Beranda Berita PERTAHANAN UDARA: Super Hercules Produk Terkini, dari Georgia untuk Indonesia

PERTAHANAN UDARA: Super Hercules Produk Terkini, dari Georgia untuk Indonesia

0

Oleh: MIRZA

Selasa, 21 Februari 2023, di Lockheed Martin, Marietta, Georgia, Amerika Serikat, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, menerima pesawat C-130J-30 Super Hercules dengan nomor ekor (tail number) A-1339.

Pesawat itu diserahkan Vice President and General Manager for Lockheed Martin’s Air Mobility and Maritime Missions Organization, Rod McLean, dalam sebuah upacara resmi.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Rosan P Roeslani dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) Marsdya TNI Donny Ermawan, turut menyaksikan penyerahan tersebut.

“Awak Angkatan Udara Indonesia telah lama mempercayai C-130 untuk mendukung misi paling menantang yang dihadapi Indonesia dan negara-negara lain di Pasifik,” kata Rod McLean sebagaimana dikutip news.lokheedmartin.com (21/2/23).

Era baru Super Hercules ini, kata Rod McLean, mendukung Indonesia dalam mencapai kesuksesan misi dan armada angkut yang dapat mendukung tugas apapun, dimana saja, kapan saja, dengan lebih banyak tenaga, kekuatan dan kemampuan selama beberapa dekade mendatang.

Satu minggu kemudian, Selasa, 28 Februari 2023, burung besar besi itu diberangkatkan dari pabriknya di Lockheed Martin, Marietta, Georgia, Amerika Serikat menuju Jakarta. Lima “crew” dari Lockheed Martin dan Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Anjoe Manik dan Letkol Pnb Alfonsus serta satu teknisi TNI AU Kapten Tek Janar turut serta dalam penerbangan itu. Penerbangan dilakukan selama 34 jam dengan menempuh rute Marietta-Monterey-Honolulu-Kwajalein-Guam- Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma Jakarta.

Berselang seminggu kemudian, tepatnya Senin siang, 6 Maret 2023, di balik langit biru beralaskan awan putih, burung besi besar berwarna abu-abu itu muncul dan mendarat di landasan Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Deru mesin pesawat membahana menggetarkan landasan ketika pesawat menghempaskan rodanya menuju landasan “taxy way” di mana sejumlah awak media beramai-ramai mengabadikan mendaratnya pesawat kebanggan Indonesia di landasan udara TNI AU.

Bendera merah putih dari cat warna menempel pada ekor pesawat yang
di bawahnya tertulis nomor ekor (tail number) A-1139. Sayapnya dihiasi dua baling-baling berwarna hitam di kiri dan dua baling-baling lagi di sisi kanan. Di samping kiri kanan depan, tak jauh dari “cockpit” atau “flight deck” tempat Pilot dan Co-Pilot mengendalikan pesawat tertulis “TNI ANGKATAN UDARA, INDONESIA AIR FORCE”.

Disamping pintu masuk pesawat dekat jendela “cockpit” terpampang lambang Skadron Udara 31/Angkut Berat (Skadud 31) berjuluk Rajawali dengan motto “Tegar, Ikhlas, Tuntas” makin membuat gagah burung besi besar itu.

Pesawat pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk TNI AU itu mulai berjalan pelan di pandu mobil pemadam kebakaran yang berada di depannya dengan lampu strobo berwarna kuning menyala-nyala. Pesawat kebanggaan masyarakat dirgantara Indonesia itu berjalan dengan gagah ‘nan berwibawa, melintasi “taxi way” (apron). Sedangkan di sisi kiri dan kanan sudah menanti dan berjejer mobil pemadam kebakaran.

Gumpalan air mulai disemprotkan ketika pesawat itu melintas, sehingga air membentuk lengkungan dan membasahi seluruh badan pesawat. Itulah “water salute”, sebuah upacara penghormatan dalam dunia penerbangan.

Tradisi “water salute” itu biasa dilakukan saat burung besi pertama kali mengudara dan tiba di bandara atau harus pensiun dari dunia penerbangan usai lama beroperasi. Tradisi ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan, namun juga sebagai ungkapan terimakasih.

Di dalam pesawat tersebut, ada interior memanjang berwarna merah dengan jaring-jaring sebagai penyangganya, terdapat baris kursi warna merah dengan jaring di belakangnya. Beberapa sling baja tertambat di langit-langit pesawat untuk penerjun statis di sisi kanan dan di sisi kiri, terbentang di bagian atas kursi. Sling baja ini berguna untuk dijadikan pegangan bagi mereka yang berdiri.

Di bagian langit-langit pesawat tidak memakai penutup membuat kabel-kabel, kerangka-kerangka dan pipa-pipa terlihat jelas. Beberapa tas kecil peralatan medis warna hijau dengan lambang palang merah terpampang di dinding kabin di pesawat ini.

Pesawat pesanan pertama dari lima unit pesanan ini, dilengkapi sistem manajemen kargo otomatis terkomputerisasi yang disebut “Enhanced Cargo Handling System (ECHS). Karena kecanggihannya membuat proses penanganan kargo C-130J dapat dilakukan oleh seorang “loadmaster” saja.

