Potensi Rp7,8 Triliun, Whitesky Aviation dan AutoFlight Siapkan Ekosistem eVTOL 10 Tahun ke Depan

By
3 Min Read
Ari Nurwanda, Chief Commercial Officer Whitesky Group (kiri) dan Jia Xie, Senior Vice President AutoFligh (kanan) teken Letter of Intent (LOI) pengembangan eVTOL Indonesia, di Cengkareng Heliport, Tangerang pada Rabu, 12 Agustus 2026. Foto: tangerangonline.id

Indonesia resmi melangkah ke era baru transportasi udara dengan penandatanganan Letter of Intent (LOI) antara Whitesky Aviation dan AutoFlight di Cengkareng Heliport, Tangerang pada Rabu, 12 Agustus 2026.

LOI ditandatangani oleh Ari Nurwanda, Chief Commercial Officer Whitesky Group, bersama Jia Xie, Senior Vice President AutoFlight, sebagai komitmen kedua perusahaan dalam memperkuat pengembangan ekosistem eVTOL Indonesia.

60 Unit AutoFlight

Kesepakatan ini mencakup rencana pengadaan 60 unit AutoFlight V2000EM Prosperity dengan potensi kumulatif hingga CNY 1 miliar atau sekitar Rp2,7 triliun.

Nilai tersebut mencerminkan skala pengembangan, bukan transaksi yang langsung terealisasi.

Founder Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, mengatakan bahwa pengembangan eVTOL bukan sekadar soal armada.

“Kalau teknologi ini masuk ke Indonesia, nilainya harus lebih besar daripada sekadar pesawat yang beroperasi. Kita perlu membangun infrastrukturnya, kompetensi manusianya, standar keselamatannya, kemampuan maintenance-nya, dan memastikan industri dalam negeri ikut tumbuh bersama,” ujar Denon.

Lebih dari Sekadar Pengadaan

Karena itu, kerja sama ini mencakup aspek sertifikasi, operasional, MRO (maintenance, repair, overhaul), pelatihan pilot dan teknisi, standar keselamatan, regulasi, hingga pembangunan vertiport.

Whitesky juga berencana mengembangkan jaringan helipad yang direncanakan di berbagai wilayah Indonesia menjadi infrastruktur vertiport secara bertahap.

Keberadaan jaringan tersebut menjadi strategis bagi negara kepulauan seperti Indonesia, di mana kebutuhan konektivitas tidak hanya berada di kota besar tetapi juga tersebar di kawasan industri, pusat pariwisata, bandara, wilayah bisnis, dan antarpulau.

Pengembangan bersama AutoFlight merupakan bagian dari roadmap yang lebih luas.

Whitesky saat ini memiliki pipeline hingga 152 unit eVTOL, terdiri dari 122 unit dari produsen China dan 30 unit dari Jepang.

Pengembangan Ekosistem eVTOL Rp7,8 triliun

Dalam skema pembiayaan dan pengembangan jangka panjang hingga 10 tahun, Whitesky memperkirakan keseluruhan potensi nilai pengembangan ekosistem eVTOL dapat mencapai sekitar Rp7,8 triliun.

Nilai tersebut merupakan estimasi berdasarkan tahapan pengembangan bisnis dan tidak merepresentasikan transaksi yang seluruya telah terealisasi pada saat ini.

Whitesky Group juga melihat peluang untuk mempertemukan pertumbuhan electric aviation dengan kekuatan industri lain yang sedang berkembang di Indonesia, termasuk ekosistem baterai dan potensi kolaborasi jangka panjang dengan CATL di Karawang.

Menurut Denon, kemampuan Indonesia menghubungkan sektor-sektor tersebut akan menentukan seberapa besar nilai yang dapat dipertahankan di dalam negeri.

“Masa depan industri tidak dibangun dengan menjadi pembeli terakhir dalam sebuah rantai nilai. Indonesia harus berada di dalam rantai itu, sebagai operator, pengembang infrastruktur, tempat berkembangnya talenta, dan mitra industri global,” jelasnya.

Kolaborasi Whitesky Aviation dan AutoFlight menjadi salah satu langkah untuk membentuk fondasi tersebut dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan Advanced Air Mobility di kawasan Asia-Pacific. (Rmt)

Share This Article