Home Berita Kisah Pengusaha Kosmetik Ternama, Bahagia Jika Bisa Membahagiakan Orang Lain

Kisah Pengusaha Kosmetik Ternama, Bahagia Jika Bisa Membahagiakan Orang Lain

0

Di rumahnya, Nurhayati dan saudara-saudaranya diajarkan hidup bergotong royong dan saling bekerja sama. Mereka berbagi tugas. Ada yang membersihkan rumah, mencuci piring, dan lain-lain. Kedua orang tuanya mendidik dia dan saudara-saudaranya untuk bersama-sama mengerjakan pekerjaan rumah dan selalu menekankan agar mereka selalu kompak dan bersatu.

Kedua orang tuanya membenamkan jiwa sosial membantu orang lain. Setiap bulan suci ramadhan, ayahnya mengajak dirinya dan saudara-saudaranya untuk membagi-bagikan potongan kain untuk dibuat baju lebaran.

Ayahnya membeli kain gulungan di pasar, lalu bersama-sama memotong-motong kain tersebut seukuran baju, karena memang di tahun 1960-an itu sangat sulit mendapatkan bahan pakaian.

Di bulan suci ramadhan juga, keluarganya menggelar shalat magrib dan isya berjamaah. Saat ayahnya diminta berceramah di masjid-masjid, anak-anaknya biasanya turut ke kota tempat bapaknya berceramah.

Ayahnya tak pernah mau menerima amplop usai memberikan ceramah. Bapaknya berpesan, jangan mengharapkan amplop dari orang.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” begitu kata ayahnya.

Setelah menamatkan SD sampai SMU di Padang. Ia lalu hijrah ke Bandung, untuk menunaikan harapan orang tuanya menuntut ilmu di bidang Farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Orang tuanya, beralasan jurusan farmasi itu cocok untuk perempuan dan kelak bisa menjadi seorang Dosen. Menetap di bumi parahyangan, Bandung, tak terasa, pada 1976 ia lulus dan menjadi lulusan terbaik Apoteker ITB serta meraih anugerah “Kalbe Farma Award”.

Berbekal lulusan terbaik dan sarjana apoteker, ia lalu mencoba peruntungan dengan mencari pekerjaan. Ia melamar bekerja sebagai Dosen, namun lamaran yang ia kirimkan gagal, ia tak diterima bekerja. Harapan menjadi Dosen pun pupus sudah.

Nurhayati muda, dengan lapang dada menerima kenyataan pahit itu.Tak patah semangat, ia mencoba mencari pekerjaan lain, lagi-lagi menemui jalan buntu. Akhirnya, ia bekerja sebagai apoteker di sebuah apotik kecil di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Namun tak berlangsung lama, hanya sampai tiga bulan saja, karena ternyata, apotik itu belum mapan yang berimbas dengan uang gajinya yang tak kunjung dibayarkan. Ia pun memilih mundur dari pekerjaan itu.

Orang tuanya, lalu menyarankan agar ia pulang kampung saja untuk bekerja di Rumah Sakit, mengingat ada lowongan disana. Ia lalu bekerja sebagai tenaga honorer apoteker di Rumah Sakit Umum Padang (RSUP) Mohammad Jamil pada 1977. Disana, ia  bertugas mengurus kebutuhan obat-obatan di apotik untuk pasien.

Penghasilan sebagai tenaga honorer di rumah sakit itu dengan gaji Rp 20.000 per bulan, membuat Nurhayati sedikit sedih, karena belum bisa membahagiakan orang tuannya. Pekerjaan sebagai apoteker ia jalankan saja ketika itu.

Di Padang, Nurhayati, memiliki banyak kesempatan untuk bisa menemani ibundanya, Nurjanah. Ibunya adalah sosok ibu tunggal yang telah berjuang membesarkan putra-putrinya sejak ayahnya Abdul Muin Saidi, berpulang ketika Nurhayati masih berusia 16 tahun.

Bagi Nurhayati, sosok ibu adalah yang menanamkan mental kerja keras kepada putra-putrinya melalui keteladanan.

Seorang laki-laki yang bernama Subakat Hadi, menyatakan keinginannya untuk meminang Nurhayati. Saat itu, laki-laki itu sedang mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam. Subakat melamar Nurhayati melalui perantara kakaknya yang juga sedang berada di Amerika Serikat.

Nurhayati, lalu menikah dengan Subakat Hadi  pada 1978 dan mengikuti suaminya pindah ke Jakarta. Kala itu, ia sempat menjadi Calon PNS (CPNS) di rumah sakit itu, tapi karena ada kesulitan dalam mengurus surat-surat pindah, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan itu semua.

