Home Berita Menengok Keprihatinan PAUD Nurul Iman Setu

Menengok Keprihatinan PAUD Nurul Iman Setu

0

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Yayasan Nurul Iman di Jalan HK, Gang H Saad, RT02 RW 01, Kademangan, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), tampak memperihatikan. Dengan ruangan dan tempat belajar yang kurang nyaman tetap digunakan untuk kegiatan belajar para murid lantaran ketiadaan kemampuan untuk perbaikan.

PAUD yang berada di sebuah bangunan sempit, kumuh dan tak layak, puluhan murid PAUD Nurul Iman harus pula menahan sesak bau menyengat. Aroma berasal dari kotoran kandang kambing yang ada di sebelahnya, bau busuk begitu terasa menusuk hidung, apalagi saat bocah-bocah mungil itu berada di sekitar ruangan PAUD.

“Kami sudah 4 kali berpindah-pindah, pertama kali hanya di teras rumah, lalu pindah menyewa tempat, dan ini lokasi tempat yang kelima kita sewa, anak-anak sudah ‘kebal’ dengan bau kotoran dari kandang kambing. Disini hanya ada 2 ruangan, luasnya sekira 42 meter persegi, sangat kecil sekali,” tutur Supriyatiningsih, Kepala PAUD, Jumat (13/10/2017).

Iamenyatakan, PAUD Nurul Iman memiliki jumlah murid sebanyak 22 anak, yang berasal dari kalangan warga sekitar yang tak mampu secara ekonomi, sehingga menyekolahkan anaknya di PAUD tersebut.

“Saya tidak menekankan anak-anak untuk membayar uang sekolah, semua gurunya ada 5 orang, termasuk saya dan juga satu anak saya ikut mengajar, honornya seadanya saja dibagi rata dari wali murid yang mampu membayar. Saya nggak pernah berfikir untuk meminta bantuan dari Pemerintah Kota atau siapapun, saya hanya fokus bagaimana terus mendidik mereka sejak usia dini,” imbuhnya lagi.

Dari pantauan, bangunan kecil PAUD Nurul Iman nampak begitu sempit, beberapa sarana mengajar seperti bangku dan meja tulis pun tak tersedia. Anak-anak generasi penerus bangsa itu terbiasa belajar beralaskan tikar, sembari menahan dinginnya lantai ruang kelas.

Tak sampai disitu, struktur atap bangunan yang telah rapuh menyebabkan guyuran air hujan juga mengalir bebas kedalam ruangan. Meski sempat diperbaiki, namun tetap saja kondisi yang sama silih berganti menimpa bagian atap sisi lainnya yang juga rapuh.

“Yang paling utama, kami butuh bangunan yang layak, kalau masalah bangku dan kursi anak-anak kami sudah terbiasa lesehan diatas lantai. Kalau hujan sering bocor, semua sudah terbiasa,” ungkap Supriyatiningsih.

Sementara ini, bantuan pemerintah melalui belum nyata dirasakan. Keprihatinan tersebut telah mengundang empati dari sekolah PAUD lain di Kota Tangsel. (Arf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here