Home Berita Tangsel Bicara, Pelurusan Kebenaran Sejarah Tangsel

Tangsel Bicara, Pelurusan Kebenaran Sejarah Tangsel

0

Sebanyak 28 pegiat sosial yang tergabung dalam grup Whatsapp ‘Tangsel Bicara’ mengadakan Diskusi Publik bertema ‘Pelurusan Sejarah Kota Tangerang Selatan’.

Diskusi yang digelar di Bupe Resto, Cilenggang Serpong, Tangsel, Jumat (11/10) berlangsung hangat dan menghasilkan kesepakatan untuk membuat buku sejarah Kota Tangsel yang komprehensif, non politis dan melibatkan pakar sejarah kredibel dari kalangan akademisi.

Diskusi ini dihadiri para tokoh dan wartawan, antara lain Ketua PWI Tangsel, Junaidi Rusli, Mantan Wakil Bupati Tangerang Norodom Sukarno, Hidayat, Penggagas Kota Tangsel, Sania Wiraredja anggota Presidium Pembentukan Kota Tangsel, Ketua Bawaslu Tangsel M.Acep.

Juga mantan Komisioner KPUD Badrussalam, Mantan anggota DPRD Robert Usman, Budayawan Tb Sos Rendra, pegiat LSM Heri Lipkor, Ketua Kadin PB Tangsel Mizz Faradibba.

Pertemuan tersebut mengerucut dibentuknya wadah organisasi untuk memfasilitasi penulisan buku tersebut, yakni Perkumpulan atau yayasan Tangsel Bicara.

Junaidi Rusli yang tampil sebagai moderator, menyatakan sejarah harus ditulis dengan jujur dan apa adanya.

“Semut saja kalau berperan dalam sejarah, ya harus ditulis yang benar,” kata Junaidi membuka diskusi.

Pembicara pertama, Hidayat mengungkapkan, dari 4 buku sejarah Tangsel yang pernah terbit, semua meminta data – data dan dokumentasi yang dimilikinya.

“Tapi dari sekian informasi dan dokumen yang ia berikan untuk bahan penulisan, banyak yang tidak ditulis. Yang lebih kacau, ada usaha membelokkan fakta. Misalnya, tanggal 31 Maret 2002 adalah Deklarasi Kota Cipasera, dibelokkan jadi berdirinya KPPDO – KC (Komite Panitia Pembentukan Daerah Otonomi – Kota Cipasera,” ungkap Hidayat.

Hidayat juga mengaku, sejak dia pindah dari Deplu ke Pemkot Tangsel, dia merasa ada birokrat yang tak suka dirinya jadi tokoh.

“Saya ya diam saja. Saya biarkan. Masyarakat kan tau siapa sesungguhnya penggagasnya, “ujar Hidayat.

Sementara, Sania mengungkapkan, presidium itu dibentuk setelah ada kesepakatan dengan Bupati Tangerang Ismet Iskandar dan sejumlah penggiat pemekaran di Sekolah Muhamadyah, Pamulang.

“Dari situ Pak Ismet setuju pemekaran Kota Cipasera yang kemudian jadi Tangsel,” kata Sania.

Dan Presidium Pembentukan Kota Tangsel dibuat bukan tiga orang tapi enam orang, Yakni Hidayat mewakili KPPDO- KC, Zarkasih Noor Format, Margiono Bakor Cipasera, Sania Wiraredja Komber Cipasera, Soni Satria mewakili Anggota DPRD dan Rasyud Sakur.

“Nah, saya enggak tau Rasyud itu mewakili organisasi apa. Sebab Presidium itu representasi organisasi pemekaran,” ungkap Sania.

Ketua Bawaslu Tangsel, Acep yang sempat ikut aktif pemekaran kecamatan Serpong ini memberikan masukan, nantinya Buku sejarah Tangsel yang baru diberi judul Menggugat Sejarah Tangsel. Judul tersebut sebagai koreksi buku- buku sebelumnya yang isinya tidak sesuai dengan sejarah yang ada.

Sedangkan mantan komisioner KPU Tangsel Badrussalam menyebut lebih menginginkan buku sejarah Tangsel nantinya merupakan kompilasi kiprah empat organisasi pemekaran Kota Tangsel, yang nanti melibatkan pakar sejarah.

Selain menghasilkan kesimpulan diterbitkannya buku sejarah Tangsel yang komprehensif, non politis dan melibatkan pakar sejarah, terbentuk pula organisasi fasilitator penerbitan, nama yang diambil sesuai dengan grup WA Tangsel Bicara yang bergerak dibidang sosial dengan pengurus sementara yang disepakati Ketua : Junaidi Rusli, Sekretaris : Teguh Wijaya dan Bendahara: Mizz Faradiba,untuk posisi pengurus lainnya diserahkan kepada pengurus sementara yang akan membentuk. (Ed)