Kenaikan harga avtur masih menjadi tantangan besar bagi industri penerbangan global. Saat banyak maskapai menghadapi tekanan biaya operasional yang semakin berat, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan arah berbeda.
Maskapai pelat merah itu berhasil menjaga kinerja operasional tetap positif sekaligus memangkas rugi bersih pada semester pertama 2026.
Pendapatan Tumbuh
Laporan keuangan yang terpublikasi melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan beban avtur Garuda melonjak 43,6 persen menjadi US$677,6 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Manajemen Garuda Indonesia menyampaikan bahwa, pertumbuhan tertinggi datang dari segmen penerbangan tidak berjadwal yang naik 32,5% menjadi US$272,8 juta.
Angkutan haji menjadi pendorong utama dengan kontribusi US$232,2 juta, melonjak 51,6%.
“Kinerja tersebut sejalan dengan pemulihan armada. Hingga Juni 2026, armada operasional Garuda mencapai 104 pesawat,” tulis manajemen Garuda Indonesia dalam pernyataan resminya yang diterima tangerangonline.id pada Jumat (2/10/2026).
Laba Operasional Bertahan di Tengah Tekanan Biaya
Di level profitabilitas, EBIT Garuda naik 12,7% menjadi US$74,0 juta dan EBITDA tumbuh 5,8% menjadi US$431,6 juta.
Rugi bersih menyusut menjadi US$113,0 juta dari US$147,1 juta.
Tekanan biaya bahan bakar paling terasa pada kuartal II, ketika kenaikan beban avtur mencapai 90% secara tahunan.
Porsi bahan bakar terhadap pendapatan pun naik menjadi sekitar 37,7% dari 30,5%.
“Dari sisi neraca, Perseroan mencatat defisiensi modal US$52,15 juta per 30 Juni 2026, jauh menyusut dibandingkan US$1,5 miliar pada semester I tahun lalu. Kas dan setara kas per akhir Juni 2026 tercatat US$624,3 juta,” jelasnya.
Rencana aksi korporasi disampaikan Garuda melalui keterbukaan informasi di BEI pada Rabu (30/9/2026) malam.
Perseroan berencana menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III dengan menerbitkan maksimal 124,35 miliar saham baru.
Manajemen menyebut jumlah tersebut masih merupakan perkiraan.
Garuda memposisikan aksi ini sebagai bagian dari rangkaian restrukturisasi dan penyehatan perseroan, sekaligus tindak lanjut atas inbreng lahan PT Angkasa Pura Indonesia (API) kepada GMFI.
Dalam skema tersebut, PT Danantara Asset Management (DAM) selaku pemegang saham utama akan menebus HMETD yang menjadi haknya dengan menyetorkan
saham GMFI senilai Rp5.664.912.000.000 sebagai setoran modal selain uang.
Sebagai imbalannya, Garuda akan menerbitkan saham baru kepada DAM sesuai nilai inbreng dan harga pelaksanaan final.
Adapun pemegang HMETD lainnya dapat melaksanakan haknya melalui penyetoran tunai. Saham GMFI yang menjadi objek inbreng saat ini masih dimiliki API.
Saham itu akan dialihkan lebih dulu kepada InJourney, lalu kepada DAM melalui pembagian dividen non-tunai (dividend in specie).
Setelah peralihan efektif, saham tersebut digunakan untuk memperkuat permodalan Garuda, sehingga sekaligus menata ulang kepemilikan Garuda atas GMFI di dalam ekosistem Garuda Indonesia Group.
Garuda menyatakan transaksi dilakukan berdasarkan prinsip kewajaran (arm’s length) dan mengacu pada POJK Nomor 42 Tahun 2020 tentang Transaksi Afiliasi
dan Benturan Kepentingan.
Perseroan juga telah memperoleh laporan penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) atas saham GMFI serta penilaian kewajaran transaksi.
Rencana ini masih memerlukan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 6 November 2026, serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kinerja GMF Menguat
Saham yang akan masuk ke Garuda berasal dari emiten yang kinerjanya sedang menanjak.
Pada semester I 2026, GMFI membukukan pendapatan US$270,29 juta, naik 51% secara tahunan, dengan EBITDA tumbuh 39% menjadi US$34,82 juta.
Laba yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai US$10,81 juta atau setara Rp193,55 miliar, naik 23,46%.
Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menjelaskan, kinerja itu ditopang tingginya pendapatan berbasis Time Material Basis dari grup Garuda maupun pelanggan nongrup, terutama proyek reaktivasi pesawat dan pekerjaan mesin untuk perusahaan penyewaan pesawat.
Neraca GMFI juga telah pulih. Per 30 Juni 2026, ekuitas GMFI tercatat US$144,62 juta, berbalik dari defisiensi modal US$248,99 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Proyeksi Analis
Dalam risetnya, analis Bahana Sekuritas Yogi memperkirakan harga pelaksanaan rights issue berada di Rp50 per saham, diskon 12,3% dari harga cum-date Rp57.
Harga teoretis setelah rights issue (TERP) dihitung Rp55,4, atau 2,9% di bawah harga cum, dengan nilai teoretis setiap hak sekitar Rp5,4.
Bahana memperkirakan pemegang saham publik dapat menyetor dana tunai hingga sekitar Rp496 miliar jika seluruhnya menebus haknya.
Dengan penyerapan penuh, defisiensi ekuitas Garuda diproyeksikan menyempit ke kisaran minus US$24 juta, sebelum memperhitungkan kinerja semester II 2026.
Dalam keterbukaan informasinya, Garuda memperkirakan PMHMETD III akan berdampak positif terhadap kondisi keuangan Perseroan.
Manajemen juga optimistis tren pemulihan berlanjut hingga akhir 2026 melalui penguatan penerbangan berjadwal dan disiplin efisiensi biaya (rmt)

