Home Berita Kisah Perjalanan dan Cerita Komandan Seskoau Mendidik Perwira Siswa Saat Pandemi dan...

Kisah Perjalanan dan Cerita Komandan Seskoau Mendidik Perwira Siswa Saat Pandemi dan Belajar Perang Modern

0

 

Pagi itu, 14 April 2022, langit masih gelap, usai menyantap makanan sahur dan shalat subuh, langsung meluncur melintasi jalan arteri Depok, masuk tol Cimanggis arah Taman Mini, masuk Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (jalan layang MBZ ini terpanjang di Indonesia) menuju arah Bandung, Jawa Barat. Tak terasa, beberapa jam menikmati panorama jalan tol Cipularang yang lancar, akhirnya tiba di pintu tol Pasteur, Bandung. Langsung mengarah ke Lembang.

Kondisi jalan menuju Lembang menanjak dan menurun sungguh mengasyikkan, ditambah cuaca dingin menjadi teman setia selama perjalanan. Setelah beberapa kali memacu kendaraan, menurun, menjanjak, dan berbelok-belok, bahkan sempat tersasar, akhirnya tiba area Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau) di Lembang. Dari jalan hanya tampak terlihat papan nama dari seng sebagaiaman tulisan pennjuk jalan di tol bertuliskan “Bandung Cimahi” arah panah ke kanan dan “Mako Seskoau” arah panah ke kiri, tepat didepan minimarket yang memiliki parkir agak luas. Dibawah plang nama itu, ada papan nama bercat biru dengan tulisan warna putih, “Anda Memasuki Kawasan Militer” dengan panah ke kiri.

Masuk kedalam, akan ditemui perumahan penduduk di kiri dan kanan jalan. Di depan tampak terlihat gerbang berkelir biru, diatasnya burung garuda dengan sayap membentang dengan tulisan dibawahnya “Seskoau” dan lambang Swa Bhuana Paksa berwarna emas di kiri dan lambang Seskoau “Pragnya Paramartha Jaya” dikanan gerbang yang memiliki arti “Ilmu Pengetahuan Pangkal Kemenangan”. Pintu gerbang dua arah ini, hanya dibuka satu arah, mungkin untuk memudahkan pemeriksaan keluar masuk markas.

Lambang Swa Bhuwana Paksa TNI AU memiliki enam bagian, yakni burung garuda, yang memiliki sifat gagah dan berani melambangkan TNI AU sebagai pengawal kedaulatan negara. Sayap yang sedang dikembangkan, memiliki makna bahwa TNI AU selalu siap terbang (beroperasi) kapanpun diperlukan.

Sekitar pukul 11.00 WIB, masuk gerbang Seskoau, melintasi pintu Provost TNI AU. Ia bertugas sebagai penegak hukum yang mengawasi kedisiplinan prajurit TNI AU dan tamu. Usai melapor dan menyampaikan tujuan masuk Seskoau dan terjadi tanya jawab dengan Provost, maka petugas jaga menelepon pihak-pihak berkepentingan didalam markas, bahwa Seskoau kedatangan tamu dari Jakarta yang sudah membuat janji sebelumnya dengan Komandan Seskoau. Ditengah hujan deras, seorang prajurit berseragam loreng dengan mantel loreng mengawal dan mengantar masuk kedalam markas menuju Dinas Penerangan Seskoau.

Lama menunggu, sekitar pukul 14.00 WIB, tibalah waktunya untuk bertemu Komandan Seskoau yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Dinas Penerangan. Diruang tamu Komandan, Staf Administrasi (Stafmin) atau Sekretaris Pribadi yang sebelumnya datang ke Dinas Penerangan meminta hasil Polymerase Chain Reaction (PCR) yang merupakan metode untuk mengetahui sesorang positif Covid-19 atau tidak. Karena tidak membawa, maka dilakukan metode lain, yakni swab tes antigen dengan cara dicolok ke lubang hidung.“Alhamdulilah, hasilnya negatif Covid-19”.

Sekretaris Pribadi Danseskoau, mempersilahkan untuk duduk di loby, menanti kedatangan Komandan Seskoau. Tak lama, sebuh mobil golf (golf car) atau biasa disebut “buggy car” meluncur kencang menuju loby, hanya khusus untuk Komandan. Berpakaian dinas harian (PDH) lengkap dengan pangkat bintang dua berlist merah, tanda jasa, brevet keahlian penerbang tempur, brevet sekolah komando dari dalam dan luar negeri, sekolah Lemhannas, tanda jabatan serta brevet keahlian lainnya menempel didada kiri dan kanannya, Komandan Seskoau, Marsekal Muda (Marsda) TNI Widyargo Ikoputra. Ia tiba dengan menyetir sendiri. (Pangkat Marsda setara dengan Jenderal Bintang Dua).

