu menyatakan bahwa anak saya telah diterima karena ada bukti kertas yang menyatakan anak saya telah diterima di sekolah itu, dan akhirnya saya pun membeli seragam atas anjuran pegawai koperasi sekolah tersebut, seharaga 570 ribu rupiah,” lanjut Leonita.

Kemudian pada hari Senin, awal dimulainya proses belajar mengajar, Leonita merasa heran ketika anaknya pulang ke rumah ketika waktu masih menunjukan sekitar pukul sembilan pagi.

Kepada ibunya MFH pun menceritakan perihal dirinya pulang lebih awal dari biasanya.

“Anak saya merasa malu, katanya saat pembagian kelas dia lihat namanya di papan tidak ada, baik di kelas IPA maupun IPS, kata anak saya ada dua orang katanya yang dipanggil sama guru bagian kurikulum bernama Diani, kemudian setelah menghadap ibu Diani anak saya disuruh pulang, sementara yang satunya lagi tidak,” kata Leonita menirukan anaknya.

Hingga saat ini status anaknya pun masih belum jelas, dia juga sangat mengawatirkan kondisi psikologi sang anak.

“Terkait anak sekolah yang dikeluarkan, itu sedang kita bicarakan, nanti dicek dia dari jalur apa, nanti kalau daftar namanya ada apa kesalahanya, tadi saya dengar katanya karena telat mengirim data, datanya telat ingin dikirim ke siapa gitu kan, kan itu mah gampang, tinggal kita cek kesalahannya dimana, kalau memang namanya udah ada terus datanya sudah ada bisa disisipkan lagi itukan memang sudah resmi kalau memang sudah ada,” kata Budi selaku Humas SMA 6 Tangsel, pada saat menerima kunjungan anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten Kori Priadi, Kamis (26/7/2018) kemarin.

Sementara itu, Aditama selaku ketua panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA 6 Tangsel, belum dapat dikonfirmasi perihal terkait dan beberapa kali telah dihubungi oleh wartawan baik melalui sambungan telpon seluler maupun melalui pesan Applikasi WhatsApp. (Ban)