GM Maurice Ashley Sambangi Bintaro, Wagub Banten Ikut Adu Strategi di Papan Catur

By
5 Min Read

Suasana berbeda mewarnai pertemuan Grandmaster (GM) catur asal Amerika Serikat, Maurice Ashley, dengan komunitas pecinta catur di Tangerang Selatan. Di Nongkitiam Bintaro, Sabtu (26/9/2026), Ashley tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga bertemu langsung dengan Wakil Gubernur Banten Dr. H. Achmad Dimyati Natakusumah.

Keduanya terlibat dalam rangkaian kegiatan “Chess for the Next Generation”, sebuah acara yang mempertemukan figur catur internasional dengan komunitas dan atlet muda.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai dan interaktif. Bincang mengenai catur dan generasi muda menjadi salah satu agenda utama, disusul duel catur eksibisi, interaksi bersama atlet muda, hingga penyerahan buku karya Maurice Ashley kepada Wagub Banten.

Kehadiran Ashley di Indonesia sendiri merupakan bagian dari kunjungan pribadi dan liburannya. Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan sejumlah penggemar catur untuk mempertemukannya dengan komunitas catur Indonesia melalui kolaborasi bersama Percasi Banten dan Percasi Tangerang Selatan.

Nama Maurice Ashley memiliki catatan tersendiri dalam sejarah catur dunia. Pada 1999, ia menjadi Grandmaster kulit hitam pertama di dunia.

Selain sebagai pecatur, Ashley juga dikenal sebagai pelatih, komentator, penulis, dan edukator. Selama puluhan tahun, ia aktif membawa catur tidak hanya sebagai olahraga kompetitif, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan kemampuan berpikir.

Dalam pertemuan di Bintaro, Ashley menekankan bahwa manfaat catur tidak berhenti pada kemampuan memenangkan pertandingan.

Setiap langkah di atas papan, menurutnya, mengajarkan pemain untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. Pemain harus membaca situasi, memperhitungkan langkah lawan, melihat berbagai kemungkinan, kemudian menentukan pilihan beserta konsekuensinya.

“Catur lebih dari sekadar permainan. Catur mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, berpikir, menganalisis situasi, dan memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Kemampuan seperti fokus, disiplin, menyusun strategi, dan mengambil keputusan bukan hanya berguna di atas papan catur, tetapi juga dalam kehidupan,” ujar Maurice Ashley.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam konsep Chess for the Next Generation. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk mencari bibit atlet catur, tetapi juga memperkenalkan permainan tersebut sebagai aktivitas yang dapat melatih konsentrasi, kesabaran, kemampuan memecahkan masalah, sportivitas, serta pengambilan keputusan.

Ashley juga mengajak anak muda untuk tidak takut menghadapi kekalahan.

Pengalaman menghadapi kemenangan maupun kekalahan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia catur dan turut dituangkan dalam bukunya, Move by Move: Life Lessons On and Off the Chessboard.

Dalam buku tersebut, Ashley membagikan berbagai pelajaran yang diperolehnya selama lebih dari empat dekade bermain catur, termasuk mengenai mental pemenang, risiko dan pengorbanan, pemecahan masalah, serta bagaimana menjadikan kekalahan sebagai bahan untuk berkembang.

“Saya sangat senang melihat antusiasme terhadap catur di Indonesia dan bisa berbagi pengalaman dengan generasi muda di sini. Saya berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang mengenal catur, menikmatinya, dan mendapatkan manfaat darinya untuk masa depan mereka,” tambahnya.

Adu Strategi di Papan Catur

Suasana acara semakin menarik ketika catur tidak hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi juga dimainkan secara langsung.

Konten kreator catur Mat Sekak yang bertindak sebagai moderator mendapat kesempatan menjajal kemampuan Maurice Ashley di atas papan catur. Interaksi tersebut membuat suasana acara semakin cair sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat langsung permainan seorang Grandmaster dunia.

Wagub Banten Achmad Dimyati Natakusumah yang turut hadir juga mengikuti rangkaian kegiatan bersama Ashley.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan mengenai bagaimana olahraga catur dapat diperkenalkan secara lebih luas kepada anak-anak dan remaja.

Bagi Ashley, salah satu pelajaran penting dalam catur adalah kemampuan mengendalikan diri sebelum menentukan langkah.

Seorang pemain tidak bisa sekadar menjalankan langkah yang pertama kali muncul dalam pikirannya. Ia harus melihat posisi, mengenali ancaman, memperkirakan respons lawan, dan mempertimbangkan kemungkinan yang dapat terjadi setelah sebuah langkah dimainkan.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari apa yang disebut Ashley sebagai “discipline of the mind” atau disiplin dalam berpikir.

Perjalanan dari Brooklyn hingga Grandmaster

Di hadapan komunitas dan atlet muda, Ashley juga menceritakan perjalanan panjangnya mengenal catur.

Ia mulai serius menekuni permainan tersebut ketika masih remaja di Brooklyn, New York. Ketekunan berlatih dan proses panjang menghadapi berbagai lawan kemudian mengantarkannya meraih gelar Grandmaster pada 1999.

Perjalanan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa prestasi tidak diperoleh secara instan. Ada proses belajar, latihan, pertandingan, kekalahan, evaluasi, dan upaya memperbaiki kemampuan yang harus dilalui.

Pengalaman itu pula yang menjadi salah

Share This Article