Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, Pemkab Tangerang Tetapkan Status Tanggap Darurat

By
3 Min Read
Asap putih membubung tinggi di TPA Jatiwaringin Mauk Tangerang. (Rez)

Pemerintah Kabupaten Tangerang resmi menaikkan status penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, dari Siaga menjadi Tanggap Darurat. Keputusan itu diambil menyusul meluasnya kebakaran dan dampak asap yang mulai mengganggu kesehatan masyarakat.

Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid mengatakan, peningkatan status dilakukan agar seluruh sumber daya dapat dikerahkan secara maksimal untuk mempercepat proses pemadaman dan penanganan dampak kebakaran.

“Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut kesehatan masyarakat dan risiko api yang terus menjalar. Dengan status ini, penanganan bisa lebih optimal,” ujar Maesyal, Rabu (1/7/2026).

Menurut Maesyal, keputusan tersebut merupakan hasil rapat evaluasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta sejumlah instansi terkait yang digelar sehari sebelumnya.

Pemerintah Kabupaten Tangerang juga telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati sebagai dasar pelaksanaan status tanggap darurat.

Ia menjelaskan, peningkatan status dilakukan karena sejumlah indikator menunjukkan kondisi kebakaran semakin serius, mulai dari meluasnya area terdampak, bertambahnya titik api, memasuki musim kemarau, hingga asap yang mulai mencapai kawasan permukiman.

“Asap terbawa angin dan lokasinya sangat dekat dengan permukiman warga, sehingga perlu penanganan yang lebih cepat,” katanya.

Untuk mempercepat pemadaman, pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu langkah yang disiapkan adalah pengerahan helikopter water bombing guna menjangkau titik api yang tidak dapat diakses kendaraan pemadam kebakaran.

“Kami berharap seluruh pihak dapat membantu penanganan kebakaran ini agar api segera padam dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan,” ujar Maesyal.

Sementara itu, BNPB turut melakukan pemantauan terhadap perkembangan kebakaran yang masih berpotensi meluas. Kepala BNPB Suharyanto menginstruksikan jajarannya untuk segera melakukan asesmen di lapangan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta memperkuat operasi pemadaman.

Berdasarkan hasil asesmen sementara, proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Material yang terbakar didominasi tumpukan sampah dan bahan mudah terbakar, sementara sebagian titik api berada di area dengan timbunan sampah yang tinggi sehingga sulit dijangkau petugas.

Kondisi tersebut diperparah oleh cuaca panas dan embusan angin yang cukup kencang sehingga api cepat merambat ke berbagai sisi.

BNPB menyiapkan dua helikopter water bombing untuk mendukung pemadaman dari udara. Selain itu, opsi operasi modifikasi cuaca juga disiapkan apabila kondisi kebakaran terus memburuk.

“Kita datangkan dua helikopter water bombing dan apabila diperlukan akan dilakukan operasi modifikasi cuaca,” kata Suharyanto.

Di darat, proses pemadaman terus dilakukan dengan mengerahkan 10 unit mobil pemadam kebakaran dari berbagai instansi. Petugas memfokuskan upaya pemadaman pada area yang masih dapat dijangkau guna menahan penyebaran api.

Hingga Rabu, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare.

Dampak kebakaran juga mulai dirasakan warga sekitar. Sebanyak 30 kepala keluarga atau 52 jiwa terpaksa mengungsi ke Balai Desa Tanjakan Mekar akibat terdampak asap pekat dari kebakaran TPA Jatiwaringin.

Share This Article