Beranda Berita Perubahan Perilaku Harus Disadari Masyarakat dengan 3M

Perubahan Perilaku Harus Disadari Masyarakat dengan 3M

0

Deputi Keluarga Berencana dan dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, Ir Dwi Listyawardani, dalam diskusi tersebut menyampaikan, dalam menangani pandemi Covid-19 para tokoh-tokoh masyarakat agar ikut dilibatkan, karena tokoh masyarakat akan menjadi panutan bagi masyarakat.

“3M wajib dilakukan, seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, sangat penting,” ujar Dwi Listyawardani dalam diskusi bertema “Mengarusutamakan Perubahan Perilaku untuk Menyelamatkan Masyarakat dari Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan BBC Media Action dan Dewan Pers, Jumat siang, (6/10/2020).

Hadir secara virtual dalam diskusi tersebut berbagai media cetak dan online, termasuk tangerangonline.id, Ketua Umum PWI Atal S Depari, Anggota Dewan Pers Jamalul Ihsan, Dirprofnakes RSPAD Gatot Subroto Brigadir Jenderal TNI dr. Dewi Puspitorini, Sp.P., M.A.R.S, Ketua Komisi Hubungan Antar Lembaga & Luar Negeri Dewan Pers Agus Sudibyo (pemandu acara) dan para wartawan senior dari harian terkemuka.

Brigadir Jenderal TNI dr. Dewi Puspitorini, memaparkan tentang fungsi paru-paru saat dalam keadaan sehat dan setelah terpapar Covid-19. Menurutnya, kita harus melaksanakan pola hidup bersih dan sehat, terjadi perubahan perilaku dengan membiasakan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Ia menilai pembagian sembako dengan cara mengumpulkan masyarakat tentu sangat tidak disarankan dan sebaiknya diatur strateginya agar tidak berdesak-desakan yang dapat menularkan satu sama lain bila ada yang terpapar Covid-19.

“Pembagian sembako ini, yang bagi sembako tahu nggak sih, apa nggak diatur strateginya, bagaimana cara-cara membagi sembako, karena masyarakat benar-benar seperti takut tidak dapat bagian. Nah, jadi yang akan memberi, tolong diingatkan, siapa yang akan dapat dan bagaimana nanti cara pengaturannya,” ujar dr. Dewi Puspitorini.

Pemerintah sudah berusaha untuk menggembar-gemborkan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun), tetapi begitu ada yang membagikan sembako, maka protokol kesehatan itu tidak lagi dijalankan. Sementara di Rumah Sakit para tenaga medis sudah berjibaku untuk kesembuhan pasien Covid-19 yang kondisinya sedang kritis.

“Kenapa harus ditambah lagi dengan hal-hal seperti itu. Dengan kita peduli, kita disiplin dan menjalankan protokol kesehatan, sebenarnya insyaallah kita telah membantu program pemerintah untuk bisa memutuskan rantai Covid-19,” kata dr. Dewi Puspitorini.

Selain itu, kata Dokter RSPAD ini, sadar dan peduli tentang  pola hidup sehat yang diterapkan  dengan sehat asupan makanan yang bergizi sesuai empat sehat lima sempurna dan kecukupan kebutuhan air putih sebanyak minimal 2 liter per hari, maka akan menambah kekuatan imunitas tubuh kita.

“Yang mau olahraga bersepeda yo monggo, silakan,  tapi ingat,  harus tetap memakai masker dan menjaga jarak sesuai protokol kesehatan dan peduli terhadap lingkungan sekitar juga,” ucapnya.

dr. Dewi Puspitorini juga mengingatkan akan pemakaian masker yang baik dan benar. Karena menurutnya, banyak masyarakat yang memakai masker tidak pada tempatnya, bahkan  ada yang turun ke dagu atau dibawah hidung.

“Kesadaran memakai masker yang benar ini kadang masih perlu diingatkan, karena ada yang melorot, yang di bawah hidung dan ada yang bagian luar masker dipegang-pegang. Untuk itu perlu segera mencuci tangan dan saat memegang masker diharapkan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang mata atau hidung kita,” bebernya.

Makanan dengan pola empat sehat lima sempurna sangat penting ditengah pandemi Ccovid-19 ini yang harganya juga cukup terjangkau. Untuk itu, katanya, kita harus pintar-pintar memilih makanan sehat dan membiasakan diri hidup bersih dan menerapkan protokol kesehatan 3M.

