Home Bandara Garuda Indonesia ‘Rela Merugi’ Demi Konektivitas Udara

Garuda Indonesia ‘Rela Merugi’ Demi Konektivitas Udara

0
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5/2020). tangerangonline.id

BANDARA SOETTA – Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia tetap melayani penumpang di tengah Pandemi COVID-19. Bahkan Garuda Indonesia rela merugi demi terjaganya konektivitas Udara di Tanah Air.

Sejak dibukanya kembali penerbangan rute domestik pada awal Mei 2020 lalu, Garuda Indonesia hanya menerbangkan penumpang yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Adapun kriteria penumpang yang diperbolehkan menggunakan transportasi udara termaktub di dalam Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 No. 04/2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan, adanya larangan mudik dari pemerintah membuat okupansi setiap penerbangan tidak maksimal. Rata-rata penerbangan Garuda Indonesia hanya mengangkut 50 persen dari seat yang tersedia.

“Tahun ini sangat unik karena ada larangan dari pemerintah menolak mudik. Akhirnya menerima konsekuensinya (penumpang) sangat sepi saat ini, tapi kita membuka lagi penerbangan untuk memastikan konektivitas, bukan mencari uang dan bukan masalah bisnis lancar tapi kita memastikan agar menjaga konektivitas tidak berhenti khususnya antar pulau,” kata Irfan saat dijumpai di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (24/5/2020) kemarin.

Hal ini membuat Garuda Indonesia tetap harus terbang meskipun tingkat keterisian penumpang atau okupansi tidak sesuai dengan cost (biaya operasional yang dikeluarkan) untuk operasional penerbangan.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu atau pada priode angkutan lebaran, saat ini Garuda Indonesia hanya mengoperasikan 10 persen penerbangan domestik. Tahun lalu, Garuda Indonesia melayani kurang lebih 300 rute domestik.

“Sekarang hanya 10 persen, jumlah pesawat terbang 33 dibandingkan tahun lalu 300-an. Okupansi di tiap pesawat kita komitmen untuk menjamin keselamatan penumpang, distancing kita jaga, mayoritas di bawah 50 persen,” ujar Irfan.

Irfan menyebut, pihaknya tengah mencari solusi agar kedepannya komparasi antara biaya operasional dan pendapatan di setiap penerbangan dapat sesuai. Salah satunya dengan penyesuaian tarif yang merupakan keputusan dari regulator.

“Kita memastikan penumpang terbang saat ini yang harus pergi bukan yang mau pergi. Tapi balik lagi, jika semua diisi hanya 50 persen, bagaimana bisa hidup, oleh karena itu kita bicarakan lagi,” tutur Irfan. (Rmt)