Pesawat ini memiliki kapasitas kargo hingga 20 ton atau setara dengan 8 palet dan 97 tandu, 128 pasukan tempur, dan 92 pasukan terjun. Pesawat ini memiliki kecepatan: 410 mph/356 ktas (Mach 0,58) pada ketinggian 22.000 kaki (6.706 meter).

Ketinggian maksimum yang dapat dicapai pesawat ini adalah 26.000 kaki (8.000 meter) dengan muatan 44.500 pound (20.227 kilogram). Sementara muatan maksimum yang diizinkan: 44.000 pound (19.958 kilogram). Rentang pada muatan normal maksimum: 2.417 mil (2.100 mil laut) dan rentang dengan 40.000 pon muatan : 2.390 nm/4.425 km.

Pesawat C-130J-30 Super Hercules adalah pesawat angkut militer bermesin turboprop empat mesin dengan type mesin Rolls-Royce AE 2100. Type C-130J merupakan update komprehensif Lockheed C-130 Hercules, dengan mesin baru. Jarak tempuh pesawat ini adalah 3.334 km, dengan kecepatan maksimal 670 km/jam.

Panjangnya mencapai 30 meter dengan rentang sayap sekitar 40 meter.Kecepatan daya jelajah pesawat angkut berat ini mencapai 643 km/jam.

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Agustinus Gustaf Brugman, menjelaskan, pesawat ini memiliki kelebihan terbang lebih jauh dan kecepatan yang lebih bagus dari pesawat hercules sebelumnya.

“Pesawat ini juga bisa mendarat di landasan yang tidak disiapkan (unprepare), hal itu dibuktikan dalam penanganan bencana alam di Sulawesi Tengah pada 2021 lalu. Pesawat C-130J- 30 Super Hercules A-1339 juga memiliki banyak muatan yang bisa dibawa serta kecepatannya yang lebih bagus,” tutur Wakasau Marsekal Madya TNI Agustinus Gustaf Brugman.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah, menjelaskan, TNI AU melakukan pengadaan alutsista dalam program tahun sebelumnya (2019) yakni pesawat Super Hercules C-130J-30 untuk menambah jajaran kekuatan pesawat hercules.

“Ini adalah bagian dari pengiriman pertama Super Hercules (ada lima unit pesanan). Kemudian kedatangan berikutnya direncanakan pada bulan Juni, Juli, Oktober 2023 dan Januari 2024. Pesawat Hercules itu akan ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Lanud Halim Perdanakusuma,” tutur Kadispenau Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah, di Green Terrace, TMII, Jakarta Timur, Selasa, 21 Februari 2023.

Untuk menambah kemampuan dalam mengendalikan Super Hercules, sejumlah personel TNI AU, baik penerbang maupun “crew” telah mengikuti sejumlah pelatihan di Lockheed Martin, Amerika Serikat. Ada 12 orang Pilot Training yang menjalani pelatihan, enam loadmaster training dan maintenance crew training (airframe, propoltion, electrical dan avionic) sejumlah 30 personel.

Dua hari kemudian, Rabu, 8 Maret 2023, Presiden Joko Widodo, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Panglima TNI Yudo Margono, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid dan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo hadir di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Di Apron Pandawa, Menhan Prabowo Subianto menyerahkan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Pesawat C-130J-30 Super Hercules A-1339 dan A-1315 kepada Panglima TNI untuk diserahkan kepada Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau).

Penyerahan secara simbolis pesawat Super Hercules C-130J-30 ditandai dengan penyerahan replika kunci dari Menhan Prabowo kepada Panglima TNI di hadapan Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkesempatan menyiram moncong pesawat dengan air bunga. Presiden didampingi Menhan dan Kasau juga melihat-lihat interior dalam pesawat dengan dipandu Komandan Skadron 31 Letkol Pnb Anjoe Manik.

“Ini adalah pesawat yang sangat canggih. Pesawat ini bagus untuk operasi militer maupun non militer, untuk bencana alam juga bisa dan bisa menjangkau seluruh wilayah Indonesia, karena pesawat Super Hercules ini bisa terbang 11 jam,” ucap Presiden Joko Widodo usai menyaksikan penyerahan pesawat C-130J-30 Super Hercules tersebut.

*Dukungan Presiden RI*

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, mengatakan, dukungan pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo dalam sejarah pertahanan sangat besar, namun Presiden memiliki prioritas, terutama dalam penanganan Pandemi Covid-19 tahun-tahun kemarin.

“Dukungan Pak Presiden Jokowi, itu saya lihat dalam sejarah untuk pertahanan itu terbesar, terbesar. Tapi kita, beliau punya prioritas, kita kemarin mengalami (pandemi) Covid-19 yang sangat berbahaya. Jadi prioritas beliau, kita utamakan keselamatan rakyat. Itu saya kira,” beber Prabowo.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, menyampaikan, pesawat ini dapat digunakan untuk Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dan memiliki jarak jangkau yang lebih jauh dibanding pesawat hercules terdahulu.

“Engine-nya itu baru, jarak jangkaunya lebih jauh (dibanding Hercules terdahulu) dan bahan bakarnya lebih irit,” begitu kata Kasau.

Operasi Militer Perang (OMP) adalah sebuah bentuk pengerahan dan penggunaan kekuatan TNI untuk melawan kekuatan militer negara lain yang melakukan agresi terhadap Indonesia atau dalam konflik bersenjata dengan satu negara lain atau lebih yang didahului dengan pernyataan perang.

Sedangkan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) adalah operasi militer yang dilakukan bukan dalam rangka untuk perang dengan militer negara lain, melainkan untuk tugas-tugas kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Home Base Super Hercules di Halim Perdanakusuma

Pesawat canggih ini mampu beradaptasi dengan beragam medan operasi di Indonesia dan telah sukses menjalankan tugas operasi militer dan kemanusiaan. Teknis pengoperasian pesawat ini tak jauh berbeda dengan jenis pesawat hercules sebelumnya

Lanud Halim Perdanakusuma berada di pusat pemerintahan negara Republik Indonesia, karenanya memiliki posisi yang strategis. Halim Perdanakusuma merupakan pintu gerbang bagi Indonesia untuk tamu-tamu penting kenegaraan setingkat dengan kepala negara atau “Very Important Person” (VIP) dan “Very Very Important Person” (VVIP) yang menerima hak istimewa daripada orang-orang biasa.

Lanud Halim Perdanakusuma adalah Lanud dengan Type A di jajaran Komando Operasi Udara I (Koopsau I) yang membawahi empat Skadron Udara (Skadud) dan satu Skadron Teknik (Skatek), selain menyelenggarakan penerbangan VIP/VVIP, tentunya memiliki program operasi dan latihan dalam melaksanakan tugas serta meningkatkan profesionalisme personel terutama terhadap awak pesawat (air crew) yang ada dijajaran Lanud.

Mantan Danlanud Halim Perdanakusuma, Marsda TNI (Purn) Tjokong Tarigan Sibero, dalam tulisannya “Menjemput Kedatangan C-130J-30 Super Hercules” di “Majalah Angkasa” Edisi Januari 2023 menyebut, Lanud Halim Perdanakusuma disiapkan sebagai sarana dalam mendukung operasi yang kelak akan menjadi “Home Base” untuk pesawat-pesawat tersebut.

Posisi Lanud Halim Perdanakusuma yang dekat dengan pusat pemerintahan, menjadi pertimbangan penempatan Super Hercules itu. Sehingga, bila terjadi sesuatu yang bersifat darurat dan membutuhkan respon cepat dan angkutan, pesawat itu sudah tersedia di tempat itu dan tidak perlu menunggu didatangkan dari tempat lain.

Pesawat Super Hercules TNI AU ini akan bermarkas di Skadron 31 Lanud Hallim Perdanakusuma, Jakarta. Sedangkan, pesawat yang ada di Skadron 31 akan bergeser ke Lanud Abdurachman Saleh, Malang, Jawa Timur untuk memperkuat Skadron 32 di sana.

“Skadron Udara 31 sebagai satuan yang akan mendapatkan tanggung jawab mengoperasionalkan pesawat, segera menyiapkan dengan baik dan memanfaatkan Program Training in Country untuk meningkatkan kemampuan awal pesawat TNI AU, baik dalam pengoperasian pesawat, maupun pemeilharaan dan perawatan C-130J-30 Super Hercules,” begitu pesan Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo kepada Komandan Skadron Udara 31, Letkol Pnb Anjoe Manik, ketika meninjau Super Hercules, Senin, 6 Maret 2023 di Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Skadron Udara 31 merupakan cikal bakal bersarangnya “Rajawali Besi” C-130B sejak 4 April 1961, Skadron Udara Percobaan Hercules menjelma menjadi Skadron Udara Angkut Berat, jarak jauh yang melahirkan Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma.

Lima belas negara telah mengirimkan pesanan sebanyak 300 pesawat C-130J, di mana 250 pesawat telah dikirim pada Februari 2012. Selain Indonesia, lahirnya Super Hercules C-130J-30 ini juga diminati negara-negara lain seperti Australia, Canada, Denmark, India, Iraq, Israel, Italy, Kuwait, Libya, Nowegia, Oman, Saudi Arabia, Korea Selatan, Tunisia, Qatar, United Kingdom, dan Amerika Serikat sendiri.

Pesawat ini diawaki tiga kru yakni dua pilot, dan satu loadmaster dengan beban angkut: 42,000 lb. Kecepatan maksimal pesawat ini 362 knots, dengan jarak jangkau 2,835 nmi (3,262 mi, 5,250 km). Pesawat ini disokoong dengan mesin turboprof Roll Royce AE 2001D yang menghasilkan 4.700 tenaga kuda.

Indonesia adalah negara pertama di kawasan regional (Asia Tenggara) yang memiliki pesawat angkut militer Super Hercules C-130J-30

“Di kawasan, ini hanya baru Indonesia yang memiliki Super Hercules C-130J-30 dan kehadiran pesawat super hercules ini sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia,” ujar Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, usai serah terima pesawat Super Hercules C-130J-30, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 8 Maret 2023.(***)