Home Berita Kaprodi Unpam Kaji Kontestasi Islam di Facebook dengan Studi Sosiolinguistik

Kaprodi Unpam Kaji Kontestasi Islam di Facebook dengan Studi Sosiolinguistik

0

Kepala Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Universitas Pamulang, Muhammad Wildan membeberkan kegunaan bahasa yang menjadi Kontesi Islam di Facebook. Hal tersebut dilakukan melalui Studi Sosiolinguistik terhadap kaum aktivis facebook yang berlatar perseorangan, kelompok, dan institusi dalam menggulirkan isu Islam Fundamentalis.

“Dimana Islam fundamentalis dari Islam moderat, dan Islam liberal, bermetamorfosis menjadi kesalehan bahasa sebagai cerminan kesalehan Siber. Kendatipun wajah fundamentalis Iiteralis serta fundamentalis aktivis politis masih mendominasi, karena loyalitas pada institusinya. Namun dengan adanya Islam moderat dan Islam liberal menjadi kekuatan penyeimbang dalam kontestasi gagasan keislaman,” tutur Wildan usai memaparkan Materi Disertasi yang menjadi objek kajiannya.

Menurut Dosen Sastra Indonesia ini, hal ini tercermin saat gaduhnya suasana polhukam yang terjadi di wilayah DKI karena lontaran kalimat yang disampaikan oleh seorang gubernur, sehingga memicu komentar ahli bahasa dan menciptakan tundingan yang melahirkan fenomena dakwah oleh Habib Rizieq di facebook yang semakin marak dimana hal itu berbanding lurus dengan maraknya hujatan antara dua kubu, lantaran penggunaan kalimat yang disebut sebagai kesalehan bahasa.

“Dalam hal ini Facebook dimanfaatkan oleh sejumlah orang dalam rangka kontestasi Islam, termasuk publik figur maupun sebaliknya. Untuk itu, hasil penelitian disimpulkan keislaman seseorang tecermin lewat status yang diunggah ke laman facebooknya. Fenomena semacam ini, penulis cenderung menyebutnya dengan kesalehan siber,” paparnya.

Wildan menyatakan, berdasarkan kacamata Studi Sosiolinguistik menganghap gerakan dan bahasa di media sosial tidak serta-merta bermuatan mengajarkan dan mengajak tentang hal yang baik, melainkan cenderung politis. Karena di baliknya terselip kata tertentu yang memang se-ideologi dengannya, sehingga membuat hal tersebut dalam kontestasinya.

“Mencuatnya hal ini disebut Cyber Army yang dipelopori oleh gerakan fundamentalis dalam rangka mempertahankan ideologi dari serangan gerakan moderat dan liberal. Yang unik dari penelitian ini adalah fenomena kebahasaan yang menjadi pemicu riuh dan gaduhnya perpolitikan di Indonesia kala itu,” tukasnya. (Arf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here