Home Bandara 541 WNA Ditolak Masuk Melalui Bandara Soetta

541 WNA Ditolak Masuk Melalui Bandara Soetta

0

Sebanyak 541 warga negara asing (WNA) ditolak masuk ke wilayah Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Jumlah tersebut merupakan periode 1 Januari – 9 November 2021.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, Romi Yudianto menuturkan, dasar penolakan WNA tersebut adalah penerapan Peraturan Menteri
Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 26 Tahun 2020, Permenkumham Nomor 27 Tahun 2021 dan Permenkumham Nomor 34 Tahun 2021 yang saat ini menjadi acuan terbaru.

“Penolakan masuk warga negara asing merupakan bentuk penerapan selective policy di tengah masa pandemi guna mencegah imported case yang berpotensi dibawa oleh Orang Asing,” kata Romi, Jumat (13/11/2021).

Romi merinci, adapun WNA yang ditolak masuk ke wilayah Indonesia lewat Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Soetta berasal dari 71 negara.

“Warga negara yang paling banyak ditolak masuk
adalah Pakistan sebanyak 75 orang, India 64 orang, Nigeria 53 orang, China 50 orang dan Amerika Serikat 46 orang,” ujarnya.

“Sebanyak 46 kasus penolakan didasarkan atas
rekomendasi dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Soekarno-Hatta karena tidak memenuhi persyaratan yang diatur di dalam Surat Edaran Satgas Covid-19 seperti tidak memiliki hasil PCR, tidak dapat menunjukan sertifikat vaksin Covid-19 dosis lengkap,” jelas Romi.

167.369 WNA Masuk ke Indonesia

Pada priode yang sama, Imigrasi Bandara Soetta mencatat sebanyak 167.369 WNA masuk ke Indonesia.

Oleh karenaya, Romi menuturkan, pemeriksaan Keimigrasian di TPI Soekarno-Hatta amatlah penting sebagai filtrasi untuk menangkal masuknya Orang Asing yang berpotensi mengancam keamanan dan ketertiban negara khususnya di masa pandemi Covid-19.

“Diperlukan kecermatan serta kolaborasi lintas sektor sehingga fungsi penegakan keamanan negara
dapat berjalan dengan maksimal dan pandemi segera usai. Salah satu fungsi Keimigrasian untuk menjaga keamanan negara diuji lewat situasi pandemi COVID-19,” kata Romi.

Terlebih lagi, pandemi yang terjadi secara global ini berdampak terhadap keamanan dan situasi ekonomi nasional. Fenomena ini mendorong Imigrasi sebagai garda terdepan penjaga gerbang negara untuk turut ambil bagian dalam rangka pemulihan ekonomi nasional sekaligus memperhatikan tingkat penyebaran imported case yang berpotensi dibawa masuk oleh WNA ke Wilayah Indonesia.

“Atas dasar itulah, Imigrasi melakukan berbagai langkah pembatasan masuk bagi orang asing ke wilayah Indonesia lewat kebijakan selective policy, artinya hanya orang asing yang memberikan manfaat dan tidak mengancam keamanan dan ketertiban umumlah yang diperbolehkan masuk dan berada di wilayah negara Indonesia,” tandas Romi. (Rmt)