Beranda Jejak+ Sang Aktivis Jadi Rektor

Sang Aktivis Jadi Rektor

0

“Loh, saudara kok sudah siap-siap?,” tanya seorang Perwira Intel.
“Iya, Pak. Soalnya teman-teman  saya gak balik-balik, saya sudah tau,” jawab Sugeng Hidayat sambil membawa sarung.
Begitulah percakapan singkat Sugeng Hidayat dengan Perwira Intel sebelum ditahan, karena mengadakan rapat rencana demo menjelang sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Kejadian di masa muda Sugeng tahun 1978 menguak kembali dalam ingatannya ketika dirinya bercerita kepada tangerangonlineID.

Sugeng mengenang peristiwa yang membuatnya ditahan selama dua minggu.
“Waktu itu Rektornya tentara. Mahasiswa tidak bebas bergerak. Kami sampai dikirimi pakaian dalam wanita oleh anak-anak dari Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia karena tidak pernah mengadakan kegiatan,” ujar Anggota Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang tahun 1978 itu.
“Kami marah, kayak dianggap banci. Yaudah kami rapat di kamar mayat anak kedokteran yang gak diawasi, tapi ketahuan juga,” tambahnya.
Siapa sangka, aktivis yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu kemudian menjabat sebagai Rektor Universitas Pamulang selama dua periode berturut-turut dari tahun 2003 hingga 2012.
Sepak terjangnya di dunia pendidikan patut diacungi jempol. Pribadi humoris dan gaya khasnya bercerita yang sering melontarkan banyolan membuat banyak Mahasiswa menyukai. “Pernah waktu itu mengajar dan ruangan jadi penuh karena Mahasiswanya banyak yang masuk untuk dengerin saya cerita,” ujarnya tertawa terbahak-bahak.
Ia mengatakan bahwa mengajar adalah panggilan hatinya dan hal itulah yang membuatnya fokus di dunia pendidikan.

Sugeng mengaku bangga bisa wisuda padahal berangkat dari Desa atau latar belakang kurang mampu.
Selepas menjadi Rektor UNPAM, Sugeng Hidayat aktif di beberapa organisasi sosial masyarakat seperti menjadi pembina Muhammadiyah Tangerang Selatan, anggota Majelis Muhammadiyah tingkat Banten, ketua badan pengawas Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM), dan ketua dewan pengawas koperasi UNPAM.
Ketika ditanya perihal membagi waktu, dengan santai Ia menjawab, “Saya itu seneng. Kalo seneng dan dari dalam hati melakukannya enak-enak saja,” ujar pelatih pejabat dinas di Pusat Pendidikan dan Latihan (pusdiklat) sebelum menjadi Rektor UNPAM.
Ia pun memberikan kunci jitu menjadi pemimpin kepada tangerangonline. “Yang penting itu ngemong, tidak selalu instruksional tapi kadang juga harus mengalah. Cari apa yang sesuai dengan mereka. Itu namanya seni dalam memimpin,” ujar Staff ahli Yayasan Sasmitas Jaya.
Sugeng memang berjiwa sosial tinggi. Ia pernah mengasuh anak yatim dan menyekolahkan serta membiayai seluruh perlengkapan sekolah anak itu. Kemudian karena hal itu pula Sugeng yakin mengapa karirnya dapat melesat dari waktu ke waktu.
Kakek yang telah memiliki 8 cucu ini mengatakan, dirinya merasa cukup atas apa yang telah dicapainya.

Kini, Ia hanya menunggu hari Sabtu tiba ketika cucu-cucunya datang berkunjung ke rumah pria kelahiran 12 Oktob 1955 ini.

“Gak pengin karir lagi. Umur telah mencapai 60 tahun dan waktunya menata ibadah saya,” pungkasnya. (ayu/dwi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini