LippoLand Perluas Peran Jadi Property Enabler, Dorong Hunian Rp100 Jutaan untuk Masyarakat

By
7 Min Read
LippoLand Perluas Peran Jadi Property Enabler.

Setelah hampir empat dekade membangun kawasan hunian di Indonesia, LippoLand mulai mengarahkan perannya lebih jauh dari sekadar pengembang properti.

Perusahaan yang memasuki usia ke-39 tahun itu kini memosisikan diri sebagai property enabler, dengan fokus menghadirkan solusi perumahan yang lebih relevan bagi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Langkah tersebut muncul di tengah tantangan besar sektor perumahan nasional.

Hingga kini, Indonesia masih menghadapi backlog atau kekurangan kepemilikan rumah yang mencapai sekitar 9 juta keluarga.

Kondisi itu membuat penyediaan hunian tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah ataupun satu pengembang semata.

CEO LippoLand, David Iman Santosa, menjelaskan bahwa perjalanan panjang perusahaan sejak 1987 membawa tanggung jawab untuk terus memahami perubahan kebutuhan masyarakat.

“Selama 39 tahun, LippoLand tumbuh bersama Indonesia. Karena itu, kami tidak hanya ingin melihat bagaimana industri properti berkembang, tetapi juga bagaimana kami dapat tetap relevan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam persoalan perumahan,” ujar David pada Jumat (2/10/2026).

Berangkat dari pengalaman membangun kawasan sejak era Lippo City dan Lippo Village, LippoLand berupaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang lebih terjangkau.

Salah satu upaya tersebut hadir melalui pengembangan rumah dengan harga mulai sekitar Rp100 juta dan cicilan sekitar Rp600 ribu per bulan.

Segmen hunian tersebut telah mencatat penjualan sekitar 5.000 unit. Namun, menurut David, angka tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan nasional.

“Angka backlog sekitar 9 juta keluarga menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Kami menyadari bahwa LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian,” katanya.

“Dibutuhkan partisipasi yang lebih luas dari seluruh pengembang, perbankan, pemerintah, dan seluruh ekosistem perumahan. Yang dapat kami lakukan adalah menggunakan pengalaman selama 39 tahun untuk mencoba menghadirkan dan menjadi inspirasi bagi solusi yang relevan,” terang David.

Selain melalui pengembangan hunian, kontribusi perusahaan juga tercermin lewat penghibahan lahan sekitar 30 hektare di kawasan Lippo Cikarang kepada negara. Langkah itu menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Bertumbuh Bersama Ekosistem

Di balik pembangunan berbagai kawasan dan proyek properti, LippoLand menilai keberhasilannya tidak lahir dari kerja perusahaan semata.

Perbankan, konsultan, tenaga penjual, kontraktor, perencana hingga penyedia layanan kota menjadi bagian dari ekosistem yang ikut membentuk perjalanan perusahaan selama 39 tahun.

David menyebut kemitraan sebagai fondasi penting dalam membangun kawasan yang mampu bertahan dan berkembang.

“LippoLand tumbuh bersama banyak partner. Ada perbankan yang membantu menyediakan pembiayaan, konsultan dan tenaga penjual yang membantu kami memahami serta melayani konsumen, para perencana dan kontraktor yang menerjemahkan konsep menjadi kawasan dan bangunan, hingga penyedia pelayanan kota yang memastikan kawasan dapat terus hidup dan berkembang. Mereka semua adalah bagian dari perjalanan 39 tahun LippoLand,” jelas David.

Selain memperkuat kolaborasi eksternal, perusahaan juga berfokus membangun kualitas sumber daya manusianya.

LippoLand menilai keberlanjutan bisnis tidak hanya bergantung pada aset dan produk, tetapi juga karakter orang-orang yang menjalankannya.

“Ke dalam, kami juga ingin membangun insan LippoLand menjadi manusia yang holistik, dengan value, akhlak, dan integritas yang tidak hanya tercermin dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupannya. Karena pada akhirnya, perusahaan dibangun oleh manusia,” kata David.

