Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Produk UMKM Berbasis Potensi Lokal

By
4 Min Read

 

Kegiatan bertajuk “Pelatihan Pembuatan dan Pemasaran Produk UMKM Berbasis Potensi Lokal” ini digagas oleh tim dosen dan mahasiswa Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Pamulang, yakni Muhammad Gandung, Febri Jepnika, Aditya Dwi Saputra, dan Siti Rahayu Lestari. Sasarannya jelas: pelaku usaha rumahan, anggota Karang Taruna, dan warga yang punya minat merintis usaha, namun selama ini terjegal oleh keterbatasan pengetahuan produksi dan pemasaran.

Usaha Rumahan Yang Jalan di Tempat
Dari hasil observasi awal tim pengabdi, sebagian warga Kavling Batan sebenarnya sudah punya usaha kecil-kecilan, mulai dari makanan ringan, minuman olahan, hingga jasa dan produk kreatif lain. Masalahnya, hampir semua usaha itu berjalan seadanya: tanpa perencanaan produksi, tanpa kemasan yang menarik, tanpa merek, dan tanpa strategi pemasaran yang jelas.

Penjualan pun masih mengandalkan cara konvensional dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar, sehingga jangkauan pasarnya sangat terbatas. Padahal, wilayah ini punya modal yang tak kalah penting: sumber daya manusia usia produktif, kreativitas warga, dan peluang pasar yang kian terbuka lewat teknologi dan media sosial.

“Potensi ini kalau didukung dengan kemampuan mengolah produk dan memasarkannya dengan tepat, UMKM lokal berpeluang tumbuh dan berdaya saing,” demikian inti temuan tim pengabdi yang melatarbelakangi digelarnya program ini.

Empat Jurus : Penyuluhan, Diskusi, Praktik, Pendampingan
Tim pengabdi merancang kegiatan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif lewat empat tahap: penyuluhan, diskusi interaktif, praktik sederhana, dan pendampingan. Materi penyuluhan membahas pengenalan peluang usaha, pemilihan bahan baku, proses produksi sederhana, hingga pentingnya kualitas dan inovasi produk dilengkapi materi pemasaran seputar pengemasan, penentuan harga, dan pemanfaatan media sosial sebagai lapak promosi.

Sesi diskusi interaktif kemudian menjadi ruang curhat sekaligus mencari solusi: warga berbagi cerita soal keterbatasan modal, pemasaran yang masih konvensional, hingga kesulitan mengurus kemasan dan branding. Barulah setelah itu peserta diajak praktik langsung, dan ditutup dengan pendampingan menyusun rencana usaha sederhana yang bisa diterapkan begitu kegiatan usai
Rangkaian acara berlangsung tatap muka, dimulai dari pembukaan, penyampaian materi, sesi tanya jawab, diskusi kelompok, praktik sederhana, hingga penutupan. Tingkat keberhasilannya dinilai secara sederhana lewat pengamatan partisipasi dan antusiasme peserta, serta diskusi reflektif di akhir sesi

Antusiasme Tinggi, Warga Mulai “Melek” Media Sosial
Hasilnya cukup menggembirakan. Tim pengabdi mencatat tingkat partisipasi peserta tergolong tinggi, baik saat penyampaian materi, diskusi interaktif, maupun praktik sederhana — sinyal bahwa kebutuhan warga akan pengetahuan produksi dan pemasaran ini memang nyata, bukan sekadar formalitas kegiatan kampus.

Peserta dilaporkan mulai memahami bahwa potensi di lingkungan sekitar bisa diolah menjadi produk bernilai jual asal dikelola dengan baik, lengkap dengan pemahaman baru soal pentingnya kualitas produk, kemasan yang menarik, serta penentuan harga yang masuk akal di pasar. Yang menarik, banyak dari mereka menunjukkan ketertarikan khusus untuk mulai memanfaatkan media sosial sebagai etalase promosi — sesuatu yang selama ini nyaris tak tersentuh dalam usaha mereka.
Yang Dibawa Pulang Warga :
• Cara mengenali dan mengolah potensi lokal jadi produk bernilai jual
• Pentingnya kualitas produk dan kemasan yang menarik
• Dasar penentuan harga yang sesuai kondisi pasar
• Strategi promosi lewat media sosial
• Rencana sederhana pengembangan usaha yang siap dipraktikkan mandiri

Share This Article