Naiknya harga minyak dunia dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sudah langsung berdampak pada komoditas plastik di Indonesia.
Di Kabupaten Tangerang, harga berbagai produk plastik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, bahkan mencapai hingga 55 persen.
Berdasarkan pantauan di Pasar Gudang, Tigaraksa, kenaikan terjadi secara bertahap sejak pertengahan Ramadan sebelum akhirnya melonjak tajam.
Salah seorang pedagang plastik, Eko, mengatakan bahwa pada awalnya kenaikan harga masih relatif kecil. Namun dalam waktu sekitar satu minggu, harga langsung mengalami lonjakan cukup tinggi.
”Pertengahan puasa, naik dikit dulu. Naiknya masih per piece itu naik sekitar Rp500. Habis seminggu ke depan, baru langsung naiknya tinggi. Dari yang awalnya bisanya modalnya 9.000, sekarang udah modal jadi 14.000. Iya (naik 5.000),” ujar Eko, Selasa (7/4/2026).
Kondisi tersebut memaksa pedagang menyesuaikan harga jual meski dengan maraih keuntungan yang tetap tipis. Eko menyebutkan, ia hanya menaikkan harga sekitar Rp1.000 dari modal, sehingga produk dijual seharga Rp15.000 per unit.
Ia menambahkan, hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan, terutama plastik bening berbahan baku murni. Sementara itu, plastik hitam yang berasal dari bahan daur ulang relatif lebih stabil.
Dari sisi permintaan, reaksi pembeli pada awalnya cenderung negatif. Banyak pelanggan yang mengeluhkan kenaikan harga dan sempat menunda pembelian untuk membandingkan harga di toko lain. Namun, setelah mendapati harga yang relatif sama, mereka tetap melakukan transaksi.
”Ya namanya barang naik pasti komplain dulu. Dia kan butuh, tetap dibeli, cuma komplain dulu. Dia menarik dulu, dia nggak beli dulu, cek dari dulu toko yang lain, toko sebelah istilahnya ya kan. Iya sama, naik juga,” terangnya.
Meski transaksi tetap berjalan, kenaikan harga berdampak pada penurunan omzet pedagang. Eko mengaku pendapatannya turun drastis. Jika sebelumnya omzet harian bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp2,5 juta, kini untuk menembus Rp1 juta saja cukup sulit.
Selain itu, pedagang kini lebih berhati-hati dalam mengelola stok. Jika sebelumnya mereka mampu menyimpan persediaan hingga satu bulan, kini pembelian dilakukan dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan satu hingga dua hari guna menghindari potensi kerugian akibat fluktuasi harga.
”Jadi sepemakaian habis sehari dua hari ya belanja. Biasanya kan bisa sampai satu bulan kita stok barang ya kan. Barang mahal ya kan,” terangnya.
Kenaikan harga juga merambah ke produk turunan seperti styrofoam. Eko menyebutkan, harga styrofoam yang sebelumnya Rp22.000 kini meningkat menjadi Rp30.000 per kemasan.
Pedagang lainnya, Afdal, juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia menyebut omzet tokonya turun hingga 50 persen, dari Rp2 juta menjadi sekitar Rp1 juta per hari. “Turun, dari Rp2 juta ke Rp1 juta,” terangnya
Ia berharap kondisi pasar segera kembali stabil agar aktivitas perdagangan dapat pulih. Menurutnya, kenaikan harga ini tidak terlepas dari dampak konflik global yang memengaruhi pasokan bahan baku dari luar negeri.
”Harapannya harga stabil lagi, normal lagi. dampak dari peperangan itu ya, bahan bakunya kan dari sales, Nah, dampak itu tuh, kan bahan bakunya kan dari sana.” tandasnya. (Rez)
Pedagang Menjerit, Harga Plastik di Kabupaten Tangerang Naik Hingga 55 Persen