“Cukup minum, olahraga yang ringan itu yang harus terus dibangun, berpikir positif bahwa saya harus sehat,  pasti dia akan menjalankan yang tiga tadi (3M) ganti pola hidup bersih dan sehat itu itu masih tetap dibangun tambah satu lagi berhenti merokok, karena di dalam asap rokok akan merusak paru-paru, sehingga virus tidak bisa ditahan, ya akan terus masuk ke dalam,” ungkapnya.

“Kenapa kita sudah terus menggembar-gemborkan 3M, namun masih tetap saja ada yang melanggar. Apakah cara penyampaiannya yang tidak pas atau bagaimana? Disinilah pentingnya contoh dari tokoh masyarakat atau publik figur yang bisa menjadi contoh buat masyarakat sekitarnya. Kalau pejabatnya masker yang benar, cara penyampaian benar, tentu akan dipatuhi masyarakat,” katanya.

“Kita juga harus menganggap bahwa orang disekitar kita adalah OTG (Orang Tanpa Gejala) sehingga kita harus pakai masker, kita nggak tahu dia itu aman atau tidak, saya sendiri yang sudah lima kali swab ya, karena kebetulan waktu itu ada ada tindakan operasi, sehingga saya sendiri juga harus melaksanakan swab, tapi negatif,  artinya saya akan aman buat diri saya, kalau saya aman, saya akan aman buat keluarga di rumah, karena saya kalau pulang ke rumah saya sampai saat ini pun pasti mandi, demi menjaga keluarga kita dirumah,” beber dr. Dewi Puspitorini.

Bagaimana sikap dewan pers dalam konteks menggerakan agar pemberitaan media itu juga kondusif kampanye perubahan perilaku dan pelaksanaan kesehatan tapi juga dalam konteks yang sama persis ini tetap bisa menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19, Anggota Dewan Pers Jamalul Ihsan, menyampaikan perubahan perilaku seseorang atau perilaku itu sangat dipengaruhi oleh tiga faktor pendukung dan faktor pendorongnya.

“Sebagai jurnalis, kita memang pada tahap awal berada dalam faktor predisposisi tetapi pada bagian lain juga kita bisa menjadi faktor pendorong, karena kita sehari-hari bertemu dengan masyarakat, bertemu dengan semua orang, dan kita bisa menjadi contoh dari perubahan perilaku,” kata Anggota Dewan Pers Jamalul Ihsan.

Maka, lanjutnya, kita sebagai jurnalis memiliki kewajiban memberikan informasi yang dibutuhkan yakni menjadi predisposisi ini untuk memenuhi kewajiban kita terhadap publik, karena kita mendapatkan dari publik, bisa memberikan informasi yang benar  dan dibutuhkan masyarakat. Tentu saja, kita harus bekerja secara profesional, sehingga dapat menyaring dan membedakan informasi yang layak dan tepat untuk publik.

“Dan itu apa aja sih, ini saya kira informasi yang akurat, kita punya kewajiban untuk memberikan informasi yang akurat, bebas dari intervensi, karena memang publik memberikan kita untuk menggunakan itu, maka kita juga menjembatani  publik. Ini untuk apa yang didapatkan,” ujar Jamalul Ihsan.

“Jadi, kita bukan semata-mata harus yang menyampaikan (berita) yang baik-baik saja, tetapi juga fungsi-fungsi kritik, koreksi dan saran, itulah pekerjaan kita. Jadi kita kalau misalnya ada mengatakan kita harus narasi tunggal, ya narasi tunggal itu adalah konsep untuk jurnalis untuk media kita akan menggunakan narasi yang benar, tapi juga kita melakukan koreksi apabila kita melihat hal yang tidak terkait dengan kepentingan publik, saya ingin menggambarkan bagaimana memang publik itu sangat membutuhkan informasi,” tambahnya.

“Pesan inilah (3M) yang menjadi kata kunci kita, tapi kalau kita tidak menggunakan tidak melakukan tiga pesan dari Ibu tadi (dr. Dewi Puspitorini)  itu bisa menjadi sia-sia sebagai jurnalis, memang kalau melihat ada faktor predisposisi dan pendorong para jurnalis secara individu misalnya mengikuti dan menjalankan protokol kesehatan dan menjadi contoh dan pendorong perilaku di lingkungan,” katanya.

Sementara Ketua Umum PWI, Atal S Depari, mengatakan, ditengah pandemi Covid-19 saat ini, seorang jurnalis dalam melakukan liputan harus mengedepankan kesehatan yang menjadi utama, baru kemudian melakukan tugasnya sebagai jurnalis.

“Untuk wartawan, kesehatan dulu yang utama, baru kemudian pekerjaan,” ujarnya.(MRZ)