Iko, begitu sapaan akrabnya, menyambut dengan hangat tangerangonline.id yang juga peserta Fellowship Jurnalis Pendidikan (FJP) Batch IV, Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP). Di ruang tamu Komandan, terlihat lukisan besar pesawat tempur terpampang di dinding. Lemari kayu berisikan cinderamata dari kolega dalam dan luar negeri tersusun rapih. Dua pot bunga plastik besar terpajang di dua buah meja dikelilingi kursi kulit besar berwarna hitam berjejer di kiri dan kanan untuk dua sampai tiga orang.

Tak ada makanan ataupun minuman kopi atau teh sebagaimana biasanya, karena suasana bulan suci ramadhan. Dua kursi besar khusus untuk satu orang menghadap ke depan arah tamu. Di beberapa meja, disiapkan hand sanitizer dan tisu, maklum masih suasana pandemi Covid-19. Bunga besar dengan daun plastik hijau bertengger di atas pot dekat jendela yang memiliki kaca lebar dan besar tertutup tirai horden tipis, sehingga cahaya matahari bisa menerangi ruangan. Di ruang kerjanya, berkibar bendera merah putih ditiang kayu sisi kiri dan tiang kayu sisi kanan berkibar bendera hitam dengan bintang dua berwarna keemasan, menambah kesan gagah dan wibawa penghuninya.

Marsda TNI Widyargo Ikoputra, bercerita tentang suasana pendidikan Seskoau selama pandemi Covid-19 dua tahun belakangan ini. Seskoau berjuang keras melawan Covid-19 varian Delta dan Omicron dan hasilnya sungguh menggembirakan. Swab tes dan PCR seara berlapis diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19. Kualitas pendidikan Perwira Siswa (Pasis) Seskoau tetap dapat dipertahankan, meski diterpa pandemi Covid-19.

Karena masih suasana pandemi, maka proses pembelajaran pun masih menerapkan Protokol Kesehatan yakni menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

“Untuk beberapa tahun belakangan ini, Seskoau memberikan kedewasaan dalam pembinaan. Lebih fleksibel, mengajarkan para pasis menunjukkan kedewasaanya di level middle officer ini untuk menyiapkan diri, bahwa suatu ketika Pasis akan diuji baik secara akademis, sikap tindak tanduknya dan kesamaptaan jasmaninya,” tutur Komandan Seskoau, Marsda TNI Widyargo Ikoputra.

Seskoau membuat kebijakan penataan pendidikan, dengan cara separuh (dua minggu) tidak masuk kampus, namun belajar secara daring dan separuh lagi lainnya belajar di kampus Seskoau. Sehingga setelah dua minggu belajar secara daring, masuk lagi ke Seskoau untuk belajar dikampus. dan bergantian separuh lagi tidak belajar di kampus. Hasilnya, Pasis yang terpapar Covid-19 tidak ada, kalau di prosentase hanya nol koma sekian persen saja. Antisipasi bagi yang terpapar Covid-19 juga sudah disiapkan, baik untuk isolasi mandiri atau penanganan secara medis oleh Dokter Seskoau.

Pelajari Perang Modern Generasi Kelima

Banyak pelajaran yang diajarkan di Seskoau, diantaranya belajar perang konvensioanl, latihan gabungan dalam perang, dan belajar akademis. Pasis Seskoau juga belajar perang generasi kelima dengan mata kuliah Perang Modern yang terdiri dari dua Sistem Kredit Semester (2 SKS). Mata kuliah ini membahas berbagai kasus perang yang terjadi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, guna menemukan inti permasalahan dan memberikan solusi atas setiap permasalahan yang berkaitan dengan perang modern.

Mata kuliah ini dirancang untuk mempelajari sifat, bentuk, pola perang asimetris, taktik asimetrik dan teori militer, tantangan asimetris, taktik melawan perang asimetris, teknologi perang asimetris, network centric warefare, entitas battlespace, doktrin tempur era informasi,  perang hybrida dan space warfare.

“Selain itu juga diajarkan tentang operasi ruang angkasa, komando ruang angkasa, strategi serangan dan pertahanan, aplikasi bahasan teknologi perang modern, diskusi kelompok satu dan dua tentang perang modern, diskusi antar kelompok tentang perang modern serta konflik intensitas rendah (low intensity conflict),” terang Komandan Seskoau, Marsda TNI Widyargo Ikoputra.

Peperangan generasi kelima lebih banyak bertumpu pada aksi kekuatan non-kinetik atau tanpa mengandalkan senjata konvensional. Misalnya, disrupsi energi, sosial, dan ekonomi, hingga disinformasi. Menghadapi potensi ancaman tersebut, TNI Angkatan Udara perlu memulai mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi peperangan generasi kelima.

Selain itu, peperangan generasi kelima akan lebih banyak menggunakan “cyber attack” atau serangan siber yang memanfaatkan teknologi terbaru seperti “artificial intelligence” dan “autonomous systems”.

“Peperangan generasi kelima diprediksi akan melibatkan elemen network-centric thinking, combat cloud constructs, multi-domain battle, dan fusion warfare,” tutupnya. (MRZ)