Home Home Agama dan Jomblo

Agama dan Jomblo

0

Oleh: Rudy Gani, Ketua Badko HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) 2010-2012.

Jomblo identik dengan kesendiriaan. Sedang agama identik dengan keramaiaan.

Agama dikatakan ramai karena ajaran dan pengikutnya. Sedangkan jomblo dikatakan sunyi dan sepi karena makna katanya adalah “sendiri” (tidak punya pasangan).

Definisi itu menegaskan bahwa keduanya saling bertentangan sekaligus memiliki pemaknaan yang berbeda. Namun, kedua kata itu sesungguhnya dapat dipadupadankan dalam sebuah kalimat yang menggambarkan keberadaan agama kita dewasa ini. “Agama Jomblo”.

Agama sejatinya mengajarkan kebaikan. Ia akan menjadi sempurna tatkala seluruh ajarannya menuju kebaikan yang paripurna. Wujud kebaikan itu tercermin dari prilaku yang ditunjukkan pengikutnya. Hubungan antara sesama manusia merupakan perantaranya.

Maka, ketika orang itu beragama, prilaku serta kecakapan dirinya tercermin dari tutur kata dan empatinya. Merasa bersedih ketika tetangganya tertimpa musibah. Ikut prihatin jika teman mengalami kesulitan. Dan sebagainya.

Sayang, konsep ideal manusia beragama itu nyatanya mulai meluntur. Agama saat ini dikelilingi pikiran ekstrim dan fundamental. Agama seolah hadir dalam ruang yang menakutkan.

Seberapa parahkah kondisi keberagaman kita saat ini? Tidak terlalu parah, tetapi juga tidak terkesan baik. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah karena agama kini menjomblo karena ditinggal kekasihnya. Orang-orang baik yang berprilaku bak malaikat memilih diam seribu Bahasa.

Kelompok ini beralih kepinggiran. Mereka hanya melihat dan mengamati. Bahkan memilih menjadi resi dipegunungan sunyi dan sepi. Akhirnya, kaum yang mengaku “paling beragama” mengambil alih panggung utama.

Kelompok ini lalu memonopoli dokrtin agama sebagai “darah dan nanah”. Berbagai teror dan prilaku lain yang terwujud dalam tindakan anti kemanusiaan itu salah satu buktinya.

Sehingga, agama menjadi ruang yang penuh dengan kata-kata “kafir mengkafirkan”.

Lalu, timbul pertanyaan, sampai kapankah agama dianaktirikan sebagai sumber bencana bagi kemanusiaan?

Pikiran baik kita menerawang. Akankah datang “juru selamat” yang akan menyelamatkan ketersesatan manusia dalam memahami agama? Atau akankah tiba sebuah masa dimana manusia akan tersadar bahwa cara beragama mereka saat ini salah kaprah?? Wallahu Allam.

Sejatinya, manusia hanya bisa menduga-duga. Berharap kebaikan secara terus menerus. Sebab, tugas manusia hanyalah berusaha. Bekerja keras untuk membangun peradaban yang lebih baik untuk bangsa dan dunia.

Kembali lagi. Mari kita panggil kekasih itu untuk turun gunung. Meneduhkan kehidupan agama kita yang terkadung “gaduh” dengan “kafir mengkafirkan”.

Sebab, agama hadir untuk memberikan ketenangan dan kasih sayang bagi sesama manusia. Kasih sayang yang dimaksud pun melintasi batas-batas rekayasa manusia. Tidak tersekat oleh apapun. Karena agama sifatnya universal yang berisi nilai-nilai keutamaan bagi umat manusia.

Agar agama jadi tidak jomblo jadikan agama sebagai pasangan hidup yang terus menerus bersemayam dalam diri kita dimanapun berada. Tanpa ada rasa sakit hati dan berselingkuh dengan paham “Radikal dan Fanatisme” yang akhir-akhir ini menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI kita. Semoga saja. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here