Pada 2025, LippoLand membukukan pra-penjualan sebesar Rp5,32 triliun dengan total penjualan 6.047 unit.

Portofolio perusahaan mencakup berbagai segmen, mulai dari hunian terjangkau hingga ultra luxury.

Membaca Peluang Pasar Kelas Menengah

Di tengah persaingan industri properti yang semakin ketat, LippoLand melihat pasar hunian menengah pada rentang harga Rp1 miliar hingga di bawah Rp2 miliar sebagai salah satu segmen paling menjanjikan.

Menurut David, pasar tersebut menjadi arena yang dihuni hampir seluruh pengembang besar.

Karena itu, perusahaan perlu mengolah pengalaman puluhan tahun untuk menghadirkan produk yang mampu bersaing dari sisi desain, kualitas, harga, maupun akses pembiayaan.

“Di market Rp1 miliar sampai di bawah Rp2 miliar, hampir semua pengembang bermain. Karena itu, kami harus kreatif dan menggunakan kembali seluruh pengalaman 39 tahun kami dalam menyediakan hunian,” ujarnya.

Tujuannya bukan hanya membuat produk, tetapi menghasilkan produk yang excellent di market, dengan price point yang tepat dan pilihan pembiayaan yang luas melalui partner perbankan kami,” tambah David.

Strategi tersebut salah satunya diwujudkan melalui peluncuran Brentwood Villas yang akan hadir di tujuh lokasi di Indonesia.

Brentwood Villas dan Tren Hunian Multigenerasi

Berbeda dengan konsep rumah konvensional, Brentwood Villas mengusung gagasan Vertical Villas, hunian premium yang dirancang untuk mengakomodasi kehidupan multigenerasi dalam satu rumah.

Konsep ini menawarkan rumah dua hingga tiga lantai dengan pembagian fungsi ruang yang lebih spesifik.

Pada tipe tiga lantai, lantai pertama menjadi ruang untuk orang tua lanjut usia, lantai kedua berfungsi sebagai pusat aktivitas keluarga, sementara lantai ketiga menjadi area privat bagi anggota keluarga yang lebih muda.

CMO LippoLand, Jopy Rusli, menyebut perubahan pola hidup masyarakat menjadi salah satu alasan lahirnya konsep tersebut.

“Rumah saat ini tidak lagi hanya dinilai dari luas atau lokasinya. Konsumen semakin mempertimbangkan bagaimana sebuah rumah mendukung kehidupan sehari-hari. Brentwood Villas kami hadirkan untuk menjawab perubahan tersebut melalui kombinasi desain, functionality, quality, dan enduring value,” ujar Jopy.

Untuk mewujudkan konsep itu, LippoLand menggandeng desainer hunian Alex Bayu dari Genius Loci dan arsitek lanskap Stephen Flynn dari Sheils Flynn Asia.

Kolaborasi keduanya berfokus menciptakan pengalaman tinggal yang menyatu antara desain bangunan dan ruang luar.

Menurut Jopy, Brentwood Villas bukan sekadar peluncuran produk baru, melainkan representasi dari transformasi yang sedang dijalani perusahaan.

“Brentwood Villas bukan sekadar produk baru. Ini merupakan bagian dari bagaimana LippoLand memasuki babak berikutnya: semakin memahami konsumen, semakin cermat menerjemahkan aspirasi mereka ke dalam desain, serta terus meningkatkan kualitas pengalaman hunian yang kami hadirkan,” tutur Jopy.

Memasuki usia ke-39 tahun, LippoLand tampak ingin memanfaatkan pengalaman panjangnya bukan hanya untuk membangun kawasan baru, tetapi juga menjawab persoalan yang lebih besar.

Dari proyek kota mandiri hingga penyediaan rumah terjangkau dan pengembangan hunian multigenerasi, perusahaan berupaya memperluas perannya menjadi bagian dari solusi kebutuhan perumahan Indonesia yang terus berkembang. (Rmt)

Share This Article