Susaningtyas Nefo Klarifikasi Pernyataan Tentang Islam dan Terorisme

By
3 Min Read

Pengamat Militer dan Intelijen Dr.Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, memberikan klarifikasi sehubungan dengan simpang siurnya pemberitaan terkait penjelasan dirinya pada Webinar yang diselenggarakan Medcom bertajuk ‘Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?’ yang diadakan Medcom.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Maka saya merasa perlu meluruskannya. Sebagai umat Islam tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio Terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya,” jelas Dr.Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, dalam keterangan tertulisnya, Rabu malam (8/9/2021).

Ia menyampaikan, ajaran Islam yang ia pelajari adalah agama yang cinta sesama manusia, bahkan juga dengan umat beragama lain. slam Rahmatan Lil Alamin.

“Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio Terorisme. Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio Terorisme (Radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut,” terangnya.

Ia mengatakan, tentu saja tidak semua lembaga pendidikan berbasis muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban.

“Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yg sudah meriset hal ini,” kata Nuning.

“Adapun permasalahan meruncing, karena ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalah pahaman kepada saya,” bebernya.

“Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya Indonesia yang adhiluhung dan rasa cinta tanah air Indonesia. Sehingga tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan karena saya ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam Bela Negara,” tambahnya.

Terkait dengan bahasa Arab, kata Nuning, tentu ia sangat respect dengan bahasa tersebut. Menurutnya, ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita yakni bahasa Indonesia.

“Dalam hal ini saya mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya,” tuturnya.

Sebagai catatan, katanya lagi, memang dirinya sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi menangnya Taliban di Afganistan oleh sel-sel tidur terrorisme di Indonesia.

“Terkait hal ini tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya saja. Demikian keterangan saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT dan sehat walafiat. Amin,” demikian dikatakan Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati.(MRZ)

Share This Article