Setibanya di Jakarta, ia mencoba melamar pekerjaan berdasarkan informasi dari seorang temannya, namun kegagalan kembali menghantuinya. Tak berputus asa, ia memanjatkan doa kepada sang pencipta agar diberi pekerjaan yang terbaik.

Tak sampai satu minggu, ada seorang temannya memberi kabar, ada industri kosmetik dari Jerman sedang mencari seorang apoteker.

Nurhayati bergegas melamar kesana dan langsung diterima dengan gaji empat kali lipat dari waktu bekerja sebagai apoteker. Ia bergumam, melihat kegagalan demi kegagalan, mungkin kita diuji dulu sama Allah dengan tidak memberi yang kita inginkan, tapi Allah memberi lebih dari yang kita inginkan.

Selama lima tahun, ia menggeluti kosmetik diperusahaan Jerman itu, sampai dikaruniai tiga orang anak. Dengan tiga anak, sebagai wanita pekerja, ia merasa kesulitan, karena pabrik tempatnya bekerja berada jauh dari tempat tinggalnya yakni di Jalan Raya Bogor.

Beruntung, Nurhayati dikasih waktu yang agak fleksible oleh CEO perusahaan itu, namun saat CEO berganti yang baru dan “galak” kebijakan itu berubah. Ia sempat kesal, karena selama ini sudah nyaman dengan kebijakan pimpinan lama.Akhirnya Nurhayati memilih untuk mundur demi anak-anaknya.

Ia kemudian bangkit kembali, dengan dibantu dua orang karyawan yang latar belakangnya adalah asisten rumah tangga ia mendirikan sebuah usaha kosmetik “home industry” . Dari dua karyawan lalu meningkat menjadi 25 orang.

Usahanya terus berkembang. Berbekal latar belakang pendidikan farmasi dan lima tahun pengalaman bekerja di salah satu perusahaan kosmetik multinasional, Nurhayati memutuskan untuk mendirikan perusahaan pada 1985, yang diberi nama PT Pusaka Tradisi Ibu (PTI) yang tujuan utamanya dapat memberikan kontribusi yang besar kepada masyarakat.

Lagi-lagi musibah datang. Pada 1990, pabrik dan kantornya, terbakar. Ia mengalami kerugian yang jumlahnya tak sedikit dan menanggung beban hutang perusahaan yang cukup besar. Pantang menyerah, ia lalu mengajukan pinjaman di bank sebesar Rp 50 juta, namun pihak bank malah menawarkan pinjaman lebih dari yang ia butuhkan yakni sebesar 150 juta, ia pun kembali bangkit membangun usahanya.

Ia bersyukur, karena masih ada relasi yang memberi kepercayaan dari kebaikan dan kejujuran yang ia tebar saat menjalankan usaha.

Pada 1995, produk kosmetik “wardah” hasil racikannya lahir sebagai pioneer kosmetik halal dan “booming”di Indonesia. Bisnis kosmetiknya makin “moncer” dan pundi-pundi uang menggalir deras, karena kepercayaan yang tinggi dari rekan bisnisnya.

Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu berganti nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI), sebuah nama yang terus melekat hingga saat ini, dengan tujuan agar dapat meningkatkan modernisasi perusahaan

Kini, Dr (HC) Dra Nurhayati Subakat, Apt, menjadi Founder dan Komisaris Utama PT Paragon Technology and Innovation (PTI).

Bakat dagang dan jiwa sosial, mengalir dari ayahnya yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Padang Panjang. Ayahnya adalah sosok pedagang sukses. Ibu dan neneknya juga pedagang ulet.

“Semua menjadi sumber inspirasi sekaligus faktor bawaan dan didikan keluarga untuk menjadi pengusaha sukses,” tutur wanita kelahiran Padang Panjang, 27 Juli 1959 ini.

Motivasi dan doa selalu ia dipanjatkan agar para karyawan semangat bekerja, sehingga perusahaannya berkembang dan bisa membantu banyak orang

“Hal inilah yang saya tanamkan terhadap anak-anak saya, tentang bagaimana agar selalu dapat membantu orang lain,” ucapnya.

Karakter itu juga diterapkan terhadap 12.000 karyawannya yang tersebar di Indonesia dan Malaysia dalam mengembangkan bisnis kosmetik terkemuka di Indonesia.

Pertolongan dari sang pencipta melalui kemudahan-kemudahan dari arah yang tak terduga, telah menempa sikap kepedulian dan bersyukur atas nikmat yang diberikan, telah membawa energi timbal balik dengan semakin kuatnya semangat bekerja.

“Bahagiakanlah orang lain, maka insyallah kita akan hidup bahagia,” tutup Nurhayati.(MRZ)